Tikung Amerika di Sepertiga Malam  

0
62
Foto: Istimewa

Kita pasti pernah mendengar mengenai Freeport. Tambang terbesar dengan medan yang sangat sulit yang berada di Indonesia,tepatnya di Papua. Sering kali tambang emas ini membuat kegaduhan di antara para netizen. Para netizen banyak menyalahkan kinerja pemerintah yang kurang ahli dalam mengelola tambang emas ini. Lebih dari 51 tahun tambang di Papua ini telah dikuasai oleh Negara asing. Hal itulah yang memunculkan pertanyaan besar, seberapa besar tambang emas yang ada di papua ini sampai-sampai direbutin oleh Negara asing?.

Dilansir dari detikFinance dari laporan keuangan Freeport McMorRan Inc periode 2017, Freeport Indonesia di Papua tercatat memiliki 6 tambang. Di antaranya DMLZ, Grasberg open pit, DOZ, Big Gossan, Grasberg Block Cave dan tambang Kucing Liar. Dari ke enam tambang tersebut, Grasberg Block Cave merupakan penghasil tembaga dan emas terbesar dengan cadangan sekitar 963 juta metrik ton, dengan tembaga sekitar 1,01%, kandungan emas 0,72 gram per metrik ton, kemudian perak tercatat 3,52 gram per metrik ton.

Selanjutnya tambang DMLZ menduduki posisi kedua dengan jumlah 437 juta metrik ton dengan kandungan tembaga 0,91%, emas 0,75 gram per metrik ton dan perak 4,39 gram per metrik ton. Sementara itu, tambang Kucing Liar berada di posisi ketiga yakni 360 juta metrik ton, dengan jumlah tembaga 1,25% kandungan emas yang mencapai 1,07 gram per metrik ton dan perak tercatat 6,48 per metrik ton.

Adapun tambang DOZ yang memiliki cadangan sebesar 79 juta metrik ton, dimana tembaga mencapai 0,54%, emas 0,54 gram per metrik ton dan perak 0,76 gram per metrik ton. Lalu tambang Big Gosaan tercatat memiliki kandungan 58 juta metrik ton, dengan jumlah tembaga mencapai 2,22%, kemudian emas 0,93 gram per metrik ton dan perak 13,18 gram per metrik ton.

Terakhir tambang Grasberg Open Pit tercatat 34 juta metrik ton, dengan konsentrat tembaga 1,29 gram per metrik ton. Sementara kandungan emas di wilayah ini tercatat lebih besar dibandingkan tambang lain yakni mencapai 2,64 gram per metrik ton disusul perak yang mencapai 3,63 gram per metrik ton.

Sekarang kita sudah mengetahui betapa besarnya kekayaan yang bisa diraup dari tambang ini. Namun ada satu hal yang tidak banyak diketahui banyak orang. Untuk mendapatkan kekayaan sedemikian banyaknya, medan yang di lalui sangatlah sulit. Hal ini diperparah dengan oksigen yang terbatas untuk masuk ke dalam terowongan. Kemudian jarak yang ditempuh untuk mendapatkan emas juga semakin jauh. Untuk itu, kita pasti akan membutuhkan alat-alat canggih dari Negara asing.

Hal itulah yang menyebabkan kita terpaksa bekerjasama dengan Negara asing untuk sama-sama mengelola Freeport. Sudah lebih dari 51 tahun kekayaan yang ada di papua ini diambil oleh Negara asing dan kita hanya mendapatkan bagian yang sangat sedikit. Keadaaan inilah yang membuat para netizen mulai menghujat pemerintahan yang tidak bisa mengurus tambang.

Dalam sejarahnya, Indonesia hanya memiliki kepemilikan sekitar 9,36 persen yang dihitung-hitung jumlahnya masih kalah dengan kepemilikan Amerika yang mencapai 90,64 persen. Hal ini akan sangat merugikan bagi masyarakat Indonesia mengingat tambang tersebut merupakan tambang terbesar di Indonesia. Letak tambang yang berada di negeri ini membuat kita berpeluang besar untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi lagi. Namun, sekali lagi sejarah telah membuktikan kita hanya mendapatkan secuil dari tambang tersebut.

Dikutip dari medcom.id bahwa penguasaan Freeport di Negara kita berawal dari keterpurukan ekonomi Indonesia yang mengharuskan pemerintahan Soeharto mengizinkan Freeport menambang emas dengan sistem kontrak karya (KK). Tanpa izin tersebut, Indonesia sulit bertahan lantaran membutuhkan investasi dalam jumlah besar.

Sistem KK inilah yang menyebabkan Freeport sulit kembali ke tangan pemerintah. Pasalnya, sistem ini dibuat tanpa diikat oleh hukum pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). Pada saat itu tata hukum masih amburadul alias belum tertib. Karenanya, pengoperasian tambang emas di ujung Timur Indonesia ini dilakukan dalam bentuk perjanjian perdata antara pemerintah dan Freeport sepanjang 1971-1988.

Bapak Proklamator kita pernah berkata “kekayaan alam di Indonesia pada hakikatnya harus dipergunakan untuk kesejahteraan bangsa sendiri”. Sekarang, hal itulah yang sedang dilakukan bangsa Indonesia. Pemerintah terus melakukan segala upaya untuk merebut Freeport kembali.

Akhirnya, Presiden Jokowi memulai langkah perebutan Freeport. Beliau memberikan arahan kepada para pembantunya dalam rapat tertutup di Istana Kepresidenan, Jakarta. Ia meminta kepemilikan negara di PTFI ditingkatkan menjadi 51 persen dari sebelumnya 9,36 persen. Arahan tersebut langsung direspons oleh Kementerian ESDM dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2017 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara.

Peraturan tersebut memuat tentang perubahan ketentuan divestasi saham sampai dengan 51 persen secara bertahap serta kewajiban pemegang Kontrak Karya (KK) untuk merubah izinnya menjadi rezim Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Setelah itu, pemerintah dengan sigap melakukan renegosiasi dengan Freeport McMoRan (FCX) yang tercatat memiliki 90,64 persen saham PTFI.

Proses renegosiasi berlangsung cukup alot hingga memakan waktu enam bulan. Hal ini dikarenakan kesepakatan renegosiasi mencakup empat poin yaitu divestasi 51 persen, kelanjutan operasi PTFI hingga 2041 melalui perubahan KK menjadi IUPK, jaminan investasi jangka panjang terkait dengan perpajakan, PNBP dan jaminan regulasi, serta pembangunan smelter dengan deadline operasional pada 12 Januari 2022.

Ini hanyalah awal dari sebuah perjuangan. Masih banyak tanggungjawab yang harus kita selesaikan dan masih banyak aset yang harus kita perjuangkan. Kita pernah mendengar bahwa mimpi adalah jalan menuju kesuksesan. Indonesia mempunyai mimpi yang besar. Indonesia mempunyai beragam suku yang saling menguatkan. Untuk itulah kesuksesan di hari ini perlu ada dan akan akan terus ada sampai Indonesia sejahtera.

 

Muhammad Nur Faizi

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here