Aksi 22 Mei dalam Kacamata Anak Muda

0
163
Sumber foto: fortune.com

Bulan Mei seperti memiliki kemistisan tersendiri. Bulannya para pendemo. Seperti aksi Mei 1998, aksi 1 Mei sebagai Hari Buruh, aksi 2 Mei sebagai Hari Pendidikan, dan aksi 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hal juga terjadi di tahun ini. Setelah digelarnya pesta rakyat pada 17 April 2019. Pertaruhan dan pertarungan untuk mengejar kursi Istana Merdeka tidak segera selesai. Apa yang kita temukan saat hari pengumuman jauh dari kata damai dan menentramkan. Aksi dilayangkan. Bentrok antara masyarakat sipil dengan aparatur negara tak terelakkan. Spekulasi beredar. Saling menyalahkan dan melayangkan tuduhan menjadi topik berita sehari-hari, pasca pengumuman resmi hasil Pemilu 2019.

Menariknya, terjadi fenomena baru di tengah pusaran kehidupan anak bangsa. Anak-anak muda bangsa, yang memiliki rentang umur di antara 13 – 24 tahun mengubah cara pandang bangsa terhadap penyelesaian masalah ala anak muda. Jika golongan baby boomer memegang peranan penting dalam mobilisasi masa hingga memegang kendali jalannya aksi sedari perencanaan sampai eksekusi, anak muda bangsa sibuk dengan dirinya sendiri.

Sumber foto: makeawebsitehub.com

Keputusan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk mematikan jaringan internet yang biasa digunakan untuk mengakses beberapa media social membawa dampak nyata bagi kalangan anak muda. Kehidupan social anak muda yang mayoritas terjadi dalam dunia maya terpaksa harus dimatikan sesaat. Kebingungan terjadi. Angka penggunaan internet yang tinggi di Indonesia, terutama di kalangan anak muda, yaitu 8 – 9 jam per hari telah menghasilkan kebiasaan dan kecanduan bermain media social. Layaknya orang kecanduan obat-obatan, akibatnya dalam 3 hari selanjutnya anak muda merasa produktivitasnya terganggu, depresi sesaat, serta rasa hampa seperti tidak memiliki kehidupan.

Ketergantungan terhadap gawai memang lebih mengerikan. Berbagai cara lalu dilakukan untuk mengatasi krisis jaringan internet ini. Salah satunya dengan mengunduh aplikasi pengubah VPN atau jaringan yang yang menghubungkan jaringan lain secara riil tanpa terenkripsi. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengubah IP address mereka dan menggunakan jaringan internet di luar Indonesia. Cara ini banyak dilakukan oleh gamers dan orang-orang yang membutuhkan jaringan privasi untuk menembus situs internet yang diblokir oleh pemerintah Indonesia. Selama beberapa hari yang lalu, masyarakat Indonesia utamanya anak muda berbondong – bondong mengunduh dan memasang aplikasi VPN dan menyambungkan koneksinya bahkan hingga mengubah IP ke negara Singapura, Thailand, dan Filiphina.

Jika orang dewasa banyak yang turun ke jalan dan menyebarkan segala tulisan melalui whatsapp. Maka anak muda berkutat dengan bagaimana caranya bisa memperbarui status WA dan Instagramnya hari itu. Menyumpah serapahi, mencari pembenaran, membuat tulisan yang bisa jadi tidak bermakna atau tidak tahu maknanya apa. Akhirnya terjadi bentrok di dunia maya. Saling mencaci tidak terhindari. Kata-kata seperti “cebong” dan “kampret” dituliskan dengan berbagai maksud dan tujuan yang sangat memecah belah bangsa. Ironi yang menyayat hati.

Demokrasi dan kebebasan berpendapat memang banyak bentuknya. Demokrasi dan kebebasan berpendapat memang banyak tantangannya. Ketika hak telah diberikan, maka menjadi kewajiban bagi penggunanya untuk bertindak dengan penuh rasa tanggung jawab. Aksi 22 Mei yang bermula dari penggiringan opini golongan tertentu menjadi fakta bahwa masyarakat Indonesia harus membuadayakan literasi yang baik. Rendahnya bahan bacaan yang dituntaskan serta dimengerti menyebabkan rendahnya pula pengetahuan dan pemahaman akan berbagai fenomena di negeri tercinta. Spekulasi mudah digaungkan, dan masa mudah dikumpulkan juga disulut api kemarahannya.

Sungguh disayangkan, harus melihat anak muda Indonesia berebut VPN agar dapat bermain media social hanya untuk menambah keruhnya suasana. Seharusnya, anak muda bisa mencari solusi untuk kedaulatan bersama. Bukan mencari cara untuk memenuhi nafsu pribadi. Menjadi insan yang individualistis dengan ego setinggi langit. Tidak harus turun ke jalan. Namun, hendaknya membantu memberikan ketenangan dan ketentraman serta upaya mengajak pada kedamaian dan rasionalitas dalam menyikapi hasil Pemilu. Anak muda yang memegang populasi utama di Indonesia saat ini seharusnya bisa mengambil alih momentum dengan lebih bijak.

Menjadi solusi dari setiap permasalahan bangsa bukan hal yang mudah. Namun bukan pula hal yang mustahil. Suara anak muda yang lantang dan lebih berisi karena intelektualitasnya bisa menjadi oase di tengah padang pasir tandus akan dasar keilmiahan. Bulan ini anak muda harus berefleksi. Kontribusi apa yang telah diberikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah mendukung negara dalam mencapai tujuannya, atau menjauhkan identitas bangsa dari ideologinya. Kemudahan dan hak yang diberikan harus dimaksimalkan dalam penggunaannya. Indonesia yang maju, adil dan makmur adalah tujuan akhir yang harus kita raih bersama dan jelas membutuhkan anak muda bangsa.

Alif Indiralarasati

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum UGM

Penerima beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here