Peran Politik Kampus

0
88
Sumber foto: dailygenius.com

Demokratisasi menjadi tuntuntan utama bagi gerakan reformasi di Indonesia yang membuka ruang publik baru bagi aktor-aktor politik, sosial dan bahkan keagamaan untuk merepresentasikan kembali formulasi kemaslahatan negara-bangsa dalam menghadapi krisis ekonomi dan politik. Selain aktor politik maupun pemerintah, akademisi, ulama dan tokoh agama juga berperan aktif guna mengonseptualisasikan kemaslahatan bangsa Indonesia dalam spektrum yang beragam. Karena banyak cara dilakukan oleh partai politik untuk menarik simpati warga kampus, terutama mahasiswa.

Kendati universitas adalah salah satu zona larangan kampanye, bukan berarti kampus bebas dari aktivitas politik. Istilah ilmu politik (political science) pertama kali digunakan oleh Jean Bodin di Eropa pada tahun 1576, dalam pandanganya ilmu politik sebagai ilmu negara bukan lagi dalam pengertian institusi yang statis, tetapi lebih maju dengan melihat negara sebagai lembaga politik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat (Cangara, 2016). Kampus sebagai gambaran sebuah negara, di dalamnya para mahasiswa menjalankan sebagian praktek kenegaraan yang biasa dilaksanakan oleh para pemimpin, negarawan, politikus sesungguhnya, seperti: pertama, menjalankan fungsi lembaga-lembaga kecil kenegaraan. Kedua, berbagi pemikiran kepada sesama rekan mahasiswa, terlibat dalam pemilihan umum mahasiswa, bermusyawarah dalam mengambil keputusan, menggunakan hak-haknya di parlemen kampus dan sebagainya.

Singkatnya, di dalam kampus mahasiswa melakukan kegiatan politik kampus. Hubungan antara pendidikan politik dalam politik kampus ialah sebagai tempat para mahasiswa untuk mengembangkan semua bakat dan kemampuannya, mulai dari aspek kognitif, wawasan kritis, sikap politik hingga keterampilan politik. Dalam kehidupan sehari-hari istilah “politik” sudah tidak begitu asing, karena segala sesuatu yang dilakukan atas dasar kepentingan kelompok atau kekuasaan sering kali di atas namakan dengan label politik. Bahkan beberapa mata kuliah sering dikaitkan dengan politik di lingkungan kampus. Kajian Michael Foucault tentang ‘relasi kekuasaan’ bisa membantu untuk menentukan hubungan kampus dan politik. Menurut Foucault, kekuasaan “politik” pada dasarnya tidak melembaga hanya pada satu muka (seperti lembaga pemerintahan atau partai politik), tetapi menyebar melalui relasi-relasi yang bersifat diskursif dan abstrak (Faubion, 1994).

Dengan demikian, politik tidak dimaknai hanya pada bagaimana lembaga-lembaga kekuasaan bekerja. Politik sejatinya harus dilihat pada bagaimana kekuasaan itu diartikulasikan dan dinarasikan sehingga membentuk relasi-relasi yang saling berhubungan. Hal ini membutuhkan telaah mengenai ‘politik’ yang luas dan interdisipliner. Aktivitas politik kampus mahasiswa seperti melakukan kajian/diskusi, mimbar bebas, seminar, talk show, pelatihan, training, aksi dan demonstrasi, advokasi hak mahasiswa, pemilu mahasiswa, sidang umum mahasiswa, bakti sosial, dan lainnya. Semua itu tidak lain merupakan ajang pendidikan politik yang bertujuan untuk mematangkan kesiapan mental, jiwa dan pikiran para mahasiswa yang terlibat di dalamnya untuk menjadi seorang pemimpin (leader), negarawan, bahkan politikus handal sesungguhnya setelah pendidikan yang diperoleh dari kampus.

Dampak yang diberikan oleh politik kampus antara lain dapat memberikan pelatihan untuk mempersiapkan politik dalam negara yang sesungguhnya. Politik kampus juga berguna sebagai sarana mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya. Melalui politik kampus mahasiswa belajar bagaimana memimpin masyarakat, tidak hanya sebatas di lingkungan kampus. Keberadaan politik kampus bermanfaat secara luas dalam kehidupan masyarakat, misalnya dengan turut mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah dan advokasi masyarakat yang dilakukan dengan aksi-aksi sosial, demonstrasi, aksi menulis, serta agenda-agenda lainnya.

Selain itu, politik kampus menjadi saluran internal dalam memberikan nilai-nilai positif seperti kejujuran, tanggungjawab, kepedulian, dan amanah. Selain itu, dapat dinilai sebagai gerakan moral bagi mahasiswa yang berperan serta dalam membangun relasi sosial. Terlebih jika kita melihat kondisi perpolitikan di tanah air akhir-akhir ini, semakin mengkhawatirkan yang berada dalam pusaran korupsi dan manipulasi serta berbagai hal miring lainnya mengenai isu politik. Politik kampus dapat menjadi wadah dan salah satu solusi bagi kondisi buruk tersebut.

Ruang lingkup dunia kampus selalu aktif dalam dinamika politik. Hal ini bisa dilihat dari berbagai konflik politik yang terjadi antara mahasiswa dan pemerintah. Seperti konflik demo tentang penolakan terhadap hasil revisi Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang berkelanjutan pada pertengahan bulan September 2019 dilakukan oleh beberapa kampus di Indonesia, misal Universitas Gajah Mada dan mahasiswa Universitas Trisakti, dan kampus lainnya. Dari konflik tersebut ada beberapa di antaranya dapat diselesaikan, akan tetapi ada juga beberapa di antaranya yang tidak dapat diselesaikan sehingga menimbulkan beberapa aksi kekerasan. Untuk itu, peranan kampus, akademisi, dan paradigma komunikasi berperan penting dalam menangani resolusi konflik yang terjadi di dunia politik.

Mengenai pentingnya pendidikan politik yang bisa didperoleh para mahasiswa saat berada di kampus, memiliki peran signifikan dalam beberapa hal. Pertama, mengubahbah atau membentuk prilaku pada pribadi (individu) para mahasiswa itu sendiri. Kedua, menjadi rangsangan (stimulus) untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang diinginkan sesuai dengan tuntutan kehidupan politik. Pendidikan Politik ini akan melahirkan sosok para mahasiswa yang mempunyai jangkauan pandangan yang jauh lebih luas dan terbuka mengenai kehidupan politik serta mempunyai kepedulian sosial yang besar terhadap sesama. Sehingga, dengan segenap kemampuan berpikir politiknya yang telah terbentuk melalui pendidikan politik yang diperoleh di kampus, mahasiswa telah memiliki kemampuan dalam memperbaiki kerusakan yang terjadi pada kehidupan politik di tanah air sesungguhnya.

Siti Mupida

Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Kajian Komunikasi Masyarakat Islam

Sumber                                        

Cangara, Hafied. M.Sc., Ph.D. 2016. Komunikasi Politik, Konsep, Teori, dan Strategi. Depok: Rajawali.

Faubion, James D. 1994. Aesthetics, Method, And Epistemology. New York: The New Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here