Foodgram Hasilkan Jutaan Rupiah dari Hobi Fotografi

0
214
Sumber foto: adlibbing.org

Perkembangan dunia digital sekarang ini mendasari munculnya berbagai jenis bisnis baru, salah satunya foodgram. Foodgram merupakan sebutan bagi mereka, yang menggunakan media sosial instagram untuk berbagi foto makanan dan minuman serta didukung ulasan tentang produk tersebut dari sisi pemilik akun. Konten foto maupun video menjadi aspek utama yang harus diperhatikan, karena seorang foodgram dituntut dapat menyajikan tampilan yang menarik, agar mendapatkan banyak tanggapan positif dari pengikut (followers) akun instagramnya. Keberhasilan penyajian konten ini berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah pengikut, banyaknya penyuka foto, memberikan komentar, kemudian berdampak pula pada meningkatnya brand awareness dariproduk yang diulas. Dalam kampanye digital, foodgram juga berperan sebagai “buzzer” ataupun “influencer” . Menurut bahasa Indonesia, buzzer diartikan “pendengung” dan influencer merupakan “pemengaruh”. Sehingga foodgram dapat memiliki peran memperluas informasi serta menjadi sosok yang dipercaya oleh pengikut akunnya khususnya saat menyampaikan ulasan produk.

Sumber foto: IG @streetfoodstories

Seorang foodgram yang dapat mengelola konten secara menarik dan konsisten akan meraih jumlah pengikut yang melimpah, dan hal ini menjadi ladang bisnis yang bisa dikembangkan secara maksimal. Banyaknya pengikut dari sebuah akun foodgram mendorong para pengiklan tertarik untuk mempromosikan produknya. Promo melalui foodgram dianggap lebih terjangkau dari segi harga jika dibandingkan memasang iklan di televisi maupun di media cetak. Foodgram mengunggah produk dari pengiklan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran merek, penjualan produk, dan menginformasikan berbagai promo tentang brand tersebut. Foodgram menjadi salah satu bisnis yang berkembang dari hobi dan kecintaan terhadap makanan. Hal ini diakui oleh Thomas Wirananda, seorang food photographer dan food stylist sekaligus pemilik akun instagram @streetfoodstories. Melalui akun @streetfoodstories yang kini telah memiliki lebih dari 80.400 pengikut, Thomas mengakui memulai bisnis ini dari kesukaannya memotret makanan. “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”, seperti itulah peribahasa yang tepat untuk menjelaskan berkembangnya bisnis foodgram.

“Awalnya suka motret makanan dan hasil fotonya banyak disukai followers. Sekarang juga semakin dipercaya jadi pengisi kelas fotografi makanan, jadi aku jalani selama itu positif,” jelas Thomas saat ditemui Sabtu (20/4/2019) di sela-sela kesibukannya. Sama halnya dengan pemilik akun @Dyodoran yang saat ini telah memiliki pengikut sebanyak 510.000 di instagram. Tidak hanya di Yogyakarta, Dyo sapaan akrabnya ini mengaku sudah banyak produk makanan dari luar kota yang telah mengajak kerjasama.

Sumber foto: IG @streetfoodstories

“Mulai buat konten instagram tahun 2014, itu cuma pakai hp. Tapi sekarang klien banyak dari Jakarta. Ya, sebulan minimal sekali pasti ke Jakarta, bikin video motret makanan, dan semacamnya,” jelas pria asal Wonosobo ini. Dyo menambahkan, dari menjadi seorang foodgram harus terus meningkatkan kualitas konten mengingat ke depannya pasti akan semakin banyak persaingan. Foodgram sebagai bisnis, bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan karena pertama, mereka menggunakan aplikasi instagram yang dapat diunduh secara gratis di IOS maupun android. Kedua, bisnis ini bisa dimulai dengan modal yang kecil, bisa menggunakan kamera handphone yang saat ini juga telah banyak smartphone dengan kualitas gambar yang bagus dengan harga terjangkau. Ketiga, foodgram menjadi bisnis yang berangkat dari pemikiran: “hobi yang dibayar”. Bekerja sesuai hobi dan kegemaran bisa menjadi pekerjaan impian bagi banyak orang, karena nilai kerjasama dan pengaturan waktu diputuskan oleh foodgram itu sendiri.

“Untuk menjadi seorang foodgram, kita juga harus profesional. Kita juga cari klien, bahkan kita punya tim juga. Tetap harus serius menjalankannya biar klien senang kerjasama sama kita,” jelas Hilda, pemilik akun @JogjaCulinary yang memiliki lebih dari 237.000 pengikut. Hilda menambahkan, masing-masing foodgram harus punya “unique value” agar punya daya saing dan juga berbeda dengan foodgram lainnya.

Sebagai suatu bisnis, foodgram bisa menjadi hobi sekaligus sumber pendapatan yang menjanjikan. Pendapatan seorang foodgram di Yogyakarta umumnya dihitung per satu kali unggah foto di halaman instagram mereka. Rata-rata harga mencapai Rp. 750.000 – Rp. 1.250.000 setiap satu kali unggah foto. Sementara itu untuk harga satu video dipatok dengan harga mulai Rp. 2.000.000/ per video. Harga ini tentu berbeda dengan foodgram dari kota lain seperti contoh Jakarta ataupun Surabaya yang memiliki standar yang berbeda. Setiap foodgram memiliki harga yang berbeda-beda tergantung dengan jumlah pengikut, dan juga sejauh mana foodgram ini konsisten dengan isi dan juga kualitas foto dan video yang ditampilkan. Foodgram seringkali memiliki komunitas dengan minat yang sama, hal ini bertujuan untuk menguatkan fungsi “buzzer” khususnya saat mempromosikan produk. Tidak jarang foodgram ini bekerja secara berkelompok, di mana hal ini memungkinkan produk  diunggah di beberapa akun foodgram dengan harga paket khusus bagi pengiklan. Pada perkembangannya, para pelaku bisnis ini, tidak hanya menjadikan media sosial instagram untuk mempromosikan produk, namun kemudian terus berkembang ke Youtube untuk dapat menyajikan video dengan durasi lebih panjang. Hal ini menjadi salah satu bentuk peningkatan mutu dari masing-masing foodgram karena seiring perkembangan dunia digital, setiap pelaku bisnis online seperti ini dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif.

Wahyu Hidayati

Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here