Edukasi Penggunaan Gadget yang Sehat dan Pencegahan Kekerasan Seksual pada dan oleh Anak

0
107
Foto: Istimewa

Peningkatan kekerasan seksual pada anak akhir-akhir ini serta salah satu penyebabnya yaitu penggunaan gadget yang tidak sehat pada anak, maka Pemerintah Kota Yogyakarta melalui UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak Yogyakarta mengadakan Edukasi Penggunaan Gadget yang Sehat dan Pencegahan Kekerasan Seksual pada dan oleh Anak. Kegiatan dilaksanakan di Aula besar SMP Negeri 9 Yogyakarta (2/8/19).

Seluruh peserta didik yang duduk dibangku kelas 8 hadir sebagai peserta kegiatan edukasi menyatakan bahwa dirinya memiliki gadet dalam bentuk smartphone dan sebagian besar pula mengungkapkan bahwa mereka mengunakan smartphone setidaknya 5 jam setiap hari. Aplikasi yang selalu digunakan yaitu media sosial sepeti facebook, instagram, whatsapp, youtube. Siswa mengungkapkan bahwa merasa senang dengan berlama-lama menggunakan smartphone, bahkan merasa janggal dan enggan bila harus meninggalkan smartphone bila bepergian. Teguran dari orang tua untuk tidak sering menggunakan smartphone pun juga seringkali didengar meskipun tak lama kemudian berlanjut tetap menggunakan smartphone lagi.

“Apakah smartphone menguntungkan atau merugikan? Sebutkan apakah keuntungan dan kerugian yang dirasakan”, demikian pertanyaan yang dilontarkan oleh Dr. Arundati Shinta, MA, hingga peserta secara spontan merespon dengan beragam jawaban dan alasan. Metode yang dilakukan dalam edukasi ini memacu setiap peserta untuk aktif terlibat secara langsung sebagai proses dalam memahami materi yang disajikan. Acara yang dibagi dalam 2 sesi diikuti oleh 100 peserta didik, dibentuk dalam kelompok-kelompok diskusi untuk menjawab  6 pertanyaan yang mengembangkan kesadaran tentang aktivitas terkait penggunaan gadget, hingga peserta mampu merumuskan tentang bagaimana hendaknya menggunakan gadget secara sehat.

Hasil diskusi kelompok yang dipimpin oleh Ibu Shinta, dosen Fakultas Psikologi UP45 Yogyakarta dibacakan oleh masing-masing perwakilan kelompok di depan peserta lain. Adapun pernyataan yang diungkapkan oleh para siswa tersebut antara lain yaitu mereka cenderung tidak mampu membatasi penggunaan gadget dengan berbagai alasan yaitu terdapat hal positif dari gadget, mereka memperoleh informasi dari internet dalam mengerjakan PR dari sekolah, memperluas wawasan dan pergaulan sosial, orangtua dan keluarga mereka juga menggunakan gadget, gadget dibutuhkan sebagai media berkomunikasi dengan keluarga. Upaya pencegahan agar tidak menggunakan gadget secara berlebihan antara lain yaitu matikan notifikasi, gunakan seperlunya, perbanyak aktivitas interaksi sosial, fokus dengan aktivitas positif, matikan sebelum tidur, hindari penggunaaan saat berkendara.

Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA. selaku narasumber menjelaskan bahwa kecenderungan penggunaan gadget secara berlebihan dan tidak tepat akan menjadikan seseorang bersikap tidak peduli pada lingkungannya baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dampak yang sering dialami dan cenderung tidak disadari oleh pengguna gadget secara berlebihan yaitu potensi stress berpengaruh pada emosi yang tidak stabil, kurang fokus dalam mengerjakan aktivitas, interaksi sosial terganggu, imsomnia, produktivitas menurun yang ditunjukkan dengan nilai prestasi belajar yang tidak optimal.

Foto: Istimewa

Penggunaan gadget bagi siswa, lebih utama pada sarana bermedia sosial dan bermain game. Ketika bermedia sosial, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah publikasi identitas diri dan terdapatnya ancaman bahkan kekerasan seksual. Materi Pencegahan Kekerasan Seksual pada dan oleh Anak disajikan dengan mengajak peserta untuk menggambar tubuh yang sering disebut sebagai body mapping. Para peserta dipisah antara kelompok siswa laki dan kelompok siwa perempuan. Peserta dibimbing agar lebih mampu memahami kondisi tubuhnya, kondisi tubuh lawan jenisnya, serta menjaga dan menghindarkan diri dari kekerasan seksual. “Tidak perlu merasa malu membicarakan seks dalam keluarga. Bertanyalah kepada ayah dan ibu untuk mendapatkan informasi yang tepat daripada bertanya pada teman tentang seks” jelas Ibu Shinta.

“Kekerasan seksual bisa terjadi baik di rumah maupun di sekolah dengan bentuk-bentuk sangat bervariasi. Kekerasan seksual di sekolah, berupa kata-kata yang melecehkan yang berdampak pada rasa tidak menyenangkan hingga tindakan pemaksaan secara fisik. Penting bagi setiap siswa untuk menanamkan rasa malu, mengembangkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada perempuan, menjaga kebersihan diri, mandiri, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun”, jelas Wahyu.

Penulis:

Relisa

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here