Kunjungan Studi Mahasiswa Psikologi UP45 di Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY

0
48
Foto: Istimewa

Kunjungan Studi Mahasiswa Psikologi UP45 di Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Kehadiran 64 mahasiswa perwakilan dari Fakultas Psikologi disambut dengan hangat oleh Kepala Seksi Penunjang Sarana Non Medik Ibu Tuti Handayu, SKM. Dijelaskan tentang Sejarah dan ruang lingkup pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Jiwa Grhasia, di Grha Ganesha, RSJ Grhasia yang beralamatkan di Jl. Kaliurang KM. 17, Pakembinangun, Sleman, DIY (7/3/2020).

Psikolog RSJ Grhasia, Ibu Aril Halida M.Psi., memaparkan materi tentang gejala gangguan jiwa dan sharing kasus pasien yang sering dihadapi oleh profesi psikolog yang bertugas di Rumah Sakit Jiwa. Materi tersebut berjudul “Mental Health and Its Ilness”. Diungkapkan bahwa sebagian orang sangat mantap saat menjawab pertanyaan “Apakah anda sehat?”. Namun ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan “Apakah anda sehat jiwa?”. Hal tersebut disebabkan karena kekurangpahaman orang bagaimana indikator orang sehat jiwa, dan kurangnya literasi tentang jiwa. Kebanyakan orang merasa malu atau enggan saat berobat di klinik kejiwaan, karena orang yang berobat di kejiwaan biasanya akan ditolak oleh keluarga atau komunitasnya.

Gangguan jiwa merupakan ketidaksehatan jiwa yang berefek mengganggu kenyamanan dan mempengaruhi fungsi sosial seperti kemampuan untuk bekerja dan melakukan kegiatan sehari-hari. Suatu gangguan jiwa tidak bisa disebabkan hanya  melalui satu faktor saja, setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan seseorang bisa mengalami perilaku abnormal atau gangguan jiwa. Diantaranya faktor Biologis, Psikologis, Sosial, dan Spiritual. Dalam pemaparannya bu Aril juga menyampaikan mengenai jenis gangguan jiwa secara spesifik, antara lain Anxiety Disorder, Obsessive Compulsive Disorder, Substance Use Disorder, Anorexia Nervosa, Bipolar Disorder, dan sebagainya dimana hampir semua gangguan mental tersebut dapat muncul pertama kali di usia remaja.

  Selain gangguan jiwa, Ibu Aril juga menyampaikan bagaimana seseorang bisa mengalami depresi. Depresi salah satunya disebabkan karena penurunan serotonin dan nor epineprin dalam otak. Serotonin merupakan hormon yang mengatur perasaan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung murung dan sedih. Nor epineprin merupakan hormon yang mengatur kekuatan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung hilang minat, malas, atau lemas.

“Schizophrenia merupakan penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Gejala pada Schizophrenia diantaranya delusi/waham, halusinasi, pikiran dan perkataan kacau, gerakan aneh, dan hilangnya ekspresi emosi”, jelas Bu Aril pada akhir materi.

Kepala Instalasi Diklat Ami Tursina, AMK, S.Pd, M.Psi., menjelaskan tentang peraturan tata tertib kunjungan. Pihak rumah sakit juga menyatakan bahwa jumlah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dirawat di RSJ Grhasia mengalami penurunan. Dari angka 150 hingga 200 pasien, kini hanya 90 hingga 100 pasien. Hal ini diduga bukan disebabkan oleh menurunnya jumlah ODGJ di masyarakat, tetapi karena masyarakat cenderung menganggap bahwa memiliki anggota keluarga yang mengidap gangguan jiwa merupakan suatu hal yang memalukan. Jadi masyarakat cenderung “menyembunyikan” keberadaannya. Selain itu, kesulitan rujukan BPJS ke Rumah Sakit, membuat ODGJ tidak dapat ditempatkan di tempat yang sebagaimana mestinya.

Foto: Istimewa

Mahasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan observasi dengan berkeliling bangsal yang ada di RSJ Grhasia, yaitu di Wisma Srikandi, dan Arjuna. Wisma Arjuna untuk pasien laki-laki yang baru saja masuk sebagai pasien rawat inap di RSJG. Sedangkan Wisma Srikandi untuk pasien perempuan yang sudah dalam fase maintanance dan sudah bisa diajak berkomunikasi. Pada fase maintanance di RSJG diberikan kegiatan rehabilitasi mental berupa kegiatan las, futsal, musik, membatik, pertanian, dan pendekatan kerohanian.

“Kunjungan Studi di Rumah Sakit Jiwa Grhasia memberikan kami banyak tambahan pengetahuan. Kami menjadi mengetahui tentang bagaimana suatu depresi dapat terjadi, gejala schizophrenia, jenis gangguan jiwa, dan tata laksana pada pasien gangguan jiwa. Kami berharap kegiatan ini sering dilakukan agar mahasiswa Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta kian peka terhadap keadaan orang di sekitarnya, dan bersemangat menggali sesuatu dari keilmuan yang dipilihnya”, ungkap Alia (mahasiswa).

Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A., selaku dosen pendamping kegiatan menjelaskan adapun tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menambah wawasan agar mahasiswa lebih memahami tentang gangguan jiwa dan cara penanganannya. Kunjungan studi ini diharapkan mampu mengajak mahasiswa agar dapat mengenal lebih dekat dan belajar pada institusi yang berhubungan langsung dengan pengaplikasian ilmu Psikologi. Mahasiswa pun akan lebih terbantu untuk memahami teori yang selama ini mereka pelajari.

Penulis:

Wahyu Relisa Ningrum

Universitas Mercu Buana Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here