Menyikapi Pelecehan Seksual di Kampus

0
159
Sumber foto: timesheighereducation.com

Baru-baru ini kita digemparkan oleh berita soal pemerkosaan yang melibatkan HS dan Agni (keduanya bukan nama sebenarnya). Keduanya adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Sebenarnya peristiwa itu terjadi setahun lalu, saat keduanya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku. Tapi karena dianggap tidak ditangani dengan serius, kasus itu akhirnya diungkap sendiri oleh lembaga pers mahasiswa di perguruan tinggi itu.

Hal yang disayangkan dalam peristiwa ini, masih saja ada pihak-pihak yang tidak tepat dalam menyikapi kasus pemerkosaan. Mereka menilai yang salah tak hanya pelaku, namun juga korban yang memancing pelaku untuk melakukan tindak pemerkosaan. Dalam kasus ini, akibat dianggap “memancing” HS untuk melakukan tindakan bejat itu, Agni diberi nilai C untuk KKN-nya. Sebagai korban yang seharusnya mendapatkan support agar bisa keluar dari trauma, keputusan instansi pendidikan terkait tentu sangat disayangkan.

Dari kasus tersebut kita juga dapat menyimpulkan ternyata sungguh ribet untuk menyelesaikan kasus pemerkosaan di dunia akademis. Kampus dianggap tidak serius menyelesaikan kasus ini. Padahal, dengan konsekuensi peristiwa memalukan dalam hidupnya itu diketahui publik, Agni sudah berani melapor. Tapi yang didapat justru perlakuan tidak adil dari pihak kampus. Dia justru juga dicap bersalah dalam peristiwa itu. Di lain pihak, HS si pelaku justru bebas menjalani aktivitas akademis secara normal sampai akhirnya dia bisa mengikuti ujian pendadaran.

Kasus Agni ini hanyalah satu dari sekian banyak kasus pelecehan seksual di kalangan mahasiswa. Jumlah kasusnya tidak pernah diketahui secara pasti. Salah satu sebabnya hanya sedikit dari korban pelecehan yang, jangankan melapor, untuk terbuka menceritakan kasusnya saja tidak berani. Hal inilah salah satu bentuk stigma dari budaya patriarki yang masih mengakar di Indonesia dewasa ini. Laki-laki adalah pihak yang lebih berkuasa atas perempuan. Budaya ini kemudian membentuk sifat laki-laki yang superior dan perempuan yang inferior. Praktik-praktik pelecehan dan kekerasan seksual baik yang bersifat fisik maupun psikis yang dilakukan laki-laki dan perempuan pada akhirnya dianggap wajar.

Hal ini tentu memprihatinkan. Apalagi bila ini terjadi di dunia kampus, tempatnya orang-orang terdidik dan berwawasan. Bila diperluas lagi, kasus pelecehan seksual yang terjadi di dunia kampus tidak hanya terjadi antar mahasiswa, namun juga bisa terjadi antara dosen dengan mahasiswa. Dosen punya kuasa atas mahasiswanya. Di kelas, dosen dipandang sebagai orang yang pintar, berilmu, berwawasan, dan dihormati oleh setiap mahasiswanya. Tak jarang ada mahasiswa yang tertarik dengan dosen dan dosen yang tertarik dengan mahasiswa kemudian mereka berhubungan dekat. Tapi ada pula hubungan ini yang pada akhirnya mengarah pada kasus pelecehan seksual.

Seolah sudah menjadi rahasia umum, kasus pelecehan seksual di dunia kampus dibiarkan begitu saja. Pada akhirnya, dari tahun ke tahun, kasus ini terus terjadi. Padahal kampus sebagai institusi pendidikan selayaknya mengajarkan pendidikan moral, bukan justru membiarkan tindakan amoral. Pendidikan moral itu bisa saja disisipkan pada mata kuliah umum di kampus seperti Pendidikan Agama atau melakukan terobosan dengan membuat mata kuliah baru pendidikan moral. Selain itu kampus juga bisa mengadakan seminar yang mengangkat tema pelecehan seksual atau membuat workshop atau lembaga yang mengurus kasus pelecehan seksual di kampus. Di sini kampus bisa melibatkan para civitas, seperti dosen dan mahasiswa, yang kredibel dan tertarik dalam isu pelecehan seksual. Singkatnya, lembaga pendidikan seperti kampus bisa melakukan banyak cara untuk memerangi kasus pelecehan seksual apabila mereka memang punya niat tulus untuk melakukannya.

Tapi tindakan itu dianggap memberikan implikasi terhadap nama baik kampus. Kampus justru takut apabila mereka mengangkat wacana pelecehan seksual sebagai bahan kajian dan diskusi, justru secara tidak langsung memberi tahu ke publik bahwa di dalam kampus itu ada kasus pelecehan mahasiswa. Itulah yang terlihat dari kasus pemerkosaan mahasiswa baru-baru ini. Kampus terkesan lambat dan terlalu hati-hati dalam penanganannya. Pada akhirnya kasus itu diberitakan ke publik dan menjadi heboh.

Padahal seharusnya kampus tak perlu takut dalam pengananan kasus pelecehan seksual. Kasus ini sudah banyak terjadi pada dunia kampus bahkan sudah menjadi isu global. Di Amerika Serikat, sekitar 20-25 persen mahasiswi dan sekitar 15 persen mahasiswa pernah menjadi korban kekerasan seksual. Di Inggris, dari total 4.500 responden yang diambil dari 153 universitas yang berbeda, sekitar 62 persen mahasiswa pernah mengalami pelecehan seksual. Bahkan 8 persen responden mengaku pernah diperkosa di kampus mereka sendiri.

Dihimpun dari laporan Tirto.id, para mahasiswa sering mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari dosen. Sebagian besar malu untuk melapor tindakan yang mereka terima. Mereka keburu pesimis, laporan mereka bakal ditanggapi secara dingin oleh pihak kampus. Atau justru hal itu bisa menjadi senjata makan tuan bagi mereka sendiri. Bukannya mendapat dukungan atas tindakan beraninya, mereka justru diserang balik dengan kata-kata menyakitkan seperti “lonte,” “cewek murahan,” “cewek genit,” dan sebagainya.

Oleh karena itu, dengan segala fasilitas yang mereka punya, institusi pendidikan seperti kampus hendaknya bisa memberikan rasa aman dan nyaman pada para mahasiswa untuk menjalani proses akademik. Biaya kuliah yang mahal hendaknya dianggarkan untuk memperbaharui fasilitas-fasilitas penanggulangan pelecehan seksual terjadi di kampus, seperti memperbanyak kamera CCTV di tiap sudut kampus sampai ruang kuliah sekalipun. Selain itu sosialisasi mengenai pelecehan seksual harus dilakukan sejak masa orientasi sekaligus langkah-langkah yang harus dilakukan mahasiswa apabila mereka mengalami pelecehan seksual. Lembaga konseling mahasiswa di kampus-pun juga harus bisa lebih peka, membela, dan menjaga privasi mahasiswa yang berani melapor kasus pelecehan seksual. Mari kita galakkan kampanye anti pelecehan seksual di lingkungan kampus!

*Shani Rasyid
alumnus FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here