Mancasan Siap Menjadi Dusun Pelopor Program Masyarakat Berencana

0
150
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Dusun (baca: pedukuhan) atau kampung sebagai lembaga pemerintahan daerah terkecil memiliki peran yang sangat strategis dalam pemberdayaan masyarakat di wilayahnya. Namun selama ini dusun masih dianggap sebagai lembaga stempel untuk urusan kependudukan saja. Dusun atau pedukuhan tidak memiliki program, hanya menjadi lalu lintas pemdes dengan mastarakat.

Hal ini kemudian yang menggerakkan Kepala Dukuh Mancasan, Gapong Maharia SE, mengupayakan agar wilayah pedukuhan lebih berdaya melalui program masyarakat berencana, “Perberdayaan masyarakat paling bawah akan berpusat di pedukuhan atau di kampung-kampung, bukan di Desa ataupun RT/RW,” tuturnya.

Program Masyarakat Berencana dengan Cerdas (Macandas) yang berbasis di wilayah pedukuhan nantinya akan fokus kepada lima urusan utama, yakni: 1. Kesehatan ibu/anak, 2. Pendidikan, 3. Usaha Kreatif Keluarga, 4. Tata Lingkungan dan Wilayah, 5. Pengembangan Budaya dan Wisata.

Saat ditemui di kediamannya, Gapong menyampaikan, dari kelima urusan tersebut, potensi dukuh Mancasan lebih kepada budaya dan wisata, “Sebagai ukuran lokasi kunjungan wisata, Mancasan sudah sangat memenuhi dilihat dari ketersediaan seni karawitan, kerajinan anyaman, sablon dan wisata air di Kali Denggung,” tambah Gapong.

Saat memasuki dusun Mancasan, reporter Swarakampus.com sempat diajak ke sebuah spot yang tampak masih sangat alami, berupa kali atau sungai yang airnya tengah menyusut dikarenakan musim kemarau. Kali Denggung tersebut dikabarkan memiliki tradisi yang masih dijaga hingga kini, termasuk pemisahan penggunaan air (untuk mandi) antara laki-laki dengan perempuan.

Sementara itu potensi lain seperti kuliner dari hasil tanaman telo yang banyak ditanam warga, tradisi, hingga potensi sumberdaya manusianya sangat mencukupi namun belum dikelola dengan baik, “Untuk itu UP45 menetapkan dusun Mancasan ini sebagai salah satu titik lokasi program KKN 2019,” ucap Nurhadi, DPL KKN UP45.

Nurhadi kembali menjelaskan bahwa tahun ini di Sleman ada 12 pedusunan yang menjadi lokasi KKN. Dukuh Mancasan ini dianggap layak karena memiliki potensi yang baik namun belum dapat dikelola dengan maksimal, “Salah satunya kami ingin turut memberdayakan potensi wisata air dan menjadikan Mancasan sebagai Kampung Lestari nantinya,” terangnya.

Sebagai lokasi dengan potensi wisata alam, Macasan pernah mengadakan tradisi Merti Kali mengangkat dan melestarikan kearifan lokal masa lalu di tengah era teknologi sekarang ini. Menjaga dan merawat tradisi lokal selain merupakan kewajiban juga dapat menjadikan nilai ekonomis bagi masyarakat.

Foto: Istimewa

Gapong berharap agar pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam pemberdayaan masyarakat dan wilayah mau secara bersama-sama terlibat langsung bekerja membangun kampung, “Karena di tingkat pedukuhan inilah nilai-nilai lokal itu lahir, tumbuh dan berkembang. Kami membuka pintu lebar bagi pihak lain yang memiliki concern yang sama,” pungkasnya.

Selain dengan pihak kampus (UP45), beberapa lembaga seperti Forum Jaringan Masyarakat Berencana dengan Cerdas (FJ Macandas) telah menyatakan kesediaan diri mendampingi proses pemberdayaan potensi masyarakat di pedukuhan Mancasan, Pandowoharjo, Sleman ini. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here