Foto Selfi dan Status Alay Yang Bikin Gaduh

0
600

Masih ingat kasus curhatan SBY dan Fahri Hamzah (FH)? ? Awalnya biasa saja membaca cuitan yang kemudian menjadi viral. Gayanya memang berbeda meski substansinya sama “mengkritisi” kondisi bangsa. SBY terkesan berkeluhkesah menuliskan,Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah dan penyebar ‘hoax’ berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? Sementara Fahri cenderung “marah” dengan kata-kata sarkas mengatakan Anak bangsa (TKI) mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela… Siapapun punya pendapat, namun perlukah dipublikasikan?

Masyarakat pun bereaksi keras mengkritik cuitan kedua tokoh tersebut (ada pula yang membelanya). Bak menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri, inginnya nabok pemerintah malah dirinya sendiri yang tertabok. Klarifikasi pun diperlukan dan disampaikan bahwa tidak seperti yang ditafsirkan. Atau menjelaskan bahwa sama sekali tidak bermaksud demikian. Apapun, orang sudah terlebih dahulu membaca dan mengetahui dan untuk selanjutnya akan membentuk opini (setidaknya sebuah catatan), bahwa kepribadian orang tersebut adalah seperti itu (bagi politisi, pencitraan menjadi penting).

Sering pula kita melihat postingan dari teman atau pertemanan di dunia maya(dumay) berupa foto selfi dan status baper. Mengapa netizen senang mengungkapkan perasaannya di medsos? Seperti sering saya katakan bahwa sebuah produk jurnalis itu adalah sebuah pesan(berkait dengan tulis menulis dan atau foto/gambar, meski tidak selalu berita resmi), tidak ada yang iseng atau tiba-tiba ada begitusaja. Apa yang dilakukan netizen pada statusnya adalah sesuatu yang memang dia sadari dibuat, dengan tujuan tertentu (mungkin hanya dia yang tahu).

Pesan-pesan di status, baik yang tersurat (eksplisit) maupun tersirat (implisit), itu yang menjadi persoalan. Masyarakat kita cenderung menggunakan media online masih sebatas untuk kepentingan eksistensi diri (kembalinya kepada diri sendiri), sebagai contoh: mengagumi diri sendiri dengan memasang foto selfi. Ketika ada yang memberi komentar cantik atau ganteng, maka dibalas dengan ucapan terima kasih. Atau ada pula yang komen, Wah sedang di LN ya, pemandangannya bagus deh, di mana tuh?Ditanggapi balik, Iya nih sedang liburan di KL.

Ada lagi membuat status yang sifatnya sangat pribadi, seperti Dah ngantuk, tapi kok blom bisa bubuk, enaknya ngapa eeaaaa….? Pada dasarnya netizen ingin menunjukkan keberadaan dirinya“ini lho aku…”, tidak peduli apakah pesan itu penting atau tidak bagi pembacanya. Jika mendapat komentar dan like yang banyak sudah pastilah senang, sebaliknya merasa kecewa jika tidak ada yang merespon, atau jangan-jangan netizen itu memang butuh perhatian? Butuh ditemani dan butuh dikomentari, karena pada akhirnya jadi asyik juga berceloteh di dumay.

Anehnya lagi, orang lain yang baper tetapi mengapa kita yang repot-repot memikirkan? Kadang kita berpikir jengkel atau sekadar menyindir si pembuat status. Apakah kita mengenal orang tersebut? Tidak juga. Apakah kita merasa peduli dengan statusnya, sangat penting ataupun dibutuhkan? Sama sekali tidak, lantas mengapa sibuk memikirkan? Siapa juga suruh memikirkan? Tapi kan saya melihat dan membaca, rasanya risih saja kalau ada status alay atau baper seperti itu? Bayangkan, ketika orang biasa membuat status baper saja sudah banyak yang komen miring, apalagi jika orang penting?

Mengapa kita tidak pernah membayangkan begini, dumay itu seperti dunia yang nyata (duta). Jika kita sedang online diantara teman yang memang kita kenal dan ada juga teman yang belum dikenal akrab, bahkan publik (tidak berteman sama sekali), hal ini sama ketika kita sedang berada di tengah-tengah orang banyak. Bayangkan kita sliwar-sliwer dengan wajah serta dandanan yang kita kehendaki (jika di online ya semacam memajang foto lah), kemudian beberapa mata memandang anda, ada yang sekadar tertarik (hanya membatin), ada yang mengagumi (mengatakan langsung “hai cantik”), ada pula yang mencoba nakal mendekat dan menggoda dengan siulan-siulan.

Padahal yang membedakan antara dumay dengan duta adalah antara tulisan dengan lisan, antara foto/gambar dengan fisik yang nyata, sedangkan pikirannya sama. Padahal, dalam sebuah komunikasi, hal terpenting adalah “pikiran”, tidak perduli dia wujud nyata atau maya. Kita bisa saja mengatakan,inikan dumay, jadi bebas-bebas saja mau berkata apa dan mau memasang foto diri seperti apa. Apa yang dishare akan membentuk imagebagaimana diri kita di pikiran orang-orang, dan jangan salahkan orang lain dalam menilai image kita. Sama juga dengan orang-orang di dunia sesungguhnya akan melihat bagaimana penampilan, sikap dan lisan kita.

Poin dari tulisan ini adalah berhati-hatilah membawa diri dan ucapan serta menuangkan pikiran (baik di dumay maupun duta), karena akan ada penilaian. Penilaian yang bersifat hanya sebagai catatan pribadi dari orang lain sih tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah bila kemudian orang lain akan menemukan celah memanfaatkan anda hingga mengalami kerugian atau bahkan hal buruk lainnya (sudah banyak kasus). Berbagi saja akan hal-hal yang memang dianggap penting ataupun dibutuhkan untuk diketahui orang banyak (publik). Jangan terlalu mengungkap perasaan dan atau masalah pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here