Konde, Kekuasaan dan Politik Perempuan

0
133

Dunia perpolitikan identik dengan laki-laki. Perempuan masih dianggap barang tabu yang tidak memiliki otoritas atas  politik. Adanya pengaruh patriarki membuat jumlah perempuan yang terjun di dunia politik begitu kecil.

Perbedan gender (gender differences) antara laki-laki dan perempuan berlangsung terus-menerus dalam sejarah yang sangat panjang dan kompleks hingga sekarang. Perbedaan ini dibentuk, diasosiasikan, serta diperkuat bahkan dikonstruksikan secara sosial sehingga banyak yang menganggap sebagai ketentuan dari Tuhan, sehingga perbedaan gender dianggap sebagai kodrat.

Pandangan terhadap gender ternyata menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu emosional sehingga perempuan tidak dapat menjadi pemimpin. Anggapan ini menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak penting.

Keterwakilan perempuan dalam politik, terutama di lembaga perwakilan rakyat, bukan tanpa alasan mendasar. Hal ini disebabkan setelah pemilu 2004 muncul wacana tentang kuota perempuan 30 persen. Sampai akhirnya Undang-undang  Pemilu  menetapkan kuota 30 persen perempuan harus dilakukan pada pemilu 2009. Dengan UU ini eksistensi perempuan di ranah politik lebih diperhatikan.

Perempuan yang menjalankan peran ganda yakni peran reproduktif dan peran produktif, di dalam maupun di luar rumah, diyakini juga mampu menjalankan perannya di ranah politik. Representasi  di  ruang politik diharapkan  meningkatkan jumlah perempuan yang ikut andil dalam memperkuat partisipasi.

Keunikan perempuan yang memiliki ketelitian dan kehati-hatian dalam memilih sesuatu dinilai mampu mengantarkannya sebagai  pemimpim dalam menyampaikan aspirasi masyarakat dengan baik. Pemilu tahun 2019 melibatkan banyak perempuan di partai politik, mulai dari kalangan artis maupun masyarakat biasa. Bahkan perempuan muda generasi milenial turut andil di ruang legislatif.

Faktor utama yang membuat perempuan terpilih yakni  investasi sosial, dukungan finansial, keluarga serta jaringan sosial yang telah dibangunnya. Faktor keberhasilan terpilihnya perempuan sebagai anggota legislatif pada khususnya adalah karena investasi sosial, kemudian adanya bantuan dari partai politik tempat perempuan bernaung.

Banyak hal menarik jika ingin membahas tentang perempuan, bahkan apa yang dikenakannya pun menjadi daya tarik dan perbincangan  yang mendatangkan nilai komersial. Inilah yang lebih disoroti oleh media. Penampilan  perempuan adalah modal, mulai dari sepatu, baju, konde, aksesoris, bahkan make up pun menjadi perbincangan.

Setiap pakaian apapun material dan desainnya mencerminkan ideologi yang bersifat aktif dan pasif. Ia adalah penanda yang akan dikomunikasikan, ada pesan yang tersurat dan bahkan menjadi simbol perlawanan. Keikutsertaan artis di dalam dunia politik, menjadikan isu politainment, percampuran antara politik dan hiburan,  segala tingkah dapat menjadi perbincangan publik.

Peningkatan peran perempuan di politik tidak dilihat dari peningkatan jumlah  yang aktif dalam kepengurusan partai politik atau terpilihnya sebagai anggota legislatif, tetapi  dari meningkatnya keefektifan dan dampak nyata yang mereka hasilkan. Selain itu,  perempuan turut andil dalam perubahan  tata peraturan kelembagaan, norma-norma dan praktik, serta meningkatnya hak-hak bagi sesama perempuan untuk meretas ketidakadilan gender demi meningkatkan taraf hidup perempuan pada umumnya.

Perempuan sebagai pusat perhatian haruslah mengkomunikasikan apa yang ia pakai sebagai pertanda keintelektualan dan keterlibatannya dalam menjalankan amanah yang diberikan rakyat. Dunia perpolitikan bukan tentang siapa yang lebih berkarisma namun siapa yang lebih mampu memperjuangkan hak masyarakat yang telah dirampas dan menjadikannya lebih bermartabat.

Penulis : Ummul Pertiwi Fiqri, Konsentrasi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam, UIN Sunan Kalijaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here