Parenting di Era Milenial

0
40
Foto: Istimewa

Pengasuhan interaksi antara orangtua dan anak dalam proses tumbuh kembang, yang lebih dikenal dengan parenting perlu disegarkan kembali di tengah-tengah orangtua. Parenting di era milenial lebih mengutamakan terjalinnya komunikasi yang efektif dan kontinue  antara orangtua dengan anak. Hal ini sejalan dengan pemerintah kota Yogyakarta yang beberapa waktu yang lalu, tepatnya (2/11/2019) mensosialisasikan anti kekerasan kepada masyarakat. Kegiatan yang telah terlaksana antara lain pelatihan anti kekerasan bagi orangtua dan anak di era milenial yang berlangsung di ruang pertemuan Kelurahan Ngampilan, jl. Purwodiningratan No 922, Kota Yogyakarta DIY.

Pelatihan anti kekerasan bagi orangtua dan anak di era milenial sebagai bentuk nyata dalam upaya pencegahan dan mengurangi resiko berulangnya kejadian kekerasan. Pelatihan tersebut melibatkan remaja yang didukung berbagai pihak baik tokoh masyarakat, pihak Kepolisian dan kalangan akademisi.

Ir. Edy Muhammad selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Yogyakarta dalam membuka acara menjelaskan bahwa pemerintah tanggap terhadap kondisi kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat. “Pelaporan, pengaduan kekerasan dapat dilakukan dengan telepon bebas pulsa. Tersedia pelayanan hukum dan psikologis bagi korban”, jelas Edy. Diungkapkan pula tentang peran remaja dalam pembangunan kewilayahan oleh Bambang Indro selaku Sekretaris Camat Ngampilan dalam kata sambutannya.

Metode penyampaian materi agar lebih tepat sasaran maka acara pelatihan anti kekerasan dibagi menjadi dua kelas yaitu bagi orangtua dan remaja, jelas Polana Setiya Hati, S.SI, MM., selaku koordinator UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Yogyakarta. “Bagi remaja diberikan pelatihan tentang pengendalian emosi agar para remaja lebih mampu mengelola emosinya”, ungkap Polana.

Materi tentang Refleksi kasus dan dampak hukum dipaparkan oleh Iptu. Kardiyana dari Polresta Yogyakarta. “Banyak remaja saat ini yang menggunakan narkoba sehingga perilaku berubah menjadi negatif. Dampak narkoba jauh lebih berbahaya dibandingkan miras”, jelas Kardiyana.  Sedangkan materi bagi kelas remaja mengangkat tema tentang Remaja di era milenial dan strategi pengendalian emosi yang disampaikan oleh Ekan Suliandari, Psikolog.

Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari para tokoh masyarakat setempat, RT, RW dan para orangtua yang memiliki putra-putri usia remaja. Antusiasme peserta dalam mengikuti acara ditunjukan dengan berbagai pertanyaan. Diungkapkan dalam sesi tanya jawab tentang materi   Parenting di Era Milenial, yang disampaikan oleh narasumber Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A. “Pola komunikasi keluarga menjadi media pembelajaran bagi anak dan Orangtua bertanggungjawab atas pendidikan moral serta etika sebagai pembentuk karakter kepribadian anak”, tandas Wahyu.

Pertanyaan yang diungkapkan antara lain yaitu dari Ibu Ririn (RW10), Bagaimana cara agar cepat pintar menggunakan HP agar sebagai orangtua juga bisa mengawasi anak sehingga anak tidak menyalahgunakan HP? Jawab Wahyu: Silakan minta diajari oleh putra ibu. Jadikan belajar HP sebagai kesempatan untuk menjalin komunikasi dan kepercayaan yang baik dengan anak.

Pertanyaan ibu Lusi (RW05), Bagaimana menyikapi anak yang sulit diatur dan mendampinginya sebagai seorang single parent? Jawab Wahyu: Situasi anak yang dirasa sulit diatur bisa terjadi karena pola komunikasi yang kurang tepat. Biasakan anak untuk diajak berdialog, diskusi tentang berbagai hal. Kondisi single parent penting dijelaskan kepada anak agar anak mulai belajar tentang realita yang ada.

Pertanyaan ibu Irma (RW09), Bagaimana berkomunikasi dengan anak yang tertutup? Putri saya kelas 3 SMP. Jawab Wahyu: Komunikasi yang baik dapat terjadi bila ada kepercayaan dan kondisi yang tepat dari orangtua dan anak maka sebagai orangtua hendaknya siapkan waktu dan sikap untuk mendengarkan anak.

Acara ditutup dengan penandatanganan deklarasi anti kekerasan oleh seluruh peserta serta perwakilan tokoh masyarakat yang hadir. Adapun kutipan isi deklarasi yaitu Segenap warga masyarakat bersama-sama dengan pemerintah aparat penegak hukum di Kecamatan Ngampilan dengan sungguh-sungguh berkomitmen untuk lindungi dan selamatkan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan, menciptakan lingkungan yang ramah, mewujudkan pola asuh dengan penuh cinta, bertekad tidak takut melaporkan tindak kekerasan, menegakan hukum, berjuang mewujudkan zero kekerasan menuju Yogyakarta Istimewa demi masa depan bangsa Indonesia yang gemilang.

Penulis:

W.Relisa N.

UMBY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here