Menilik Detikcom dan Masker dari Tisu Basah

0
65
Foto: Istimewa

Baru-baru ini banyak himbauan mengenai wabah corona, seperti harus rajin mencuci tangan dan wajib mengenakan masker ketika bepergian. Hal ini mengakibatkan banyak orang membuat tips dalam membuat masker sendiri. Bahkan salah satu media terpercaya pun turut mengunggah tips membuat masker dari tisu basah di portal dalam jaringan (daring) mereka. Media tersebut adalah detik.com.

Dalam artikel yang berjudul “Viral Cara Bikin Masker dari Tisu Basah, Bisa Nih untuk Darurat” tersebut disebutkan cara untuk membuat masker dari tisu basah. Artikel berita tersebut terlihat menjadikan salah satu video yang diunggah di Instagram sebagai acuannya. Dalam berita tersebut dikatakan “Baru-baru ini beredar sebuah video yang menggambarkan cara bagaimana membuat masker dari tisu basah. Video yang diunggah akun @indonesiavoice di Instagram ini sudah dilihat 14.952 orang, berdasarkan pantauan terakhir Detikcom pada (2/3/2020)”. Selain itu mereka membuat artikel berita tersebut tanpa mengonfirmasi kepada para ahli. Tanpa mempertimbangkan apakah tisu basah aman dihirup dalam waktu yang lama.

Disebutkan dalam Pedoman Pemberitaan Media Siber (PPMS, 2012)), bahwa “sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya, kredibel dan kompeten”. Namun, bila dilihat dari berita mengenai masker dari tisu basah di atas, maka berita itu bukan berasal dari sumber yang jelas. Berita tersebut hanya menjelaskan kembali video yang dilihatnya di Instagram. Tidak ada verifikasi dan konfirmasi lebih lanjut apakah hal tersebut aman atau tidak. Selain itu penulis juga tidak mencari sumber yang kredibel dan kompeten mengenai hal ini. berita tersebut telah terbit sejak tanggal 2 Maret 2020 hingga kini. Entah berapa banyak orang yang telah membaca bahkan mengikuti tips yang diberikan, mengingat Detikcom merupakan media yang cukup besar dan dikenal. Padahal banyak artikel yang kemudian mengkonfirmasi bahwa mengganti masker dengan tisu basah justru berbahaya bagi paru-paru. Salah satunya adalah artikel berjudul “Viral Tisu Basah Jadi Pengganti Masker, Ternyata Malah Berbahaya untuk Paru-paru”. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa mengganti tisu basah menjadi masker dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan.

Ahli Laboratorium RSUD Bekasi, dokter Abas Suherli (dalam Lova, 2020) menjelaskan penggunaan tisu basah sebagai pengganti masker justru berbahaya. Hal ini dikarenakan tisu basah mengandung antiseptik untuk membunuh kuman. Sehingga, berbahaya jika tisu basah itu diletakkan wajah dan dihirup. Jika dihirup dalam jangka waktu yang cukup lama akan mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan. Sehingga, melihat apa yang dikatakan oleh ahli laboratorium dapat dikatakan bahwa artikel yang diunggah oleh Detikcom mengenai mengganti masker dengan tisu basah merupakan berita yang menyesatkan.

Disebutkan dalam PPMS (2012) bahwa berita yang diunggah tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul. Sementara berita mengenai mengganti masker dengan tisu basah itu merupakan berita yang dapat dikatakan bohong.

Dari segi judul saja dapat mengundang pembaca untuk percaya bahwa hal itu aman dan efektif. Sebagaimana judulnya berbunyi “Viral Cara Bikin Masker dari Tisu Basah, Bisa Nih untuk Darurat”. Kemudian disebutkan pula dalam dalam PPMS (2012), media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir (c), yang salah satu poinnya berbunyi tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul, sesegera mungkin secara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima. Namun, hingga 12 April 2020, artikel berita tersebut masih belum dihapus bisa diakses dengan bebas dan dibaca oleh banyak orang. Entah sudah berapa banyak orang yang membaca dan mengikuti tips dari media ersebut.

Portal berita daring sekelas Detikcom seharusnya sangat memperhatikan apa yang diunggah di portal beritanya. Mengingat portal berita ini cukup dikenal masyarakat, namun ternyata melakukan pelanggaran Kode Etik Jurnalisme (KEJ) dan PPMS.

Yuni Indra Chatarina

Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here