Kampanye Beriringan dengan Polemik

0
24
Sumber foto: fortune.com

Pesta pemilu pada saatnya selalu dipersiapkan dengan meriah, kampanye dilakukan dengan segala macam cara untuk mendapatkan banyak dukungan. Strategi-strategi yang dipersiapkan pun tidak luput dari persiapan. Berhubung sekarang ada di zaman maju, maka media sosial menjai tempat paling jitu melakukan kampanye. Bahkan para aktor politik memiliki akun pribadi masing-masing di media sosial, dan tak jarang mengunggah foto dirinya sedang berkegiatan dengan caption yang semenarik mungkin. Tidak lupa foto dan caption yang kekinian, agar kaum muda juga tertarik dengan apa yang disampaikannya.

Disadari atau tidak apapun yang dilakukan aktor politik akhir-akhir ini selalu disangkutpautkan dengan kampanye. Bagaimana tidak, saat ini memang masih dalam masa kampanye untuk pemenangan Pilpres 2019. Yang sebenarnya perlu disoroti adalah bagaimana strategi-strategi yang dilakukan aktor politik dan tim pemenangnya dalam menyampaikan pesan-pesan kampanye. Maka jajaran tim kampanye sudah seharusnya memperhatikan masalah apa yang sedang terjadi dalam masyarakat.

Masalah yang hampir selalu terjadi setiap tahunnya, yaitu harga barang di pasar yang kerap naik turun. Hal tersebut dirasakan oleh ibu-ibu yang hampir setiap harinya menjadi konsumen pasar. Apalagi ditambah kasus tentang naiknya nilai tukar dolar mencapai angka Rp 15.000. Masalah seperti ini dapat dijadikan bahan kampanye. Salah satu bahan pasar yang ramai jadi perbincangan adalah tempe, mulai dari tempe yang berukuran kecil dan tipis seperti kartu ATM, hingga tempe berukuran besar seperti batu bata. Hal tersebut disampaikan oleh Sandiaga Uno selaku calon wakil presiden. Maka benar adanya bahwa ‘per-tempe-an’ ini merupakan sebuah pintu masuk bagi Sandiaga melakukan pendekatan dan menerjemahkan misi kampanyenya, yaitu terkait lapangan pekerjaan, stabilitas harga pangan, dan pertumbuhan ekonomi (cnnindonesia.com).

Masalahnya, masyarakat sekarang ada pada zaman di mana konten-konten dalam kampanye selalu menjadi sorotan publik, terkhusus dalam media sosial. Seolah semua orang berhak berkomentar atas apa-apa yang disampaikan tersebut, dan berhak menghakimi benar atau salahnya. Rupanya pembahasan tempe tidak berhenti di situ. Banyak cuitan dan komentar masyarakat yang menunjukkan ketidaksenangan dengan ungkapan Sandiaga, bahkan sampai ke pem-bully-an. Bukan hanya masyarakat biasa yang mempermasalahkan hal ini, tetapi juga aktor-aktor politik yang tidak sependapat dengan Sandiaga.

Orang-orang seperti itu dikenal dengan istilah netizen. Sehingga banyak guyonan yang diunggah tentang  kekuatan netizen dalam satu ruang media sosial. Berikut beberapa ungkapan yang menjadi guyonan:

“Netizen bersabda, bla…bla…bla…”

“Maha benar netizen dengan segala ucapannya.”

“Netizen mah, bebas mau ngomong apa.”

Kesulitannya,  bagaimana menyaring antara berita-berita yang sekiranya masih dapat diterima dengan berita-berita yang tidak bernilai sama sekali. Berita ini bisa dimaksudkan sebagai komentar yang ditulis oleh publik tertuju pada aktor politik berkampanye. Sangat disayangkan  komentar-komentar yang dituliskan lebih banyak  negatif. Seakan masyarakat mempunyai kesempatan untuk mengkritik bahkan mengolok-olok aktor politik yang ada di atasnya.

Komentar-komentar negatif dapat dikategorikan sebagai bullying yang termasuk dalam penghinaan verbal. Bullying tidak ada habisnya dalam ruang media sosial. Baik maupun buruk suatu konten yang disampaikan, selalu saja menuai kontroversi. Apabila yang disampaikan konten baik, maka akan dicari-cari keburukannya, dan apabila yang disampaikan  konten buruk maka akan tambah diolok-olok ataupun dicaci maki. Jadi baik atau buruknya suatu konten, dalam hal ini adalah konten dalam berkampanye, sama-sama menimbulkan polemik. Betapa hal-hal tersebut menunjukkan karakteristik seseorang, bahkan ditarik secara umum,  karakter orang-orang Indonesia.

Salwa Sofia Wirdiyana
Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam, UIN Sunan Kalijaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here