Perempuan dan Konsep Cantik Ala Media

0
81
Sumber foto: Indianexpress.com

Sejak dahulu, perempuan dan media menjadi hal yang sulit dipisahkan, terutama karena banyak aspek dari sisi perempuan yang dapat digali di media. Kecantikan, misalnya, menjadi salah satu faktor yang kerap diasosiasikan dengan perempuan. Konsep kecantikan yang sebenarnya relatif dan abstrak sudah memiliki tolok ukur dengan adanya penggambaran di media.

Informasi di media massa tidak henti-hentinya mempertontonkan perempuan dengan tolok ukur kecantikan tertentu: putih, langsing, hidung mancung, dagu lancip, dan tinggi. Tolok ukur ini tidak terlepas dari faktor sejarah bangsa Asia, terutama Indonesia, yang dijajah oleh bangsa kulit putih. Namun, lebih jauh lagi, konsep kecantikan perempuan yang disandingkan dengan kulit putih sudah lama terbentuk dari kisah Ramayana. Luh Ayu Saraswati (dalam Melati, 2017) menceritakan dalam kisah Ramayana, tokoh Rama mendeskripsikan kecantikan Shinta dengan kulitnya yang terang seperti cahaya bulan.

Konsep terang yang kemudian dikaitkan dengan warna putih membawa pemikiran masyarakat bahwa kecantikan perempuan adalah memiliki kulit putih. Belum lagi historis Indonesia yang mengalami kolonialisasi selama 350 tahun oleh bangsa Belanda yang memiliki kulit putih, kian mengamini bahwa bangsa kulit putih adalah bangsa yang superior. Masa kolonialisasi memunculkan apa yang disebut sebagai pesona Barat atau keterpesonaan pada kulit putih. Kulit putih tidak hanya dipandang sebagai cantik tapi juga superior.

Celakanya, konsep kecantikan yang diukur dari warna kulit terus menerus digembar-gemborkan di media. Dalam media film atau serial televisi, sering kita temui perempuan-perempuan dengan kulit putih menjadi peran utama dan dipersepsikan cantik. Sementara perempuan-perempuan yang tidak memiliki kulit putih dikesampingkan atau memiliki peran yang tidak seberuntung aktris berkulit putih. Ditambah dengan penayangan produk pemutih kulit yang lalu lalang di layar televisi.

Dalam menjual produknya, tentu saja iklan tersebut  meminang perempuan dengan kulit putih dan sering kali diikuti oleh emosi, seperti perasaan tidak diinginkan bila memiliki kulit  kusam atau gelap. Terpaan iklan produk pemutih kulit dan penayangan perempuan berkulit putih di media semakin mengukuhkan pandangan bahwa cantik adalah berkulit putih.

Media telah mendoktrin dan menyuguhkan serangkaian kriteria yang harus dipenuhi perempuan untuk menjadi cantik, sehingga perempuan yang tidak dapat memenuhi kriteria tersebut dianggap tidak cantik. Hal tersebut menimbulkan perasaan khawatir karena tidak mampu memenuhi kriteria menjadi cantik. Tak ayal kemudian prosedur bedah plastik menjadi populer untuk mengubah bentuk fisik perempuan. Bagi yang belum memiliki dana atau enggan melakukan operasi plastik, deretan kosmetik memberikan pilihan kepada perempuan untuk dapat mengubah penampilannya.

Media baru seperti Youtube atau Instagram menjadi sarana bagi beberapa orang untuk mengenalkan berbagai teknik pemakaian kosmetik yang dapat mengubah bentuk wajah. Teknik penggunaan contour atau shading dapat memberikan kesan wajah lebih tirus, ilusi dagu lebih lancip, dahi lebih kecil, dan hidung lebih mancung. Beberapa bulan terakhir ini, justru marak di Instagram penggunaan selotip untuk menekan kulit berlebih di sekitar rahang supaya wajah terlihat lebih kecil dan dagu lebih lancip. Bahkan banyak pula yang memanfaatkan lilin microcrystalline untuk mengakali fitur di wajah yang dianggap “kurang”.

Penggunaan lilin microcrystalline  bukan hal yang baru di dunia kecantikan, tapi popularitasnya meningkat akhir-akhir ini bukan untuk special effect makeup yang penggunaannya umum digunakan, tapi justru penggunaannya sebagai produk kecantikan pada umumnya. Video penggunaan lilin ini sering menampilkan perempuan dengan riasan penuh dan kemudian menghapus riasannya diawali dengan menusuk hidung dan dagunya yang dilapisi dengan lilin. Tidak sedikit juga video yang mempertontonkan cara mereka melakukan riasan yang diawali dengan penggunaan lotion pemutih instan.

Gambaran cantik sempurna yang dikonstruksikan  media turut menggiring perempuan melakukan berbagai cara agar dirinya dapat memenuhi kriteria ideal dari apa yang disebut cantik. Lebih parahnya, tren tersebut diikuti oleh banyak “beauty influencer” atau akun yang banyak mengunggah ulang video serupa yang memiliki banyak pengikut, sehingga  seakan turut melegitimasi konsep kecantikan yang dibangun oleh media. Seakan kecantikan yang dicitrakan media adalah standar kecantikan yang sesungguhnya.

Nama beauty influencer yang kerap disandingkan dengan orang-orang yang mendedikasikan akun sosial medianya untuk produk kecantikan dan kosmetik selayaknya menggunakan penyematan nama tersebut dengan bijak. Sesuai dengan namanya, influencer dapat memberikan berbagai pengaruh terhadap pengikutnya. Tidak hanya seorang influencer, semua individu yang berkecimpung di dunia media sosial memiliki pengaruh tertentu terhadap pengikut, terutama pada pikiran mereka.

Saya memiliki seorang teman yang sangat mengidolakan seorang vlogger yang memfokuskan diri pada kecantikan dan teman saya mengikuti teknik-teknik riasan tertentu yang disarankan dan mempercayai seluruh hasil review atas produk tertentu dari vlogger tersebut. Bahkan teman saya itu sudah mencapai tahap menjadi advocate dengan merekomendasikan teman-teman lain menonton konten  sang vlogger sekaligus produk-produk yang digunakan beauty vlogger tersebut. Ini adalah salah satu contoh bagaimana pengaruh besar individu di sosial media kepada pengikutnya dan dimanfaatkan  berbagai produk kecantikan  memasarkan produk sekaligus merekonstruksi konsep kecantikan.

Tanpa disadari, perempuan telah menjadi korban dari persepsi kecantikan yang dibangun  media beserta antek-anteknya. Perempuan ditekan dengan berbagai standar kecantikan, berlomba-lomba  menjadi cantik seperti pada umumnya, sehingga melupakan apa yang paling penting, yaitu mencintai dirinya sendiri. Keberadaan beauty influencer memang tidak dapat dielakkan dengan berkembangnya teknologi dan media baru, tapi selayaknya beauty influencer mampu untuk mengedepankan prinsip self-love dan tidak terus melegitimasi konsep cantik ala media.

Maria Perdana
Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana UAJY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here