Seminar Kebangsaan yang di Gagas Forges dan FMKI DIY ajak Orang Muda Lintas Iman Terlibat Akif dalam Merawat Kebhinekaan di Indonesia.

0
92
Foto: Narasumber sedang memperkenalkan diri dalam Seminar Kebangsaan yang di Gagas Forges dan FKMKI DIY, Sabtu (09/03/2019)

Yogyakarta-Forges dan FMKI DIY melakukan Seminar Kebangsaan bagi milenial lintas agama di Yogyakarta. Seminar ini bertujuan untuk menggugah kembali semangat kebangsaan dan semangat pancasila yang mulai luntur di kehidupan generasi muda.

Petrus Eko Nugroho, selaku ketua panitia menilai bahwa berbagai kasus kekerasan dan intolerasi yang kerap kali terjadi menjadikan kegiatan-kegiatan yang menguatkan kebhinekaan, pancasila dan NKRI penting untuk dilakukan.

“Dalam waktu beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan ini banyak terjadi tindakan intoleransi maka dari itu kami ingin menggugah kembali semangat kebangsaan dan semangat pancasila yang mulai luntur di kehidupan berbangsa dan bernegara” katanya di Wisma Syantikara, Sabtu (09/03/2019).

Eko juga berharap agar kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan dan semangat baru yang dapat berimlikasi dalam aksi dan pergerakan generasi muda, baik di kampus, organisasi, gereja, masjid ataupun karang taruna.

Kegiatan yang mengangkat judul “Orang Muda Menjaga dan Merawat Kebhinekaan di Era Milenial” ini merupakan bentuk kerja sama antara Forum Gaudium et Spes (Forges) Jakarta dengan Forum Masyarakat Katolik Indonesia DIY (FMKI DIY).

Kegiatan yang dilakukan di Wisma Syantikara menghadirkan narasumber-narasumber yang berkompeten dalam bidangnya seperti Pujalaksono Widyakanigara, Yustinus Prastowo dan Rm. Subanar SJ.

Dalam Seminar Kebangsaan ini, masing-masing narasumber memaparkan materinya selama 30 menit, kemudian dipertajam dengan sisi tanya jawab dengan peserta.

Pujalaksono Widyakanigara dalam pemaparannya mengingatkan tentang pentingnya peranan akademisi menjaga keberagaman di dalam kehidupan kampus. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan, keterbukaan dan keberanian dari seorang akademisi dalam mewujudkan kebhinekaan di lingkungan kampus.

“Seorang akademisi didasari oleh rasionalitas dan kebebasan untuk bisa menciptakan kesejukan dan kebaikan. Maka dari itu perlu adanya keterlibatan, keterbukaan dan keberanian dari seorang akademisi dalam mewujudkan kebhinekaan di lingkungan kampus. Salahnya akademisi saat ini banyak yang diam”, katanya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk untuk bebas dari segala bentuk dogma yang menyesatkan, bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam keberagaman serta bebas untuk berekspresi dan berinovasi.

Foto: Narsumber menerima Cenramata dari panitia dalam kegiatan Seminar Kebangsaan, Sabtu (09/03/2019).

Kemudian Rm, Subanar SJ dalam pemaparannya menyinggung tentang pentingnya kedalaman berpikir bagi generasi muda untuk bisa mencari dan menemukan pesan secara lebih jernih dan lebih tepat.

Baginya kemerdekaan harus di isi dengan kebebasan untuk memperkaya diri dengan berbagai macam pengalaman, keilmuan, pengetahuan dan kepedulian untuk terus membentuk diri dalam bingkai kebhinekaan.

Sementara itu, Yustinus Prastowo dalam pemaparannya lebih banyak menyinggung tentang pentingnya partisipasi politik. Baginya maju atau tidaknya sebuah negara bukan ditentukan dari siapa pemimpinnya dan apa suku serta agamanya, tetapi ditentukan oleh sistem politik yang ada.

“Yang menetukan sebuah negara maju atau tidak bukan ditentukan dari siapa pemimpinnya dan apa suku serta agamanya, tetapi ditentukan oleh sistem politik yang ada di sebuah negara tersebut. Maka dari itu politik adalah jalan terbaik untuk membawa keselamatan”, katanya.

Ia menambahkan bahwa politik baik untuk menghadirkan kebaikan bersama, maka dari itu politik harus di isi oleh orang baik dan sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memilih orang baik dalam politik.

Foto: Sesi foto bersama dalam kegiatan Seminar Kebangsaan di Wisma Syantikara, Sabtu (09/03/2019)

Kegiatan yang berlangsung selama 3 jam tersebut mendapat respon yang luar biasa dari peserta yang hadir. Hal itu terlihat jelas dari antusiasme peserta untuk bertanya tentang berbagai fenomena yang terjadi akhir-akhir ini.

Johan, salah satu mahasiwa Atma Jaya mengaku senang karena bisa mendapatkan perspektif baru dengan adanya kegiatan sarasehan.

“Senang bisa hadir karena memberikan persepektif baru dalam melihat keberagaman di Indonesia serta bisa mengerti tentang pentingnya keterlibatan dan partisipasi dalam berbagai hal termasuk di politik” imbuhnya.

Seminar Kebangsaan ini diakhiri dengan deklarasi kebangsaan sebagai bentuk kepedulian dan komitmen bersama dalam menegakan Pancasila, menjaga keberagaman dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Reporter : Rian Antony

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here