Romansa Habibie-Ainun

0
45
Sumber foto: justwatch.com

Oktober 2019. Seluruh rakyat Indonesia terhenyak beberapa saat ketika breaking news melaporkan Presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie meninggal dunia 11 September di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta akibat gagal jantung. Sejak pertama kali terbaring di rumah sakit, sejumlah tokoh penting tidak hanya dari Indonesia tetapi dari seluruh penjuru dunia yang mengenalnya bergantian membesuknya. Tepat tanggal 14 September, pemerintah menetapkan hari tersebut sebagai hari berkabung nasional untuk menghormati jasa-jasanya semasa hidup.

Media massa tak henti-hentinya memberitakan kabar duka ini, dari perjalanan semasa hidup hingga prosesi pemakaman Habibie. Secara tak sadar, publik dipaksa menyimak berita ini terus menerus. BJ Habibie disebut sebagai paket komplet Bangsa Indonesia yang mampu mencuri hati masyarakat dari kecintaannya terhadap teknologi khususnya kedirgantaraan, sebagai pemecah problem ekonomi pada masa krisis moneter hingga pemikiran briliannya menemukan Teori Crack (Crack Propagation Theory).

Di luar bidang kedirgantaraan  Habibie masih dianggap sebagai manusia biasa. Kisah cinta abadi bersama belahan jiwanya Ainun selama 40 tahun mengajarkan pada kita bahwa kesetiaan akan dibawa hingga akhir hayat. Dalam wawancara dengan  Najwa Shihab, Habibie menyampaikan bahwa jika saatnya tiba ia hanya ingin dimakamkan di samping makam Ainun. Publik selalu dibuat penasaran akan kehidupan privasi Habibie dan Ainun hingga muncullah berbagai macam cerita romansa pasangan ini. Sekalipun demikian, media massa tak kunjung lelah selalu berusaha mengulik dan mengemas kembali kisah kasih ini menjadi sebuah komoditas hiburan bagi publik.

Komodifikasi Privasi Habibie-Ainun

Pada umumnya bagi sebagian orang, ruang privasi adalah area yang hanya bisa diketahui orang-orang yang berkepentingan dan di lingkup terkecil mereka saja. Karena privasi adalah sebuah wilayah yang sangat personal. Bisa dikatakan bahwa sebuah privasi tidak selalu bersifat rahasia. Dalam konteks ini, rahasia bisa menjadi bagian atau bentuk sebuah keadaan yang disebut privasi karena kondisi seseorang yang merasa terlindungi dari intervensi orang lain (Devi, 2014).

Privasi merupakan penggambaran populer di mana hak seorang individu  menentukan apakah dan sejauh mana dirinya bersedia membuka diri pada orang lain. Dengan demikian, ada seperangkat mekanisme  seorang individu untuk mengontrol reputasi, yang membuat orang lain tetap memiliki kesenjangan dengan dirinya sendiri, sehingga menghasilkan peraturan mengenai derajat interaksi sosial dengan orang lain di sekitarnya.

Ruang privasi  seharusnya dimiliki Habibie-Ainun, namun nyatanya  tidak berlaku lagi. Bagi orang yang bergerak di media massa, area privasi inilah  nilai jual yang memiliki daya tarik tersendiri. Isu privat yang ditampilkan tentang Habibie-Ainun mengenai kisah cinta sehidup sematinya membuat publik selalu terhanyut dan menjadikan keduanya pedoman dalam  percintaan. Media terus saja mengorek informasi yang belum tersampaikan melalui orang-orang terdekatnya seperti anak, menantu dan cucunya. Hal-hal romantis apa yang selalu dilakukan  Habibie kepada Ainun saat masih hidup bersama. Kebiasaan Habibie setiap hari selama 100 hari pertama sejak kepergian Ainun  mengunjungi makam dan mengganti bunga yang layu. Testimoni  ajudan Habibie pun tak luput dari incaran media yang ingin menambah informasi.

Hadirnya berbagai tanda privasi kepada publik melalui media massa  memperlihatkan fenomena bahwa media menjadi agen industri budaya yang secara terus menerus dan massif menciptakan kebutuhan fana bagi publik. Komodifikasi dalam konteks media massa merupakan proses di mana informasi yang ditayangkan  dikemas sedemikian rupa dengan standar industri hiburan dengan ukuran daya tarik yang dapat menghasilkan keuntungan besar.

Media massa sangat kuat menyuntikkan budaya populer pada publik dengan mengangkat hal privat  menggunakan metode standarisasi, massifikasi dan berakhir pada menghasilkan komersialisasi. Dalam konsep budaya massa kondisi ini merupakan komodifikasi yang diatur  petinggi media.

Pada konteks ini, media massa sebenarnya menunjukkan evolusi dengan berpindahnya ruang publik ke dalam ruang media. Evolusi ini tampak dari kemampuan media massa yang membuat perbincangan privasi di ruang publik menuju ruang media. Dengan demikian mengkonsumsi informasi hal privasi  Habibie-Ainun  menumbuhkan kebutuhan untuk memenuhi keingintahuan yang sangat besar. Akibatnya, publik beranggapan bahwa mereka behak mendapatkan informasi secara detil mengenai Habibie-Ainun tanpa peduli hak  individu yang menginginkan perlindungan kerahasiaannya. Akhirnya ketika publik merasa puas dengan informasi privat tokoh yang dituangkan dalam media massa, maka saat itu pula industri media  berhasil menjalankan proses komodifikasi penokohan yang memiliki daya jual tinggi di pasaran.

Komodifikasi Konten Habibie-Ainun

Hanung Bramantyo, sang sutradara muda bermata elang sanggup menangkap minat publik ketika ia menghadirkan kehidupan pribadi  Habibie-Ainun ke dalam layar lebar. Publik dibuat terbuai dengan romansa dua anak manusia sejak muda hingga akhirnya Ainun menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam sekuel film pertama yang dibuatnya, dikisahkan awal mula Habibie-Ainun bertemu, berlanjut dengan awal ketertarikan Rudy sapaan akrab Habibie kepada Ainun saat berbincang di teras rumah, kebahagiaan saat mereka menikah, hingga cerita cinta itu harus dipisahkan oleh maut karena kanker yang diderita Ainun. Semuanya terekam sangat jelas. Film Habibie-Ainun 1 yang diperankan  Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari berhasil menarik simpati publik.

Ketika media seluruh Indonesia memberitakan meninggalnya Presiden Ketiga Republik Indonesia itu, mereka berlomba-lomba menyajikan berita paling pertama dan paling lengkap. Mengutip pernyataan Dhakidae (dalam Utami, 2015), tidak ada institusi media yang benar-benar ingin memuaskan pembaca dengan informasi atau berita yang ditayangkan, melainkan adanya bentuk komodifikasi yang dilakukan oleh institusi media untuk meraup keuntungan. Media lebih sering menampilkan kesedihan dan romansa Habibie dibanding dengan prestasi yang telah dicapai. Mengutip  Tirto.id, Manoj Punjabi sang produser juga mengutarakan bahwa ia ingin membuat Habibie Universe seperti halnya Marvel dan ingin menelurkan sepuluh sekuel  kisah mereka dalam lima tahun mendatang.

Apa yang dilakukan Hanung dan Manoj  membuktikan adanya komodifikasi fakta historis, dalam hal ini kisah hidup Habibie-Ainun, sebagai komoditi isi film. Paparan deskripsi audiovisual film  mendulang keuntungan dari segi bisnis industri kreatif. Sinema merupakan produk  drama yang kemudian dihadirkan sebagai tontonan yang berdimensi komersialisasi dan  berideologi keuntungan bisnis.

Kesuksesan komodifikasi Habibie-Ainun di mata publik merupakan fakta bahwa ada perbedaan cara pandang yang beragam tentang seorang tokoh. Fakta yang dituangkan ke dalam layar lebar  lebih menghibur dibanding dengan cerita pendek berbasis naskah. Kondisi ini menjadi lahan basah bagi  industri media untuk memanfaatkan konten yang disulap sedemikian rupa agar bisa menjadi konten yang menjual.

Precy Setyadhika Permata

mahasiswi Prodi Magister Ilmu Komunikasi, Pascasarjana UAJY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here