Refleksi Kasus Parenting Pada Masyarakat Sorosutan

0
49
Foto: Istimewa

Sorosutan merupakan sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Umbulharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Permasalahan yang cukup meresahkan bagi masyarakat akhir-akhir ini yaitu maraknya kasus kekerasan di kalangan remaja. Upaya pencegahan dan mengurangi resiko kasus kekerasan tersebut maka pemerintah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menanganinya. Seperti kegiatan refleksi kasus parenting yang telah terlaksana di ruang pertemuan kelurahan Sorosutan, (3/11/2019).

“Setiap keluarga memiliki cara mendidik anak di rumah dalam menumbuhkan budi pekerti dan budaya prestasinya. Orang tua perlu terus belajar untuk menyesuaikan perkembangan anak dan zaman”, demikian diungkapkan oleh Drs. Rumpis Trimintarta selaku Camat Umbulharjo dalam kata sambutannya. Lebih dijelaskan tentang peran pemuda, remaja dalam pembangunan, “Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda, remaja memiliki peran yang sangat strategis. Bukan hanya eksistensinya, yang akan mengisi kepemimpinan di masa depan, melainkan juga pada saat ini”, jelas Rumpis.

Polana Setiya Hati, S.SI, MM., perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Yogyakarta menjelaskan bahwa dalam acara tersebut para tokoh masyarakat Sorosutan difasilitasi untuk melakukan refleksi kasus bersama dengan pihak kepolisian serta kalangan akademisi. “Sasaran peserta sejumlah 100 orang, meliputi perwakilan jajaran pemerintahan Camat, Lurah, RT/RW,  anak usia SMP-SMA dan perwakilan para orangtua”, jelas Pola.

Remaja masa kini memiliki banyak kerentanan dan masalah-masalah yang mengancam masa depannya. “Masalah-masalah remaja yang dihadapi saat ini misalnya meningkatnya jumlah remaja yang terlibat aksi kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, kehamilan tidak diinginkan”, ungkap Iptu. Kardiyana dari Polresta Yogyakarta.  Ekan Suliandari, Psikolog dalam kegiatan ini lebih memberikan pendampingan cara pengelolaan emosi pada para remaja.

Sesi terakhir yaitu penyampaian materi psikologi yang disajikan oleh Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A. Acara pun semakin marak dengan berbagai pertanyaan yang diungkapkan oleh para peserta. Antara lain yaitu, pertanyaan dari bapak Subandono (RT49), Bagaimana caranya menghadapi untuk membatasi anak yang selalu bermain hp, marah ketika diperingatkan? Jawab Wahyu, silakan diskusi dengan anak, buat semacam kesepakatan dan penting kita mengetahui aplikasi apa yang sering digunakan anak dalam hp nya.

Pertanyaan bapak Yulianto (RT52), Putri saya SMP, dulu begitu dekat dengan saya dan memiliki hobi sama dengan saya yaitu mendengarkan lagu. Namun sekarang dia lebih suka menyendiri, gaya bicaranya kurang bersahabat seperti beberapa teman-temannya. Bagaimana cara agar saya dapat dekat dan berkomunikasi baik seperti dulu lagi? Jawab Wahyu, sewajarnya di usia SMP anak cenderung lebih dekat dengan teman sebayanya. Alternatif agar orang tua tetap bisa dekat dengan anak yaitu orangtua harus mampu bersikap sebagai seorang teman, sahabat yang bagi anak.

Pertanyaan bapak Jubandi RT(50), Bila orangtua, keluarga merupakan pembentuk karakter bagi anak, bagaimana cara membentuk karakter yang baik padahal ada lingkungan juga yang mempengaruhi? Jawab Wahyu, hendaknya orangtua menanamkan nilai-nilai positif sejak usia dini.  Ketika anak tumbuh dan berkembang di usia remaja, berikan perhatian, kebebasan dan kepercayaan agar anak juga belajar untuk bertanggungjawab.

Pertanyaan ibu Junayah (RT51), Bisakah kami diberikan contoh-contoh perilaku kenakalan remaja dalam bentuk film agar kami lebih bisa paham hal apa saja yang sering dilakukan oleh remaja saat ini yang mungkin tidak kami ketahui? Jawab Pola, baik bisa, ini sebagai masukan bagi kami untuk menyajikan film tentang kenakalan remaja.

Foto: Istimewa

Pertanyaan bapak Syukur (RW13), Saat ini sering ada berita tentang terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh remaja. Bagaimana membangun sikap mental terkait dengan spiritual bagi remaja? Jawab Wahyu, teladan dari orang tua sangat penting. Remaja cenderung lebih bisa menerima dan memahami contoh nyata daripada nasehat atau sekedar teori. Kondisi keluarga yang harmonis akan membentuk sikap mental yang kuat bagi remaja.

“Hendaknya keluarga dapat menjalankan fungsinya yakni dengan mencipatakan komunikasi yang efektif antar anggota keluarga, memberikan dukungan, perhatian dan kepedulian terhadap remaja serta memiliki kemampuan untuk mengontrol perilaku remaja agar tidak ke arah perilaku negatif melainkan mengarahkan remaja untuk meregulasi diri dalam proses perkembangannya dan membentuk menjadi individu yang memiliki daya juang”, tandas Wahyu.

Penulis:

W.Relisa N.

UMBY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here