Hidup di Asrama Katarina Damen – ASMI St. Maria-Yk

0
292
Foto: Istimewa

Saya lahir di Desa Tuho’owo, Nias, Sumatera Utara. Pada tanggal 18 Agustus 2017, Suster Angelina mengantar saya di Asrama Katarina Damen ASMI Santa Maria.

Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang teman dan menanyakan mengapa saya ingin tinggal di asrama mengapa tidak tinggal di kos. Sebelum saya menjawab pertanyaannya, saya balik menanyakan apa kesannya tentang asrama. Dia pun menjawab bahwa sesuai pengalaman orang lain, tinggal di Asrama itu ada enaknya, tapi ada juga tidak enaknya. Enaknya kita bisa belajar mandiri atau belajar hidup jauh dari orang-orang terdekat. Dan kita juga bisa melatih diri untuk bisa lebih baik lagi. Dan tidak enaknya kita jauh dari keluarga sehingga semua kebutuhan kita harus di handle sendiri dan harus bisa menaati banyak aturan. Pada umumnya itulah pikiran setiap orang tentang Asrama. 

Di AKD, terdapat berbagai suku, bahasa dan budaya yang berbeda. Ada yang berasal dari Nias, Medan, Riau, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Flores, Jawa, Lampung, Bali, dan lain sebagainya. Meskipun berbeda, kami tetap satu. Tidak ada yang saling memojokkan satu dengan yang lainnya. Bahkan ini menjadi kekayaan yang kami miliki dalam berkehidupan di asrama. Dengan budaya, dan bahasa yang berbeda semakin menambah wawasan dan keingin tahuan kami tentang bahasa dan budaya satu sama lainnya. Jujur, saya sebagai orang Nias juga berusaha untuk tahu bahasa Timur.

Jika saya membandingkan asrama dengan Panti Asuhan tempat saya tinggal dulu, saya menilai kalau di Panti Asuhan itulah saya sangat dididik dengan ketat dibandingkan dengan asrama Dan saya dapat berpikir positif akan hal itu. Berbeda zaman kanak-kanak dengan zaman dimasa dewasa. Tentu cara didikan dan aturannya berbeda. Kalau di Panti Asuhan, itu perlu yang namanya didikan secara penuh, karena masa pembentukan kepribadian seseorang itu dimulai dari kecil. Sehingga ketika dewasa hal-hal yang ditanamkan dari kecil bisa dibawa. Di asrama, kami tidak terlalu diatur oleh suster, karena suster telah memberikan kepercayaan penuh terhadap kami.  Bahwa sudah pada dewasa dan sudah tau mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Satu hal yang selalu diingatkan oleh suster “mengutamakan Tuhan”. Di dalam peraturaan Asrama ada yang namanya wajib mengikuti misa setiap  pagi. Jadi suster mengharapkan mahasiswi dapat mengikutinya. Dan saya berusaha untuk menjalaninya. Meskipun terkadang harus tidur pukul dua belas malam karena mengerjakan tugas, namun tetap berusaha agar bisa bangun pagi dan ke kapel untuk mengikuti misa.

Satu kalimat yang sering terpikirkan olehku “Aturan tidak menjamin kedisplinan diri seseorang, karena aturan asrama hanya sebagai sarana pembentukan diri seseorang”. Saya mengatakan hal itu karena belum tentu dengan adanya aturan yang ketat sesorang bisa berubah menjadi lebih disiplin. Terkadang itu dilakukannya hanya karena keterpaksaan agar bisa terhindar dari omelan atau teguran suster. Menurut saya itu sama saja bohong. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan kepekaan dan kesadaran diri masing-masing.

Hari-hari kan kujalani bersama teman seperjuangan. Suka duka dijalani bersama. Saling mendengar adalah hal yang biasa dikalangan kami. Terkadang, saya merasa lelah dengan semua yang terjadi. Memikirkan kuliah, tugas yang banyak, dan lain sebagainya. Namun dengan itu, tidak membuat saya semakin putus asa, malahan ini menjadi sebuah batu loncatan bagaimana supaya saya dapat menjalani dan mencari solusi yang baik.

Terkadang makan pun masih dipikirkan. Bagiku menjaga pola makan juga hal yang utama. Karena di asrama tidak menyediakan makanan. Masing-masing mengurus makanannya. Bukannya tidak menyukai masakan Jawa, cuman karena tidak terbiasa dengan makanan manis, maka Saya pun bertekad untuk memasak sendiri. Setelah sekian bulan masak sendiri, saya baru menyadari kalau masak sendiri lebih asyik dan sesuai dengan selera. Ini semua dapat melatih diri agar bisa memasak, meskipun masih harus belajar. Zaman sekarang ini untuk belajar satu hal itu sangat gampang karena adanya teknologi salah satunya yaitu Handphone , dengan membuka youtube. Semua itu dijalani dengan semangat dan selalu menghadapinya dengan senyuman.

Ingin hidup mandiri, maka ikutilah aturan yang berlaku dan berharap tidak melakukannya karena kewajiban dan juga keterpaksaan. Hendaknya bersikap luweslah,agar aturan itu dapat melekat pada diri sendiri. Maka dengan sendirinya akan terbiasa dan akan tampak dalam kehidupan setiap saat dimanapun kita berada. Karena pepatah lama mengatakan

“BERAKIT-RAKIT KE HULU,BERENANG-RENANG KE TEPIAN

BERSAKIT-SAKIT DAHULU,BERSENANG-SENANG KEMUDIAN”

Pepatah ini akan selalu mengingatkan setiap orang yang ingin berjuang dalam hidup. Karena menginginkan yang terbaik di dalam hidup tidak segampang membalikkan telapak tangan, akan tetapi membutuhkan proses yang panjang dan dibutuhkan kesabaran.

Febiana F.Halawa

Mahasiswi Akademi Sekretari dan Manajemen Marsudirini

(ASMI) Santa Maria Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here