Tayang Perdana SwaraKampus.com Langsung “Menggebrak”

0
802
Redaksi Swarakampus.com beserta narasumber, rekan-rekan mahasiswa yang hadir dalam talkshow launching.

Kabar gembira bagi mahasiswa yang memiliki hobi menulis. Swara Kampus hadir kembali dengan wajah dan idenntitas baru. Tidak lagi dalam bentuk cetak melainkan online.

Ya, Swara Kampus telah bertransformasi menjadi sebuah media berita portal bernama SwaraKampus.com. Baru saja dilaunching di Hotel Neo Awana, Yogyakarta, Kamis (16/11).

Kehadiran SwaraKampus.com begitu mengundang antusias mahasiswa saat menghadiri peluncurannya. Gebrakan awal pun dilakukan dengan menggelar talkshow bertajuk “Pahlawan Palsu di Era Digital”.

Talkshow menghadirkan pembicara diantaranya Muhammad Nur Rizal, PhD (dosen FT UGM), Bambang Arianto, MA (LPPM UNU) dan, Erwin Razak (Aktivis Perhimpunan Indonesia). Bertindak selaku moderator, Hendris (DEMA Fishum UIN).

Melalui takshow ini Swara Kampus mengajak mahasiswa mendiskusikan perihal dunia maya. Tidak kurang Presiden Jokowi, kemeninfo hingga pemerintahan negara-negara lain sudah dibikin “repot” oleh efek negatif yang ditimbulkan oleh linimasa ini.

Mayarakat Indonesia menurut Muhamad Nur Rizal sedang mengalami “gagap teknologi”. Peralatannya canggih namun penggunanya masih menggunakan pola pikir abad 19. Hal inilah menurutnya yang harus dikritisi oleh kaum muda, khususnya mahasiswa.

“Pahlawan palsu di era digital bagi saya adalah orang-orang yang menggunakan teknologi secara kontra produktif. Memproduksi berita hoax, menegatifkan orang yang tidak disukainya, atau sekadar eksistensi diri,” terangnya.

Dari itu, masih menurut Rizal, kita membutuhkan sistem pendidikan yang mendidik anak menjadi kreatif dan kritis dalam mengelola informasi yang melimpah menjadi “added value”.

Maka ekologi dan pembelajarannya harus inovatif dan multi-stimulan agar setiap potensi seni, olahraga, intelektual dan karakter anak berkembang optimal.

“Kita sudah tidak membutuhkan sistem pendidikan kuno yang lebih berfokus pada kurikulum dan transfering pengetahuan ansih. Bagi mahasiswa sendiri, salah satu cara mencegah virus kontra produktif tadi dengan belajar bagaimana menulis yang baik dan benar,” demikian pandangan Rizal.

Sependapat dengan Rizal, Bambang Ariannto bahkan lebih ekstrim menantang dan mengajak mahasiswa menjadi bagian dari buzzer. Cara-cara berita negatif yang beroperasi secara terstruktur dan sistematis juga harus dilawan dengan cara yang sama.

“Namun yang saya maksud adalah buzzer yang pancasilais. Yang berani melawan nilai-nilai intoleransi, radikalisme dan lain-lainnya itu. Karena jika tidak, maka ketidakbenaran menjadi sebuah kebenaran dan sebaliknya. Ini bahaya,” ujar Bambang.

Sedangkan Erwin Razak mencoba berpikir historis, bahwa tidak pernah terbayang dalam pikirnya jika Indonesia seperti Korea Utara, di mana penggunaan gadget dilarang. Akses internet hanya dimiliki negars. Untuk itu ia bersyukur di Indonesia ada kebebasan.

“Setiap negara memiliki nilai-nilainya sendiri dan Indonesia ada pancasila. Sudah sepantasnya warga net menjunjung nilai itu dalam setiap aktivitas kehidupannya. Manfaatkan saja SwaraKampus.com sebagai media belajar sekaligus menulis di sana,” saran Erwin.

Satu kesimpulan dari talkshow disampaikan Hendris selaku host bahwa untuk menjadi seorang pahlawan digital maka harus menulis. Karena sebuah tulisan mampu menggerakkan, baik kesadaran diri hingga kebijakan yang dikeluarkan. Itulah kekuatan menulis.

“Gebrakan” awal SwaraKampus.com melalui talkshow ini sepertinya berhasil menggugah mahasiswa dalam melontarkan beberapa pertanyaan kritis pada sesi dialog.

Gebrakan akan berlanjut karena seperti yang disampaikan Pimred SwaraKampus.com bahwa media ini memang miliknya kaum muda, “Silahkan dimanfaatkan dan kami sangat terbuka bagi setiap aspirasi yang diwakili terutama oleh mahasiswa,” ungkap Krisno Wibowo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here