Menjemput Kembali Nalar Kritis Mahasiswa Yang Sirna  

0
282
Foto/sumber: www.eramuslim.com

Mahasiswa dikenal sebagai orang terpelajar, dan pada pundaknya lah nasib negara ini digantungkan. Mahasiswa adalah bibit bangsa yang senantiasa akan menjadi agen of change masa depan. Peran mahasiwa terhadap bangsa tidak semena-mena dapat dilupakan begitu saja, sejarah mencatat bahwa kehadiran mahasiwa yang menjadi ujung tombak reformasi kala orde baru, cukup menjadi bukti atas kontribusi nyata mahasiwa terhadap bangsa ini demi tercapai demokrasi yang berkeadilan dan jauh oligarki kekuasaan.

Pada masa reformasi, ketika negara ini tengah dirundung gaduh atas kekuasaan semana-mena kala itu, mahasiwa hadir di garda utama dalam upaya merobohkan dinasti kekuasaan yang penuh dengan nepotisme serta arogansi kekuasaan. Tatkala media-media masa takut menyiarkan kebobrokan negeri ini pada masa itu, mahasiswa dengan lembaga persnya lantang menyuarakan kebenaran disaat semua mulut dibungkam, media-media informasi dicekam hingga intervensi terhadap lembaga pemerintahan. Lembaga Pers Mahasiwa Arena (LPM Arena) kala itu menjadi media yang paling diperhitungkan.

Berbagai kejadian-kejadian kelam pada masa kekuasaan Soeharto telah menelan banyak korban jiwa. Mahasiswa yang kritis dan berapi-api menggulingkan pemerintahan pada saat itu ditangkap, dipenjara bahkan ada yang hilang dan mati ditelan kegelapan, dan sebagian jasadnya sampai saat ini belum juga ditemukan.  Namun itu semua tidak mampu meredam kekuatan dan tekat mahasiwa untuk terus memperjuangkan reformasi. Semuanya adalah bukti nyata bahwa mahasiswa adalah sosok yang sangat diperhitungkan di negeri ini sehingga mahasiwa dan para aktivis kala itu berhasil menggulingkan Soeharto.

Sayangnya keadaan itu tidak terjadi pada mahasiswa saat ini. Jika dulu mahasiwa di warung kopi panas membangun narasi argumentasi untuk diskusi sekarang mahasiswa panas dengan musuhnya digame PUBG. Jika dulu mahasiswa sibuk menulis untuk mengkritik penguasa sekarang lebih sibuk merangkai kata agar menarik wanita distory wanya.  Jika dulu mahasiswa demonstrasi untuk membela rakyat kecil yang tertindas sekarang demo hanya dijadikan formalitas seperti selfie, sebatang rokok dan sebungkus nasi. Dekadensi daya kritis mahasiwa semakin hari semakin hilang baunya, menjadikan penjahat-penjahat bangsa berseliuran di mana-mana, tak terkecuali mafia-mafia kampus itu sendiri.

Sebagai insan akedemis kritisasi diri seharusnya dibangun sejak dini, mengkritik kinerja pemerintahan kampus misalnya: seperti masalah rekrutmen kepengurusan dan keluar masuknya anggaran, harusnya hal-hal seperti ini dijaga, dipantau dan dicari kebenerannya. Masalah rekrutmen misalnya, yang kerap terjadi di kampus-kampus selalu mempreriotaskan teman seorganisasi atau teman dekat bahkan secara kualitas nol. Tanpa mengikuti prosedur mudah saja leha-leha menduduki kursi kepengurusan tersebut.

Juga masalah anggaran misalnya, seharusnya mahasiswa lebih jeli lagi dalam hal ini karena sebagaimana yang kita ketahui setiap Lembaga Kegiatan Mahasiwa (LKM) yang sudah legal dari fakutas maupun universitas mendapatkan kucuran anggaran yang lumayan meski tidak sebesar anggaran anggota dewan yang ada di senayan. Keselerasan dengan progam kerja juga transparansi keluar masuknya anggaran tersebut juga harus sama-sama diusut, sebab bagaimanapun dalam uang anggaran yang kampus kucurkan terdapat hak dan uang kita yang dibayar setiap semesternya.

Hal-hal kecil semacam ini sudah agak luntur di lingkungan kampus, kritikan keras dan kawalan ketat yang seharusnya tetap dilestarikan kini kian punah. Padahal daya kritis semacam ini sangat dibutuhkan oleh bangsa ini ke depan, disaat  negara tengah mengalami krisis kepemimpinan yang kritis dan berintegritas.

Pengontrolan kelola lembaga kegiatan mahasiswa seharusnya menjadi bahan pelatihan dalam upaya menumbuhkan daya kritis pemikiran sejak di bangku kuliah. Kontrol ini sangat membantu teman-teman yang mendapat kesempatan untuk menjadi pengurus bahkan ketua-ketua di kampus agar lebih hati-hati dan tidak menggunakan kekuasaanya dengan menghilangkan martabat insan akademis. Sebagaimana kata Pram bahwa seorang terpelajar harus adil sejak dalam berfikir apa lagi dalam perbuatannya.

Elaborasi dini adalah cara paling tepat untuk menumbuhkan rasa empati terhadap lingkungan sekitar, sehingga nantinya akan menjadi bahan referensi pengalaman ketika terjun didunia social. Keadaan ini akan menjadikan kita sebagai manusia bukan hanya sebagai seorang yang akademis tetapi kritis pada sesuatu hal sifatnya sosial kemanusiaan yang lebih tepatnya adalah merupakan kebijakan publik.

Indonesia saat ini mendambakan tokoh-tokoh pemberani berintegritas yang dilahirkan dari seorang aktivis seperti jebolan aktivis 98. Diharapkan kehadiran tokoh seperti  masa orba ini sebagai agen of control terhadap roda kepemerintahan untuk mempersempit gerak gerik para penghianat bangsa.

Menjadi mahasiwa yang pastinya hidup lingkungan kampus yang dikenal sistemnya seperti halnya miniatur negara adalah kesempatan emas untuk menanam diri dengan sebaik mungkin dalam rangka mempersiapkan diri mengabdi kepada pada negeri, demi tegaknya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk mencapai itu, mahasiswa harus kembali menjemput semangat aktivis reformasi dari pada sibuk main game PUBG.

 

Oleh: Zainuddin

Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here