3 Rektor Indonesia Bicara di Simposium Perguruan Tinggi Se Asia Pasifik di Taiwan

0
504
Sumber foto: Istimewa

Ada yang istimewa di Asia University, Taiwan, yang menyelenggarakan Simposium perguruan tinggi se-Asia Pasifik. Istimewanya ketika 3 Rektor Indonesia menjadi pembicara kunci dalam simposium tersebut. Ketiganya dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Diponegoro Semarang, dan Universitas Airlangga Surabaya.

Acara ini merupakan agenda tahunan yang sudah berlangsung selama 4 tahun terakhir. Simposium yang didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan Taiwan ini menjadi salah satu forum penting dalam upaya memajukan pendidikan di Taiwan khususnya, serta Asia Paifik pada umumnya.

Mengambil tema tentang Perguruan Tinggi dan Industri 4.0, acara ini menjadi incaran bagi stakeholder pendidikan untuk memperbaharui perkembangan terkini terkait bagaimana memposisikan perguruan tinggi dalam era industri 4.0.

Dalam paparannya, Rektor UMY menceritakan bagaimana pengalaman kampusnya menghadapi bencana di Indonesia melalui pendekatan teknologi informasi. Letak Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng tektonik, serta dikelilingi oleh barisan gunung berapi aktif, membuat bencana menjadi bagian hidup kehidupan masyarakat.

Seiring dengan kemajuan teknologi yang ada, Gunawan Budiyanto memaparkan bahwa UMY sebagai salah satu kampus terkemuka di Indonesia yang berusaha memadukan teknologi informasi sebagai bentuk kewaspadaan dan peringatan dini akan kebencanaan di Indonesia.

Sumber: asia.edu.tw

Sebagai contoh adalah tentang pemetaan bencana di Yogyakarta yang menggunakan teknologi informasi sebagai alatnya. Bahkan di UMY sendiri menjadikan bencana sebagai kajian khusus dengan dibentuknya Pusat Studi Bencana UMY. Selain itu, dengan komitmen yang tinggi, UMY juga menginisiasi banyak akademisinya yang terlibat dalam studi bencana dari berbagai perspektif bidang ilmu.

Dalam sesi yang lain, Rektor Unair juga memaparkan bagaimana memadupadankan kemajuan teknologi dalam kurikulum akademiknya. Di Unair, mahasiswa dibekali dengan softskill agar mampu bersaing dalam dunia kerja yang saat ini memasuki era industry 4.0.

Pun begitu dengan Undip. Rektor Undip memberikan gambaran perspektif lain tentang bagaimana industry 4.0 juga menjadi focus dalam kajian akademiknya.

Industri 4.0 yang menitikberatkan pada penggunaan teknologi informasi dalam pelaksanaannya, adalah sebuah keniscayaan dalam dunia kerja saat ini. Walaupun di Indonesia sendiri industry 4.0 belum menjadi trend bagi segenap industri di Indonesia, namun dalam beberapa tahun kedepan, diyakini bahwa banyak industri yang akan menggunakan teknologi informasi untuk mempercepat laju bisnisnya dan sedikit demi sedikit mengganti peran manusia dalam beberapa bidang.

Simposiun dibuka secara resmi oleh The Founder of Asia University, Mr. Chang-Hai Tsai. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa forum ini sengaja diadakan setiap tahunnya untuk menjembatani perguruan-perguruan tinggi di Taiwan maupun di Asia Pasifik untuk bertatap muka dan berbagi informasi tentang tema-tema terbarukan. Acara yang berlangsung pada 20 hingga 21 November 2017 ini dihadiri tak kurang dari 200 peserta.

Sumber: asia.edu.tw

Melalui berbagai sesi yang dipandu oleh moderator, banyak pimpinan perguruan tinggi dari berbagai kampus di Asia Pasifik yang memberikan contoh nyata bagaimana menerapkan teknologi informasi menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengembangan akademik di perguruan tinggi.

Selain itu, simposium ini juga semakin menguatkan keyakinan bahwa perguruan tinggi kedepannya harus lebih banyak mengambil peran dalam menyiapkan sumber daya manusianya yang unggul untuk memasuki sebuah era yang menjadikan teknologi sebagai basis utama penggerak roda bisnisnya.

Penulis:
Andi Azhar
S2 Asia University Taiwan
(Kontributor Swara Kampus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here