Sosialisasi Anti Kekerasan

0
70
Sumber : Istimewa

Fenomena maraknya anak sebagai pelaku dan korban kekerasan di Kota Yogyakarta akhir-akhir ini kian meresahkan bagi masyarakat. Upaya pencegahan dan mengurangi resiko berulangnya kejadian serupa membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak  Kota Yogyakarta menyelenggarakan rangkaian program sosialisasi anti kekerasan terhadap anak. Kegiatan didukung oleh tokoh masyarakat, pihak Kepolisian dan kalangan akademisi Fakultas Psikologi UP45 Yogyakarta.

“Kegiatan edukasi kekerasan kepada anak dan orang tua sangatlah penting dilakukan sebagai upaya meminimalisir resiko terjadinya kekerasan pada anak”, demikian diungkapkan oleh Dra. Tyasning Handayani selaku Sekdin. DPMPPA Kota Yogyakarta dalam pembukaan acara sosialisasi anti kekerasan. Rangkaian sosialisasi anti kekerasan terhadap anak pada tahap ini akan dilaksanakan di berbagai daerah yaitu Kelurahan Keparakan, Ngampilan, Sorosutan, Pakuncen. Acara edukasi anti kekerasan bagi masyarakat Kelurahan Keparakan dilaksanakan di Ndalem Pujokusuman, Minggu, 27 Oktober 201

“Kasus kenakalan remaja di Yogyakarta semakin memprihatinkan karena mengarah pada tindakan melanggar hukum”, demikian dijelaskan oleh Bapak Kardiyanto selaku pembicara dari Kepolisian Yogyakarta. Upaya agar lebih tepat sasaran dalam penyampaian materi maka panitia acara edukasi anti kekerasan membagi menjadi dua kelas yaitu bagi orang tua dan anak-anak. Berkenan hadir pula dalam acara di Ndalem Pujokusuman yaitu Camat, Lurah, perwakilan RT, RW, para remaja dan orang tua. Pembicara dari kalangan akademisi yang dihadirkan dan mengangkat tema Parenting di Era Milenial yaitu Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A.

“Parenting merupakan saat untuk kita belajar menjadi orang tua yang lebih baik . Kita tidak cukup hanya mengetahui apa yang terjadi, tapi bagaimana kita dapat berperan mempersiapkan generasi yang mampu menjadi “pelaku” di era milenial tanpa menghilangkan peran pengasuhan dan cinta”, jelas Wahyu. Proses diskusi serta tanya jawab pun berlangsung sangat interaktif. RM Ibnoe Titi Murhadi yang berkenan hadir mengungkapkan bahwa “Yogyakarta merupakan kota pendidikan dan hendaknya tetap mampu menjaga karakter yang berbudaya serta anti kekerasan”.

Lebih dijelaskan oleh Wahyu bahwa tantangan dalam mendidik anak di era teknologi saat ini menjadi sangat dinamis. Parenting yang dilakukan oleh orang tua menjadi dasar bagi anak dalam membentuk kepribadiannya. Pola asuh  mengacu pada sikap, ucapan, dan perilaku serta penampilan orang tua yang mengedepankan kesadaran dalam mengasuh buah hati mereka. Sikap yang perlu dikembangkan oleh orang tua antara lain yaitu tidak menunjukkan sikap negatif seperti marah, perilaku kasar terhadap anak, mengetahui kapan berhenti sejenak dari pada bereaksi, serta mendidik anak dilakukan dengan pengendalian emosi.

Sumber: Istimewa

Acara sosialisasi anti kekerasan sebagai reintegrasi kasus berupa edukasi kepada anak dan orang tua dalam rangka meminimalisir resiko terjadinya kekerasan pada anak yang dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan Dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta, terlaksana dengan lancar disertai antusiasme dari peserta. Acara ditutup oleh Ibu Dra. Siti Darojati, M.Psi., selaku panitia. Kesimpulan yaitu peserta yang hadir menjadi lebih menyadari bahwa peristiwa kekerasan di kalangan anak serta remaja seharusnya tidak terjadi. Orang tua serta lingkungan masyarakat bertanggungjawab sepenuhnya dalam mendidik dan memberikan pendampingan yang lebih positif pada anak.

Penulis:

W. Relisa N.

UMBY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here