Upacara Adat Unan–Unan membangun Toleransi Desa Ngadisari

0
255
Foto; Istimewa

Beberapa masalah intoleransi belakangan ini sering mencuat di Indonesia baik pada religi, etnis, maupun ras. Adanya intoleransi ini dapat mengakibatkan noda pada keberagaman dan merusak demokrasi tanah air. Jika kita telah lebih dalam memaknai kata toleransi yaitu suatu sikap yang saling menghargai dan menghormati suatu perbedaan antar kelompok maupun individu dalam masyarakat. Timbulnya sikap toleransi ini menghindari terjadinya diskriminasi. Sikap toleransi ini semakin penting ditengah kecamuk sikap intoleransi seperti diskriminasi dan aksi kekerasan terhadap suatu golongan.

Cerminan sikap toleransi dapat kita lihat pada masyarakat adat Tengger tepatnya di Desa Ngadisari Kabupaten Probolinggo. Desa yang terdiri dari berbagai pemeluk agama seperti Islam, Kristen dan Hindu lantas tidak menjadikan desa ini menjadi sumber perselisihan. Toleransi terbangun dari berbagai aspek diantaranya yang akan dibahas saat ini melalui upacara adat Unan-unan yang masih rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali oleh masyarakat desa. Salah satu contoh simbol toleransi yang terjadi pada masyarakat Tengger yaitu adanya pancawarna dalam umbul-umbul yang melambangkan 5 agama yang berada di Indonesia. Simbol tersebut menjadi bukti konkrit adanya sebuah toleransi beragama dalam masyarakat Tengger khususnya Desa Ngadisari Kabupaten Probolinggo.

Istilah kata Unan-Unan berasal dari kata Bahasa Jawa kuno yaitu una yang berarti kurang. Sehingga Unan-Unan sendiri memiliki makna yaitu mengurangi. Maksud dari mengurangi disini adalah mengurangi perhitungan bulan dalam satu tahun pada waktu jatuh tahun panjang (Tahun Landhung).  Dalam upacara unan–unan toleransi tidak hanya berlaku untuk agama saja tetapi juga berlaku pada etnis. Hal tersebut dibuktikan pada saat Upacara Unan-Unan tamu yang diundang bukan hanya berasal dari masyarakat setempat melainkan berasal dari beberapa suku. Salah satu tamu yang berasal dari luar adalah Suku Dayak.

Secara umum Upacara Unan–Unan merupakan kegiatan ritual untuk mengadakan penyucian bersih desa, yaitu membebaskan desa dari gangguan makhluk halus (bhutakala) atau sebagai tolak bala, lebih luasnya lagi adanya upacara ini bukan hanya untuk membebaskan desa tersebut saja tetapi untuk seluruh yang ada di muka bumi ini.  Disamping itu Upacara Unan–Unan pun digunakan untuk permohonan penyucian terhindar dari segala penyakit dan penderitaan, serta terbebas dari segala malapetaka. Selain bagi orang – orang yang masih hidup, upacara ini juga diperuntukan bagi arwah nenek moyang atau leluhur. Upacara ini selain fungsinya sebagai penyucian juga merupakan bentuk perawatan bumi, sedekah bumi dan sebagai upacara penolak bumi.

Sehari sebelum acara puncak Upacara Unan-Unan dilakukan kegiatan yang dinamakan pangersyian dan medodo. Pangersyian dan mendodo dipimpin oleh dukun bertujuan membersihkan jagat agung jagat alit makro kosmos mikro kosmos (manusia dan semesta) dan juga skala niskala (segala fisik dan psikis). Dalam proses ini para sesepuh dan para tokoh desa ikut dalam ritual tersebut. pada sore hari kerabat dukun dan tokoh pemuda mempersiapkan sesajen berupa kerbau untuk dibawa ke pura saat upacara hari-H Upacara Unan–Unan. Kerbau di percaya oleh masyarakat Tengger sebagai lambing kemakmuran. mereka mempercayai bahwa kerbau sebagai tekhnologi yang diciptakan oleh para leluhur sebagai penyeimbang energi alam. Bagian dari kerbau yang digunakan untuk sesajen antara lain kulit, kepala, ekor, dan sebagian kecil daging kerbau tersebut. Sisa dari daging yang lainnya diberikan kepada warga.

Rangkaian bunga merupakan salah satu sesajen lain yang harus disiapkan. Fungsi dari rangkaian bunga tersebut untuk memuculkan energi positif bagi masyarakat Tengger. Jumlah rangkaian bunga sebanyak 44 pasang. Diantaranya adalah bunga snikir, bunga tanah layu (edelweiss) dan daun putian. Selain kerbau dan rangkaian bunga sesajen lainnya yaitu kelapa tanduk. Fungsi dari kelapa tanduk sendiri yaitu seagai hiasan untuk mengharapkan suati keindahan. Selanjtnya di dalam sesajen tersebut terdapat daun pisang. Daun pisang bagi masyarakat Tengger memiliki filosofis yang meambangkan suatu keikhlasan yang luar biasa. Sesajen lainnya yaitu dupa. Dupa bertujuan untuk memunculkan energi harum pada sesajen. Untuk meletakkan sebuah dupa dilakukan oleh pemangku dan dibacakan mantra sebagai syarat utamanya. Dalam Upacara Unan–Unan selain memasang umbul-umbul di setiap rumah juga dipasang janur atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan penjor.

Pada Upacara Unan–Unan ini ritual berlangsung dengan sangat megah sehingga dalam upacara ini melibatkan banyak massa. Kegiatan ini tercipta dari uang yang dikeluarkan bersama dengan berpatungan sebesar 500.000 per kepala keluarga. Seluruh masyarakat di Desa Ngadisari ini turut dilibatkan, tidak hanya pemangku–pemangku adat saja. Kepanitiaan pada upacara adat ini tidak terdapat kriteria. Kesamaan agama dan etnis  tidak menjadi patokan dalam berkontribusi pada upacara ini. Tidak semua orang bisa ikut pada kepanitian karena ada beberapa panitia yang ditunjuk langsung oleh dukun dengan pertimbangan yaitu mampu dan sukses dalam menangani upacara ini menurut Dukun Pandita. Selebihnya selama proses upacara adat Unan–Unan ini semua masyarakat saling bergotong-royong untuk melaksanakan kegiatan ini.

Upacara Unan–Unan terbuka untuk umum. Orang–orang yang bukan berasal dari Tengger atau pendatang pun bisa mengikuti upacara adat ini tetapi tidak bisa bergabung menjadi anggota panitia. Jika kita membicarakan Tengger sebagai contoh dari toleransi antar masyarakat nya maka memang benar adanya, contoh kecilnya dari Upacara Adat Unan–Unan yang dilakukan pun sudah mencerminkan sebuah toleransi. Contoh lainnya adalah masyarakat Desa Wontoro yaitu desa yang dekat dengan Desa Ngadisari adalah mayoritas islam, dalam perayaan hari ritual seperti Idul Fitri maka masyarakat Desa Ngadisari akan berkunjung untuk bersilaturahmi walaupun bukan penganut agama islam. Selain itu, di wilayah ini tidak membedakan kuburan berdasarkan agama. Baik islam maupun hindu dimakamkan di tempat yang sama.

*artikel ini pernah dimuat di Kompas Muda

Samudra Rahman bersama Tim Artikel Tengger Human
Jurusan Antropologi FISIP UNPAD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here