MNC TV, Sinetron Religi dan KPI

1
262

Ekonomi politik merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan ekonomi politik berarti upaya manusia dalam mempertahankan hidupnya.  “Political economy is the study of control and survival in social life” (Mosco, 2009: 25). Dapat dikatakan bahwa ekonomi politik adalah kegiatan mengontrol dan bertahan dalam kehidupan sosial. Bertahan hidup dilihat dari upaya seseorang  melakukan kegiatan ekonomi, seperti produksi, distribusi dan konsumsi. Kontrol  dalam kehidupan bermasyarakat ialah bagaimana kegiatan ekonomi diatur  suatu kebijakan yang  dibuat sekelompok orang yang memiliki kuasa. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi politik juga berkaitan dengan suatu kekuasaan. Di dalam ekonomi politik terdapat seseorang atau kelompok yang lebih dominan. Baik yang bertugas mengelola, mengatur dan mengontrol atau menguasai ekonomi tersebut.

Terdapat perusahaan-perusahaan media yang merupakan pelaku kegiatan ekonomi. Mereka berusaha memproduksi suatu konten, baik itu informasi, hiburan maupun edukasi kepada masyarakat demi mempertahankan keberlangsungan media. Banyaknya perusahaan media yang memproduksi pesan maka perlu  regulasi atau kontrol. Hal ini dilakukan agar isi pesan yang disampaikan kepada masyarakat merupakan pesan yang layak dan benar.  Dari keresahan itu lahirlah Komisi Penyiaran Indonesia atau biasa disebut KPI.

Perusahaan media Metro TV memiliki program  bernama “Q&A: KPI versus Spongebob”. Acara tersebut membahas  kinerja KPI dan mengapa KPI memberi perhatian lebih kepada kartun Spongebob. Kartun Spongebob baru-baru ini mendapat teguran dari KPI. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa teguran KPI terhadap Spongebob tidak masuk akal. Pasalnya di luar dari kartun spongebob lebih banyak sinetron yang menunjukkan kekerasan. Hardly  S. F. Pariela, salah satu komisioner KPI Pusat, dalam acara Q&A  menegaskan, KPI memfokuskan pengawasan acara untuk anak dan remaja. Menurutnya salah satu segmen Spongebob sangat mengeksploitasi kekerasan. Misalkan ada bata yang dilembar atau memukul dengan palu. Selain itu, menurut Hardly, mengapa KPI lebih berfokus pada kartun adalah karena orangtua cenderung lebih membebaskan anak  menonton kartun tanpa pengawasan. Kartun dianggap aman untuk anak-anak. Selain itu ia menganggap bahwa imajinasi anak akan lebih bermain ketika menonton kartun dibandingkan dengan sinetron.

Jika dianalisis lebih mendalam, KPI tidak bisa hanya berfokus kepada anak-anak semata dengan mengabaikan banyaknya adegan kekerasan di sinetron. Pasalnya salah seorang pelaku pembunuhan ayah dan anak yang mengaku terinspirasi  adegan sinetron. “Kita itu ya mungkin karena kebanyakan nonton sinetron atau bagaimana, kita tadinya berpikir gini loh, kita tidak berfikir sampe meledak sampe Kalvin luka bakar kan. Jadi kita maunya api kecil nyala setelah itu mobilnya kita dorong ke jurang,” ungkap AK (dalam Novelino, 2019). Contoh di atas menunjukkan bahwa KPI tidak bisa hanya berfokus kepada kartun dan acara anak namun juga kepada sinetron atau acara-acara dengan segmen dewasa. Selain itu, ketika ditanya Dara Nasution, salah satu panelis, dengan pertanyaan “jadi sinetron azab itu, meskipun tidak masuk akal, selagi dianggap mengandung value maka dibiarkan saja?”. Nining Rodiyah, salah satu Komisioner KPI Pusat kemudian mempertanyakan di mana letak tidak masuk akalnya sinetron religi tersebut.

Media MNC TV seringkali menayangkan sinetron religi dengan judul yang cukup unik. Menurut Tridanti (2018), judul-judul sinetron religi yang membuat banyak orang tertawa antara lain Juragan Daging Jenazahnya Berat Sebelah Akibat Curang dalam Berdagang, Jenazah Terpental Semburan Gas di Liang Lahat, Penyanyi Berhati Dengki Penggila Harta Dipatuk Ular di atas Panggung. Dan masih banyak lagi judul yang dianggap tidak masuk akal bagi khalayak. Namun, meski tahu hal tersebut tidak masuk akal, KPI menganggap terdapat nilai di dalam sinetron tersebut. Selain itu, MNC TV juga merasa seakan mendapat dukungan dan terus memproduksi sinetron religi semacam itu. Karl Marx (dalam Mosco, 2009: 132) mengatakan bahwa komodifikasi bisa diartikan sebagai upaya dalam peraihan keuntungan dengan mengorbankan aspek-aspek masyarakat. Di dalam komodifikasi  terdapat beberapa jenis komodifikasi. Pertama,  komodifikasi isi/konten yaitu, proses yang dapat mengubah bentuk pesan menjadi produk dagang. Kedua komodifikasi audiens Dallas Smythe (dalam Mosco, 2009: 136) menyatakan bahwa komdifikasi audiens mengganggap bahwa khalayaklah yang merupakan barang komoditas utama bagi media. Ketiga komodifikasi pekerja, pada media komoditas pekerja seringkali diabaikan karena mengutamakan komoditas audiens. Dalam hal ini demi meraih keuntungan media seringkali mengabaikan kesejahteraan pekerjanya. Selanjutnya komodifikasi imanen, yaitu komoditas yang lahir dari komoditas yang lain, dalam hal ini adalah rating.

Dapat dikatakan bahwa MNC TV mengabaikan aspek-aspek dalam tanggungjawabnya sebagai media. MNC TV hanya mengedepankan tugasnya dalam hal hiburan  namun mengabaikan sisi mengedukasi khalayak. Hal ini memiliki kesesuaian dengan pengertian komodifikasi yang dikatakan Karl Marx,  media berupaya  meraih keuntungan dengan mengorbankan aspek-aspek masyarakat. Dilihat dari komodifikasi isi/konten, MNC TV  mengubah suatu cerita atau imajinasi menjadi konten di medianya untuk mendapatkan keuntungan. Konsep cerita yang dibawakan di sinetron religi  adalah imajinasi karena kurang masuk akal dalam penyampaiannya.

Selanjutnya, komodifikasi audiens atau khalayak. Bila dilihat kembali, apa yang dilakukan oleh MNC TV sesuai dengan pengertian dari komodifikasi audiens.  MNC TV terlihat sangat berfokus kepada audiensnya. Pasalnya meskipun sinetron religi tersebut dianggap tidak masuk akal atau tidak ada nilai edukasinya, namun mereka tetap menayangkan dan terus memproduksi sinetron tersebut. Hal ini dikarenakan peminat  sinetron religi cukup banyak, meski menuai banyak protes namun memiliki rating yang tinggi. Sehingga, demi mendapatkan keuntungan yang berlebih, MNC TV mengabaikan sisi edukasi. Hal ini berkaitan dengan komodifikasi imanen di mana MNC TV sangat mengutamakan rating yang tinggi demi keberlangsungan hidup industri media. Dengan mendapatkan rating yang tinggi akan semakin banyak perusahaan  beriklan di media mereka, sehingga keuntungan yang mereka dapatkan akan semakin banyak pula.

Dari pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa MNC TV melalui sinetron religinya mengedepankan keuntungan besar. MNC  mengabaikan  aspek  edukasi dan mengedepankan hiburan, menyajikan hal-hal yang tidak masuk akal. Meski demikian KPI tidak menegur atau menindaklanjuti hal tersebut. Dalam diskusi dalam acara Q&A di Metro TV, KPI seakan membela bahwa sinetron religi membawa suatu nilai atau value di masyarakat. Apakah KPI memiliki kepentingan?

Yuni Indra Chatarina, mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Pascasarjana UAJY

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here