Walt Disney: Griya Hiburan atau Kerajaan di Semesta Raya?

0
29
Sumber foto: encirclephotos.com

Awalnya hanya terkenal sebagai hiburan anak, sekarang semua umur terjangkau olehnya. Dahulunya garasi rumah kartun, kini berkembang menjadi istana mewah yang mendunia. Sebuah perjalanan hidup seorang pemuda sederhana kelahiran 1901 yang mengawali karirnya dengan memproduksi dan menjual lukisan kepada tetangganya, berkarya dalam bidang hiburan bagi khalayak dunia, dan sekarang menikmati kedamaiannya di nirwana.

Walter Elias Disney, pencetus perusahaan Walt Disney di tahun 1923, bersama dengan saudaranya, Roy Oliver Disney, menggarap proyek animasi pendek pertama yang berjudul Alice Comedies. Hasil-hasil produksi Walt Disney mulai dari film pendek hitam putih sederhana hingga cerita animasi yang ‘dimanusiakan’ membuat perusahaan ini tetap bertahan hidup dan lebih berkembang. Lebih dari melebarkan jangkauan sayapnya di bidang perfilman animasi, Walt Disney mengambil kontrol terhadap beberapa jejaring media seperti ESPN, ABC (American Broadcasting Company) dan National Geographic (Waringin, 2017).

Sama halnya juga dengan studio hiburan lainnya yaitu Pixar, Marvel Studios, dan Fox. Secara tidak langsung, proses spasialisasi sudah terjadi dengan adanya pelebaran ruang penyiaran tayangan hasil produksi Walt Disney dan waktu yang sangat beragam oleh sebab jam penayangan di tiap negara yang terkoneksi dengan pelayanan media tersebut berbeda.

Ide untuk pembuatan konten terutama pada ranah perfilman yang diproduksi oleh Walt Disney tergolong sangat kreatif. Contohnya seperti cerita Alice in Wonderland, Beauty and The Beast, Aladdin, dan Lion King. Pada tahun 1990an, rupa awal mereka ditampilkan dalam bentuk kartun. Memasuki era teknologi modern, kini penyuguhan cerita-cerita tersebut dalam bentuk manusia dan objek nyata yang dibalut dengan CGI (Computer-generated Imagery) agar terlihat lebih asli. Dengan membuat ulang cerita yang sudah pernah ditayangkan dan memolesnya dengan ‘bumbu’ yang lebih fantastik tanpa harus membuat dari awal karya orisinil yang baru, Walt Disney menjual komoditas lama yang telah dimodifikasi dan memperoleh keuntungan lebih dari versi animasinya.

Terdapat dua konsep ekonomi politik yang menurut saya sejalan dengan contoh media massa yang sudah saya ceritakan sebelumnya, yaitu control atau kontrol dan survival atau bertahan hidup. Menurut Mosco (2009), kontrol diartikan sebagai bagaimana seseorang atau suatu organisasi mengatur dirinya atau perusahaan tersebut agar dapat beradaptasi dalam kondisi apapun bahkan menguasai arena permainannya dalam bidangnya masing-masing. Sebagai contoh, Walt Disney yang menjadikan Pixar, Marvel Studios, dan Fox miliknya, lalu menyetir langkah permainannya agar tidak tertandingi  perusahaan hiburan lainnya. Tidak hanya pada bidang perfilman, salah satu perusahaan media broadcasting yaitu ABC, media penyiaran olahraga di dunia, ESPN, dan juga salah satu saluran televisi yang menyiarkan dokumenter alam dan ilmu pengetahuan yaitu National Geographic.

Bersamaan dengan konsep kontrol ini, terjadilah proses spasialisasi yang sering didefinisikan sebagai proses penyebaran secara luas menembus ruang dan waktu. Menurut saya, dengan pelebaran ruang Walt Disney yang berawal dari studio animasi menjadi suatu kerajaan media massa di mana tidak hanya berfokus ke bidang perfilman melainkan penyebaran ilmu pengetahuan dan identitas-identitas makhluk hidup yang beragam beserta alamnya juga melalui tayangan televisi. Lebih lagi, tayangan tersebut bersifat fleksibel dan global sehingga pengguna dari negara manapun dapat berlangganan dan dapat mengaksesnya tanpa menyamakan jam tayangnya.

Pada konsep yang kedua yaitu bertahan hidup, Mosco (2009) menjelaskan segala tindakan manusia sebagai makhluk sosial memiliki maksud untuk memproduksi agar berdampak baik bagi diri pribadi maupun kelompok hingga tercapainya suatu keberlangsungan hidup. Menurut saya, tindakan survival yang dilakukan  Walt Disney cukup unik. Perusahaan ini tidak hanya mulai dari sebuah coretan  membuat konsep cerita yang baru, melainkan memperbaharui versi kartun yang sudah lama menjadi lebih hidup dengan menggunakan aktor, properti syuting, dan teknologi CGI.

Cerita yang disuguhkanpun tidak melenceng jauh dari versi pertamanya, sehingga membuat khalayak lebih tertarik  menonton, terutama bagi para penonton yang ingin bernostalgia akan versi lamanya ketika  masih muda. Selain itu, terdapat pula proses komodifikasi pada konten yang disajikan oleh Walt Disney.

Dengan tampilan animasi baru dan versi live action, nilai jual konten film yang disuguhkan menjadi tinggi. Lebih menariknya lagi, serangkaian produsen film laga terbesar Marvel Studios, Lucasfilm, dan Fox bergabung ke dalam jagat raya Walt Disney. Awalnya Walt Disney dikenal hanya menghasilkan film romansa dan petualangan beragam karakter hewan yang lucu dan putri yang anggun, kini daftar karakter dan cerita olahan perusahaan media terbesar ini lebih variatif dan atraktif.

Julian Abednego Wibisono,

mahasiswa  Magister Ilmu Komunikasi, Pascasarjana UAJY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here