Hoax Ancam Disintegrasi Bangsa

0
168
Foto/sumber: www.sleuthsayers.org

Dewasa ini, teknologi informasi berkembang sangat pesat dan tidak terkontrol. Adanya internet menciptakan ruang maya baru bagi penggunanya. Ditambah lagi adanya media sosial sebagai penghubung antar pengguna yang memberikan kesempatan kemerdekaan seluas-luasnya dalam menyuarakan aspirasi tanpa batas.  Kemudahan aksesibilitas dan luasnya ruang lingkup penggunanya menjadikan media sosial sebagai penggerak roda informasi di masyarakat.

Pada perkembangannya media sosial adalah  gudang informasi publik yang dapat diakses siapapun dan dimanapun. Hanya dalam hitungan detik saja, Informasi dapat langsung tersebar luas dan menjadi konsumsi publik. Adanya perkembangan semacam ini kemudian memunculkan dua sisi mata uang. Di satu sisi menjadi peluang yang menguntungkan, masyarakat menjadi lebih kritis dan lebih responsif terhadap suatu persolan yang terjadi. Namun disisi lain memberi ancaman atau memberi dampak negatif yang mengarah pada perpecahan.

Seperti yang kita ketahui bersama, sekarang ini media sosial malah disalahgunakan  oleh segelintir orang untuk membuat kegaduhan sosial.  Wabah penyakit media sosial yang berkonten ujaran kebencian atau hate speech, intoleransi dan informasi fiktif atau hoax menghiasi jagad media sosial.

Menjadi penting untuk diperhatikan mengingat wabah tersebut berkaitan dengan kepentingan berbangsa dan bernegara. Kebebasan menyuarakan pendapat dan berasumsi terkadang mejadikan berita kecil dibesar-besarkan berdasar prespektif masing-masing kepala.

Sebagai salah satu contoh mengenai isu-isu politik di Indonesia yang semakin hari semakin tidak memunculkan kredibilitas yang baik. Media sosial yang seharusnya berfungsi sebagai media percepatan informasi, malah menjadi ladang adu domba. Kegaduhan dan isu-isu sosial kemudian berdampak pada struktur kehidupan riil di masyarakat. Sikap intoleran dan pembicaraan bernada kebencian secara mudah berafiliasi menjadi perilaku yang wajar dalam masyarakat.

Foto/penuis: Ayatul Ma’rifah,Jurusan Administrasi Publik, Universitas Negeri Yogyakarta

Fenomena semacam ini secara tidak sadar mengancam keselamatan nasional dan menimbulkan disintegrasi bangsa. Adanya penyebaran wabah hoax dapat menimbulkan kemunduran moral yang dapat membahayakan peradaban khususnya generasi muda.

Propaganda yang terjadi setiap hari akan menyebabkan perpecahan dan  memudarnya nilai Pancasila yang ke-3. Dalam menghadapi persoalan samacam ini, sebenarnya pemerintah sudah mengambil peran dengan memblokir situs-situs yang tidak bertanggung-jawab dan mengundangan UU ITE untuk menjerat aktor kegaduhan sosial. Akan tetapi pada kenyataannya, propaganda kegaduhan sosial dan penyebaran hoax tetap saja terjadi, bahkan semakin berkembang.

Hal tersebut dikarenakan pengetahuan masyarakat hanya terbatas dan belum bijakd alam menggunakan media sosial. Penataan kembali sistematika penyebaran informasi dan literasi media perlu disosialisasikan agar masyarakat lebih selektif dan cerdas dalam berkomunikasi di media sosial.

Kampanye memerangi hate speech serta payung hukum yang tegas juga perlu digaungkan  untuk mempersempit ruang pelaku penyebar hoax. Bagaimanpun kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia harus kita jaga bersama,  kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi.

 

Penulis:  Ayatul Ma’rifah,
Jurusan Administrasi Publik, Universitas Negeri Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here