Pahlawan Palsu di Era Digital

1
688

Siang hari di sebuah ruangan hotel Neo Awana Yogyakarta terlihat penuh oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, Kamis (16/22). Mereka berdemo? Ternyata tidak.

Mahasiswa antusias mengikuti talkshow bertajuk “Pahlawan Palsu di Era Digital”. Talkshow merupakan bagian dari acara launching media berita portal baru SwaraKampus.com.

Bambang Arianto, dalam paparannya menyampaikan, jika ingin menjadi pahlawan digital, maka mahasiswa harus berani menjadi buzzer, influencer ataupun follower yang berwatak pancasilais.

“Dengan mengedepankan konten kreatif tapi kritis dan jauh dari diksi sektarianisme apalagi rasisme. Sebab harapanya dapat berjuang bersama-sama menandingi hoax di ranah digital,” ujar Bambang dari LPPM UNU tersebut.

Sementara itu Erwin Razak, seorang aktivis sosial, lebih banyak mengeksplor soal media yang dapat dimanfaatkan sebagai alat perjuangan mahasiswa. Ia juga sempat membandingkan gerakan mahasiswa zaman old dengan now.

Sumber foto: monapearl.com

“GM era 98 banyak kelompok studi di kampus atau ekstrakampus yang bergerak dari kegelisahan atas keadaan. Pertemuan tertutup atau terbuka untuk mendiskusikan situasi nasional sering digelar. disertai dengan banyak membaca buku atau referensi,” tuturnya.

“Mahasiswa aktivis belajar propaganda lewat tulisan di media cetaknya sendiri. Tidak ada media darling yang membantu seperti zaman sekarang,” kenang Erwin yang juga merupakan aktivis Perhimpunan Indonesia itu.

Sedangkan Muhammad Nur Rizal PhD, dosen FT UGM, menekankan bagaimana fenomena media online ini harusnya disikapi sebagai tantangan dan tuntutan zaman, bukannya dihindari ataupun dienyahkan.

“Saat ini, kita hidup di era digital era web 2.0 di mana user memiliki keleluasaan menjadi penentu informasi apa/mana yang akan dibaca atau didistribusikan. Sehingga aplikasi seperti media online menjadi pilihan utama,” ungkapnya.

Menurut Rizal yang juga penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan tersebut, platformnya koran, tv dan radio semakin berlawanan dengan web 2.0. Akibatnya koran dll lambat laun akan ditinggalkan.

Sumber foto: Freevector.com

“Pembaca di era disruptive teknologi ini lebih memilih media yang interaktif, kolaboratif, inter-koneksi sehingga pembacalah yang menjadi pengontrol informasi,” pungkasnya.

Launching media SwaraKampus.com ditandai menampilkan halaman Swara Kampus online melalui layar sorot kepada peserta workshop. Mahasiswapun tampak riuh saat diminta membuka link melalui smart phone milik mereka.

Pada kesempatan itu, beberapa perwakilan mahasiswa menyampaikan harapan terhadap SwaraKampus.com. Mereka masih berharap Swaka Online tetap menjadi media pencerah kaum muda sekaligus wadah aspirasi mahasiswa.

Selamat Datang Swaka Online.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here