Media Sosial dan Paham Radikalisme di Kampus

0
73
Sumber foto: makeawebsitehub.com

Masuknya gerakan Islam transnasional sering dianggap sebagai suatu ‘ancaman’ oleh beberapa pihak maupun kelompok tertentu. Paham seperti ini sudah mulai tumbuh subur dan berkembang, bahkan dituding sebagai akar dari aksi Islam yang puritan di Indonesia, serta dianggap sebagai gerakan yang radikal. Kampus menjadi salah satu lokasi yang diincar oleh kaum ekstrimis dan teroris untuk menyebar paham radikalisme. Ada berbagai cara yang dilakukan oleh para kaum radikalisme untuk menyebarkan bibit radikal dan juga merekrut anggota baru. Berbagai strategi dilakukan oleh kelompok ekstrimisme untuk masuk ke kampus, mulai dari menawarkan bantuan kepada mahasiswa baru, mencari tempat kos, membuat kelompok belajar, hingga meminjamkan buku-buku yang mengusung ide-ide jihad, radikal dan semacamnya.

Di samping itu, kaum ekstrimisme juga kerap menyebarkan pesan radikal melalui media sosial. Para ekstrimis ini juga bisa menyebarkan paham radikalisme melalui diskusi di lingkungan pertemanan kampus, mulai dari diskusi dalam kelompok kecil, hingga diskusi di dalam kelompok yang lebih besar. Kemudian bisa dilihat pada kegiatan seperti menggelar kajian-kajian umum, selanjutnya menjaring mahasiswa yang rajin mengikutinya untuk direkrut dan berbai’at kepada ISIS. Banyak di antara kaum muda yang terpengaruh oleh doktrin-doktrin jihad yang diperoleh melalui kajian-kajian umum, serta beberapa di antaranya juga terpapar konten-konten intoleransi dan radikalisme melalui media sosial. Narasi-narasi yang ditulis maupun yang disampaikan oleh kelompok ekstrimisme ini sangat mudah masuk dan mempengaruhi generasi muda, apalagi pada generasi muda yang masih mencari jati diri.

Berbagai strategi dilakukan oleh kelompok radikal untuk melakukan propaganda dan penyebaran isu terorisme. Mulai dari penyebaran paham radikal secarang langsung maupun sembunyi-sembunyi hingga menggunakan aplikasi media sosial dan pesan instan. Kecepatan serta kemudahan akses informasi membuat media sosial semakin efektif dalam membuat konten radikal secara mudah dan massive. Beredarnya konten radikal ini di media sosial menjadi ‘ancaman’ yang serius bagi masyarakat Indonesia yang sangat akrab dengan media sosial. Salah satu aplikasi yang digunakan untuk penyebaran informasi radikal adalah ‘Telegram’, Instagram, Twitter, dan WhatsApp. Aplikasi telegram ini telah berkembang selama empat tahun terakhir. Pada perkembangannya, telegram diduga digunakan sebagai media komunikasi oleh kelompok radikal. Menurut media, ISIS mengklaim bahwa menggunakan aplikasi media telegram untuk bertukar informasi termasuk tutorial membuat senjata hingga meluncurkan serangan cyber.

Radikalisme sering diidentikkan  dengan terorisme yang menuju pada Islam. Gerakan ini awalnya muncul sebagai bentuk perlawanan komunisme di Indonesia, serta perlawanan terhadap penerapan Pancasila sebagai asas tunggal dalam politik. Kaum radikalis  menginginkan formaliasi hukum syariah sebagai solusi dalam kehidupan bernegara tanpa menganut asas demokrasi (Qodir, 2008).  Bagi masyarakat di Indonesia, gerakan Islam yang paling familiar di telinga adalah gerakan Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah. Namun belakangan ini, masyarakat Indonesia mulai terbiasa mendengar gerakan seperti Wahhabi, Salafi, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebagian masyarakat memahami bahwa gerakan-gerakan ini memiliki kemiripan, namun pada dasarnya gerakan ini memiliki banyak perbedaan.

Untuk itu, upaya dalam menangkal paham radikalisme di kampus bisa mengambil langkah pencegahan paham radikalisme berupa pembinaan pada kegiatan-kegiatan di masjid yang terstruktur dengan mata kuliah serta bimbingan dari para dosen. Tidak bisa dipungkiri bahwa arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, memungkinkan paham ekstrimisme dan radikalisme berkembang dengan pesat. Dunia kampus dan kaum muda menjadi sasaran empuk bagi kaum ekstrimisme dalam memberikan doktrin-doktrin radikal melalui media sosal. Media sosial merupakan media paling rawan untuk menyebarkan ideologi ultra-konservatif seperti ISIS. Gerakan-gerakan ultra-konservatif ini menyebarkan ideologi (propaganda) mereka khususnya kepada generasi muda dengan menggunakan narasi-narasi ekstrim dan radikal.

Banyaknya sel-sel jihad independen di Indonesia menunjukkan bahwa ISIS masih memiliki basis pendukung. Untuk itu, tindakan ISIS yang menyebarkan ancaman, teror, tindakan kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia merupakan serangkaian aksi terorisme. Dalam fenomena tersebut, pemerintah dan masyarakatnya diharuskan  bekerjasama dan meningkatkan keamanan lingkungan sekitarnya dalam rangka melawan dan menentang tindakan kelompok ISIS. Tindakan memperkuat kerjasama antar pemerintah Indonesia, masyarakat dan aktor-aktor lain dalam hubungan internasional setidaknya mampu mengurangi atau memanimalisir dampak gerakan kelompok ISIS untuk menciptakan negara Islam.

Pada kenyataannya, gerakan-gerakan Islamis di Indonesia masih aktif memperkenalkan pemikiran yang berusaha mendefinisikan Islam sebagai ideologi politik. Sementara itu, media baru menjadi salah satu faktor yang signifikan dalam mempengaruhi dinamika dan manifestasi terbaru dari politik Islam di seluruh dunia. Tumbuhnya mode baru komunikasi yang interaktif, seperti televisi, internet dan telepon pintar, telah meningkatkan kapasitas dan ekspresi individu dalam memahami konflik. Namun, paradoksnya ekspansi teknologi digital tidak serta-merta menghadirkan pluralisme sipil. Dalam beberapa kasus, teknologi digital memungkinkan banyak hal buruk yang terjadi termasuk penyebaran konservatisme, radikalisme, dan terorisme.

Siti Mupida

Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Kajian Komunikasi Masyarakat Islam

Sumber

Zuly Qodir, “Gerakan Salafi Radikal dalam Konteks Islam Indonesia: Tinjauan Sejarah”, ISLAMIKA, Vol. 1, No. 8 (2008).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here