Sisi Lain dari Peraturan yang Dibuat oleh Pihak Kampus

0
45

Esai ini dibuat berdasarkan ketertarikan dan refleksi saya terhadap peraturan yang ada di kampus. Peraturan yang ditaati mahasiswa/mahasiswi ini merupakan bagian dari fenomena yang unik untuk dibahas. Ketertarikan tersebut muncul ketika saya melihat beberapa teman-teman saya yang tidak menaati peraturan. Mereka memakai kaos saat hendak mengikuti ujian. Namun, yang terjadi adalah tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian karena dianggap tidak menaati peraturan. Peraturan ini dibuat dengan tujuan agar menciptakan kondisi kampus yang kondusif dan tertib. Namun, seiring berjalannya waktu apakah sepenuhnya hal tersebut sesuai dengan apa yang diperoleh di realitas.

Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika menaati peraturan kampus yang dibuat. Apa itu peraturan? Apa tujuan dari peraturan dibuat? Tentu, masih banyak pertanyaan yang muncul akan peraturan tersebut.

Berdasarkan banyaknya pertanyaan tersebut, membuat saya tertarik untuk menuliskan esai ini menggunakan perspektif lain. Perspektif yang saya gunakan dalam mengkaji tulisan ini menggunakan metode genealogi kekuasaan Foucault, sebagai salah satu cara untuk menghadirkan diskursus yang menarik dan tetap penuh dengan pertanyaan.

Kajian dengan menggunakan perspektif Postmodern adalah dimana saya dapat memahami maksud teks tersebut, kemudian mampu menstransformasi teks itu sesuai dengan versi saya sendiri. Pengembangan dan dekonstruksi ini sesuai dengan versi yang saya buat. Dalam tulisan Amin Abdullah dikenal dengan deconstructionism yakni upaya mempertanyakan ulang teori-teori yang sudah mapan yang telah dibangun oleh pola pikir modernisme, untuk kemudian dicari dan disusun teori yang lebih tepat dalam memahami kenyataan masyarakat saat ini, meliputi keberagaman, dan juga realitas alam.

Sekilas tentang Genealogi Kekuasaan Foucault dan Peraturan yang ada di Kampus

Bagi Foucault, genealogi yang berbahaya adalah adanya kekuasaan. Salah satu kekuasaan tersebut terjadi dalam dunia pendidikan. Peran aktor, dari masing-masing orang memunyai power yang berbeda-beda. Hal ini didukung dari konsep yang disampaikan Aristoteles yaitu metafisika kehadiran. Metafisika yang membekukan identitas. Seperti misalnya, peran dosen lebih tinggi daripada mahasiswa/mahasiswi. Oleh karena itu, mereka harus nurut apa yang diperitahkan dosen. Konsep tersbut akhirnya terlihat seperti mewakilan ‘being’.

Sama halnya jika genealogi kekuasaan tersebut diterapkan pada peraturan kampus. Mahasiswa/mahasiswi yang hendak kuliah diharuskan untuk menggunakan pakaian rapi seperti baju berkerah, dan menggunakan sepatu. Seolah-olah, peraturan yang dibuat telah terjebak pada pemikiran kebenaran sendiri. Bisa dibilang mahasiswa/mahasiswa telah terhegemoni. Seperti yang dijelaskan oleh Gramsci, hegemoni merupakan bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu dengan menggunakan kepemimpinan intelektual dan moral secara konsensus. Artinya, kelompok-kelompok yang terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologis penguasa.

Bahkan, tampak lagi ketika tolok ukur yang dikatakan tertib itu dibuat dalam bentuk menaati peraturan di kampus. Jika dikaji melalui prespektif postmodern, tolok ukur bisa ditafsirkan luas oleh masing-masing subject. Istilah tersebut disebut sebagai logosentrisme. Istilah ini dicetuskan oleh salah satu tokoh postmodern yaitu Derrinda. Logosentrisme merupakan istilah yang digunakan Derrida, untuk menjelaskan bentuk rasionalisme yang mensyaratkan suatu “kehadiran” di belakang bahasa dan teks. Seperti hal orang-orang yang menganggap dirinya benar, sehingga sudah tertutup logosnya (nalar). Sama halnya yang terjadi pada peraturan yang ada di kampus. Siapa yang tidak menaati peraturan selalu dianggap salah atau melanggar.

Kemudian, power yang dimainkan berdasarkan siapa yang paling punya kekuasan. Hal ini ditunjukan dari pembuatan peratura oleh pihak kampus dengan tujuan menguasai mereka yang menaati aturan yang telah dibuat.

Kesimpulan

Menurut Foucault, paradigma modern terdiri dari dua hal. Pertama, Subjectivitas reflective. Ilmu pengetahuan tidak melulu pada satu object tertentu. Artinya, tidak dimaknai bebas nilai secara utuh. Dibalik itu sebenarnya ada kepentingan (bahkan kekuasaan yang ingin menguasai). Hal ini didukung dari tulisan Briton, Derek yang mengatakan bahwa, “Yang kelihatannya objective sebenarnya terdapat nilai yang tidak disetujui dan ingin”.

Kedua, Subjectivitas ktitis. Merupakan cara pemikiran modern yang dianggap objective. Namun,pada gilirannya akan bersifat totaliter. Artinya, bilamana yang berpikiran alternative akan dianggap salah7. Maka, pemikiran seseorang hanya dilibatkan dalam satu ruang tertentu.

Fenomena peraturan yang ada di kampus, apabila dilihat dengan paradigma modern erat kaitannya dengan kekuasaan. Aktor yang mengkonstruksi peraturan kampus tersebut memiliki power yang kuat. Seolah-olah tujuannya untuk membuat suasana kampus tertib dan kondusif, dibalik itu juga terdapat maksud yaitu menguasai. Namun, apabila dikembangkan lagi dengan dilihat melalui perspektif postmodern, program tersebut belum sepenuhnya dimaknai unsur kebebasannya.

Daftar Pustaka

Ph, I. H. S. (2007). Dekonstruksi Diri Sendiri Dalam Proses Penciptaan Karya Seni. Imaji, 5(2).

Briton, Derek. 2009. The Modern Practice of Adult Education: A Postmodern Critique. Teacher Empowerment and School Reform Series.

Setiawan, J., & Sudrajat, A. (2018). Pemikiran Postmodernisme dan Pandangannya terhadap Ilmu Pengetahuan. Gadjah Mada University.

Wiradnyana, K. (2018). Michel Foucault: Arkeologi Pengetahuan dan Pengetahuan Arkeologi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Al-Fayyadl, M. (2005). Derrida. Lkis Pelangi Aksara.

Kusumawati, D. (2014). Hegemoni Agama dalam Pendidikan: Euforia Pendidikan Islam Terpadu di Solo Raya. Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Marselina Anggun_Mahasiswi UAJY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here