Media Sosial sebagai Ruang bagi Industri Kreatif

0
68

Teknologi saat ini berkembang cukup pesat. Hal ini terlihat dari internet sebagai media baru yang telah menguasai ruang gerak kehidupan masyarakat. Perkembangan media baru juga memengaruhi berbagai subsektor industri kreatif di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa dengan adanya internet maka peluang masyarakat berkreasi dalam industri musik menjadi cukup besar. Peluang ini juga akan menunjang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat yang mampu bersaing di industri kreatif.

Digitalisasi selain menghasilkan budaya baru sebagai suatu wadah kreativitas juga berimbas pula pada era pembangunan ekonomi yang baru. Era ini dinamakan sebagai Era Ekonomi Kreatif, sebuah konsep yang mengutamakan ketrampilan dan kreativitas sumber daya sebagai faktor produksi dan didukung  subsektor industri kreatifnya. Salah satu subsektor dari industri kreatif adalah industri musik yang mencakup aktivitas kreatif dan berkaitan erat dengan proses memproduksi, memasarkan, dan mendistribusikan. Artikel ini ingin membahas lebih lanjut mengenai peran internet sebagai media baru bagi industri musik sebagai salah satu subsektor industri kreatif di Indonesia.

Berdasarkan hasil riset dari We Are Social pada bulan Januari tahun 2018,   jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar 132,7 juta pengguna dari total jumlah penduduk sebanyak 265,4 jiwa. Sebagian besar pengguna internet merupakan pengguna aktif media sosial yaitu sebanyak 130 juta pengguna. Maka dapat dikatakan bahwa media sosial memberikan pengaruh yang cukup besar untuk memproduksi dan memperkenalkan hasil kreasi dalam bermusik. Manfaat ini  menjadi peluang yang cukup besar bagi pemusik di Indonesia, salah satunya adalah Aviwkila yang tidak memerlukan waktu lama untuk dikenal masyarakat Indonesia.

Aviwkila muncul pertama kali melalui ajang pencarian bakat Rising Star Indonesia. Meski tidak mendapat gelar juara dan harus tereliminasi, Aviwkila yang dulunya bernama 15Econds! mulai memperkenalkan hasil kreasi mereka dengan melakukan cover lagu. Aviwkila dapat melihat adanya peluang besar untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai duo pendatang baru di Indonesia melalui YouTube dan Instagram. Hal ini terlihat dari 1.242.283 subcribers dan 584.000 followers yang dimiliki oleh Aviwkila. Melalui YouTube, Aviwkila secara rutin mengunggah hasil kreasi mereka baik itu lagu orisinal ataupun cover lagu yang biasanya merupakan hasil permintaan dari penggemarnya. Instagram pun digunakan oleh Aviwkila sebagai media untuk berkomunikasi dengan penggemarnya. Melalui caption yang menarik perhatian dari penggemarnya, setiap kali unggahan mereka di Instagram mendapatkan banyak respon penggemar.

YouTube dan Instagram menjadi ruang bagi industri kreatif untuk mengkomunikasikan hasil kreasi mereka. Hal ini sesuai dengan karakteristik pesan yang disampaikan  media sosial  yaitu multi pengguna, bebas, tidak terkontrol, cepat, dan mudah diakses. Berdasar pada karakteristik tersebut  pekerja di industri kreatif, dalam konteks ini adalah industri musik, dituntut selalu memiliki inovasi baru dan memiliki kreativitas untuk setiap karyanya. Inovasi dan kreativitas dari setiap konten yang diunggah pekerja kreatif  akan memengaruhi penikmat musik dalam mengapreasi karya yang ada. Atau dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa YouTube dan Instagram sebagai media sosial telah menjadi ruang baru di era saat ini. Suatu ruang bagi masyarakat untuk dapat tumbuh dan berkembang baik dari aspek sosial ataupun ekonomi secara produktif.

YouTube dan Instagram sebagai media sosial yang memberikan ruang  berkreativitas tidak selalu memberikan dampak positif bagi seluruh pihak. Beberapa waktu lalu terjadi perdebatan mengenai aturan dalam melakukan cover lagu dan mengunggah karya. Realita yang ada saat ini adalah pekerja kreatif yang meng-cover lagu memiliki segmen pendengarnya tersendiri dan seringkali lebih mendapatkan keuntungan daripada pencipta orisinal. Pada dasarnya hal ini tidak melanggar aturan tertentu jika mereka telah mendapatkan hak mekanikal (mechanical right) dari pencipta orisinal. Selain itu, pekerja kreatif juga perlu mendapatkan persetujuan dari pencipta untuk menggunakan lagunya diunggah di YouTube. Hal ini disebabkan YouTube telah menerapkan Synchronization License dan Content ID sebagai suatu upaya meminimalkan adanya pihak yang dirugikan atas video yang diunggah. Sistem algoritma dari YouTube dapat mendeteksi unggahan video memiliki kecocokan dengan karya orisinal dari pencipta lagu ataupun tidak. Ketika unggahan itu terdeksi adanya kecocokan dari karya orisinal, maka YouTube dapat memberikan dua alternatif kepada pencipta ataupun pemegang kontrak yaitu untuk memblokir video atau mendapatkan royalti dari iklan yang tayang di video tersebut.

Berdasar pemaparan mengenai aturan yang telah diterapkan, dapat dikatakan meski media sosial menjadi suatu wadah yang memudahkan pekerja kreatif  memperkenalkan dan memasarkan karya mereka,  pekerja kreatif dituntut bertanggung jawab atas karya yang mereka publikasikan. Hal ini dilakukan agar tidak ada pihak yang dirugikan dan media sosial dapat digunakan serta dimanfaatkan secara bijak oleh seluruh pihak.

Theresia Marrie Rosari Chrysaninta Wibowo Putri

mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana UAJY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here