Transaksi Seks Dan Era Media Baru

0
78
Sumber foto: moonology.com

Transaksi seksual bukan semata persoalan-persoalan namun juga merupakan isu kompleks dengan beragam aspek sosial dan budaya. Media baru dapat mengubah berbagai perilaku masyarakat terutama pada era globalisasi dan generasi milenial.

Masyarakat (generasi milenial ) Dan Media Baru

Fenomena transaksi seks yang terjadi dalam masyarakat informasi berbasis media baru (New Media) dapat memberikan tafsir atas biasnya pemahaman kita terhadap pemikiran dasar manusia yang selama ini hanya dibaca dari kacamata moral saja. Generasi milenial sekarang ini merasa berutung dengan perkembangan media baru yang sangat pesat. Namun generasi milenial juga harus dapat membatasi dan memanfaatkan media baru dengan semestinya.

Tidak dipungkiri lagi rasa penasaran yang dimiliki oleh masyarakt dan anak-anak milenial sangat tinggi sehingga sebagian dari mereka tidak memperhitungkan efek negative kedepannya. Perkembangan media baru dapat merubah gaya hidup dan membuka ruang berlangsungnya transaksi seks diluar lingkaran primer atau prostitusi. Perkembangan media baru dalam kehidupan masyarakat dipahami tidak semata sebagai sebuah pengesahan proses informasi yang lebih cepat dan terbuka namun juga membawa rangkaian konsekuensi yang mengubah pola kehidupan masyarakat secara holistik.

Basis interakasi sosial bergeser bersama kehadriaran media baru, membentuk perubahan budaya, politik dan ekonomi global. Pada awal tahun 1990-an persoalan transaksi seks juga telah ditarik kedalam isu kesehatan dan diletakan sebagai salah satu factor penyebaran penyakit, salah satunya HIV/AIDS.

Ditengah perdebatan mendasar inilah ada pertarungan nilai yang mengemuka bersama dengan fakta yang tidak mengherankan akan seks komersial sebagai bisnis tertua di dunia. Hal ini menarik untuk dikaji tidak hanya sebatas mendapatkan gambaran tentang perkembangan fenomena media baru dalam irisan jaringan kehidpan seksual masyarakat, namun juga melihat kemungkinan interkoneksi perkembangan masyarakat informasi dengan perkembangan transaksi seksual.

Hadirnya teknologi komunikasi dalam era perkembangan media baru jelas merubah perilaku masyarakat terutama pada generasi milenial. Budaya seksualitas, perilaku transaksi seksual terjalin dalam interkoneksi nilai membentuk struktur dan interaksi masyarakat yang dianggap wajar.

Transaksi Seksual di Media Baru

Media atau teknologi komunikasi tidak dapat dilihat semata-mata sebagai sarana yang digunakan institusi, kelompok atau individu. Persoalan transaksi seks sebagai kegiatan komersial menjadi persoalan yang kompleks yang melibatkan jalinan struktur dan sistem sosial maupun budaya.  Praktik komunikasi berbasis teknologi media baru dalam menggeser interaksi telah didukung beberapa pemikiran dalam melahirkan beragram budaya baru dalam kaitannya dengan relasi dan interaksi personal.

Seperti dalam teori yang dipaparkan oleh Hjarvard (2008) Masyarakat pada abad ini telah terserap kedalam media, hingga media tak dapat dipisahkan lagi dengan budaya dan kehidupan atau institusi sosial. Salah satu yang dapat dilihat dan sedang menjamur di media baru munculnya situs-situs perjodohan dunia maya, pemikiran yang diperkuat oleh perkembangan teknologi komunikasi lewat internet dan beberapa media sosial lainnya. Di Indonesia sendiri perdaganan seks melalui media baru marak berlangsung, seperti perdagangan seks yang blak-blak’an dengan menggunakan whatsapp atau media sosial lainnya dengan mengirimkan foto-foto yang tidak layak melalui fasilitas media baru.

Kecenderungan masyarakat yang menjalin relasi percintaan sekarang banyak yang memilih menggunakan media baru. Dengan kata lain persoalan transaksi ekonomi di media baru terkait dengan transaksi seks terbatas pada wada koneksi dimana transaksi seks sebagai kegiatan fisik sepenuhnya. Mayoritas media baru malalui internet yang menyediakan jasa temu kencan seks, memiliki beberapa persyaratan untuk keanggotaan dengan fasilitas akses komoditas seks seperti video porno atau percakapan video secara langsung.

Seperti halnya dengan pekerja salon plus di salah satu tempat daerah Yogyakarta, para pekerja salon tidak merasa canggung untuk memperlihatkan beberapa bagian tubuh mereka yang dianggap masyarakat hal yang tidak pantas/tabu di Instagram, jadwal pertemuan hingga tarif dapat diatur sesuai perjanjian antar pekerja salon dengan pelanggan. Dalam penjelasaan dari pengelola salon melakukan bisnis melalui media baru guna mempermudah komunikasi bagi para pekerjanya dengan pelanggan, dan dapat memperluas jaringan pasar jasa kegiatan seksual. Dari upaya perluasan jaya dengan media baru diharapkan mereka mendapatkan “pelanggan” baru.

Perkembangan teknologi komunikasi telah larut dalam setiap esensi praktik kehidupan di era media baru. Peran komunikasi tak dapat dipungkiri turut mengubah pola komunikasi, interaksi dan relasi tak terkecuali persoalan transaksi seks.

Kehadiran media baru di satu sisi dapat dilihat sebagai dinamika interaksi dan ekspresi seksual yang spesifik dan bergerak dalam tatanan dunia maya. Secara logis maupun factual dalam konteks transaksi seks telah mendorong struktur sosial yang ada kdalam dunia interaktif yang termediasi. Dengan kata lain media baru menjadi elemen dalam “new ways of doing old things” (Rheingold,199).

Di Indonesia perkembangan transaksi seks daam media baru memiliki kekhasan, perkembangan yang menarik di Indonesia adalah menjamurnya ruang komunitas seks yang bersifat lokal seperti salon plus di setiap daerah dengna menggunakan media baru dan kelompok sesksualitas yang banyak ditemui di berbagai media sosial (gay, lesbian, pedopil, remaja-remaja).

Media baru khususnya internet telah berfungsi memberikan ruang Pelepas beragam aspek nilai dan kontrol sosial. Dinamika transaksi seksual di era media baru bisa dibaca sebagai gambaran menguatnya kegiatan seks oleh masyarakat Indonesia. Secara factual perilaku seksual masyarakat yang kian transparan tidak berhenti pada perayaan kegiatan seksualitas itu sendiri, namun termodifikasi menjadi relasi perilaku seksual yang tersebar.

Agus Kristiana

Mahasiswi Fakultas Ilmu KomunikasiUniversitas Mercu Buana Yogyakarta

Universitas Mercu Buana Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here