Kekerasan terhadap Guru bukti turunnya moralitas siswa

2
145
Sumber foto: timesheighereducation.com

Saat ini, orang tidak lagi mendiskusikan kekerasan sebagai lawan dari kelemah lembutan. Orang bicara dan mendiskusikan kekerasan sebagai kultur baru dalam hidup sehari-hari. Agak terkesan banal, tetapi nyata, dewasa ini ada “kultur kekerasan” (Riyanto, 2013:93).

Kultur kekerasan menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan beberapa brutalnya tindakan kekerasan yang terjadi di negeri ini. Saat ini, kekerasan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Maka dari itu, beberapa orang bangga bahkan merasa gagah dengan segala bentuk kekerasan yang dilakukannya dengan dalil-dalil yang bagi sebanyak orang melihat itu sebagai sebuah penyimpangan dan kesesatan berpikir. Namun siapa peduli, karena kekerasan masih menjadi panggung yang ampuh untuk meningkatkan identitas diri di depan banyak orang. Lihatlah sweeping yang selalu mendapat sorotan, klitih yang selalu didiskusikan bahkan bentakan hingga tantangan kepada seorang guru honorer di salah satu SMP di Gresik yang akhir-akhir ini viral dan ramai diperbincangkan.

Pertanyaannya adalah mengapa manusia harus menonjolkan kekerasan? Tidak lagi adakah hormat menghormati? Tidak ada lagikah sayang menyayangi? Dimana cerminan Nelson Mandela di kehidupan kita yang lebih memilih perdamaian daripada tindakan kekerasan? Atau sudah retakkah cerminan Bunda Theresa yang memilih mengulurkan tangan sebagai tanda cinta dan kepedulian terhadap sesama? dan bukankah manusia sendiri diciptakan untuk saling mencintai?

Filosof Blaise Pascal  (1623-1662) -salah satu penulis terpenting periode Klasik Prancis dan salah satu master prosa Prancis terbesar- mengatakan bahwa kekerasan tidak pernah menjadi bukti akan kebenaran. Maka dari itu, adalah benar tindakan banyak pihak yang mengutuk tindakan kekerasan yang terjadi, terlebih yang kerap kali menimpa seorang guru.

Dilansir dari detikcom, Minggu (10/2/2019), Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan kejadian murid melakukan kekerasan terhadap guru di salah satu SMP di Gresik bisa saja berasal dari guru itu sendiri seperti rendahnya kompetensi paedagogik guru, terutama dalam penguasaan di kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan dan menantang kreativitas serta minat siswa.

Saya atau mungkin sebagian besar orang tentu tidak sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Komisioner KPAI Bidang Pendidikan tersebut. Keadaan ini bukan tanpa alasan, hal itu didasarkan pada kurikulum pendidikan yang memberikan ruang yang besar kepada para setiap calon guru untuk menguasai teknik-teknik mengajar yang baik dan benar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Maka dari itu, tidak heran jika kompetensi-kompetensi seperti penguasaan kelas, pemilihan kata, pengendalian emosi dan penggunaan berbagai sarana untuk menciptakan suasana belajar yang efektif  sudah dimiliki oleh seorang guru. Oleh sebab itu, tidak ada dasar ketika seorang guru menjadi kambing hitam atas perilaku buruk seorang siswa.

Kekerasan yang menimpa seorang guru di salah satu SMP di Gresik menunjukan menurunnya moralitas siswa dalam menghormati dan menghargai peran guru sebagai seorang pendidik. Bagaimanpun juga guru adalah tangan Tuhan yang membimbing anak-anaknya untuk sampai pada harapan dan cita-cita.  Bagimanapun juga guru memiliki tanggung jawab yang besar untuk mendidik, membimbing dan mengarahkah setiap siswa menjadi pribadi yang unggul, teruji dan bermartabat. Maka dari itu, tidak ada salahnya ketika seorang memberikan teguran –dalam batas normal dan sesuai koridor yang berlaku- atas setiap perilaku buruk yang ditunjukan oleh siswa di lingkungan sekolah.

Sekali lagi, sangatlah penting bagi semua pihak untuk menjauhkan diri dari segala tindakan kekerasan. Lebih baik hidup dengan menaburkan kasih, cinta dan kedamaian di hati setiap orang karena pepatah latin mengatakan Gratior Et Pulchro Veniens In Corpore Virtus.

 

Rian Antony

Mahasiswa Fisip UAJY

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here