Pengaruh Besar Kiai atas Santri dalam Pemilu

0
59
Foto ilustrasi: Santri pondok Pesantren Al Imdad Kab. Bantul

Pesantren selalu identik dengan dua hal, yaitu kiai dan santri. Jika salah satunya tidak ada, maka kemungkinan besar sebuah pesantren tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Adapun santri-santri yang selalu menghormati kiai sebagai pemimpin sekaligus sebagai guru, menjadikan seorang kiai mempunyai otoritas tertinggi di dunia pesantren. Apabila ingin mengetahui kredibilitas sebuah pesantren, maka lihatlah kiainya. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa seorang kiai memiliki andil sangat besar dalam sebuah pesantren. Maka, apapun yang dilakukan dan disampaikan oleh kiai akan menjadi panutan bagi santri-santrinya.

Santri di pondok pesantren terkenal dengan ke-kudetan-nya. Pasalnya, di dalam pesntren tidak ada dan tidak boleh membawa televisi, smartphone, radio, dan alat elektronik lainnya. Tidak heran jika mereka sangat minim pengetahuan tentang dunia luar, apalagi kabar politik. Informasi-informasi luar yang mereka ketahui, didapatkan dari para guru mereka dan tentu saja kiai. Sebut saja berita tentang pemilu yang disampaikan oleh kiai hingga siapa yang akan dipilihnya, akan diterima oleh santri-santrinya tanpa pikir panjang.

Kurang lebih enam bulan lagi akan ada pesta pemilu, tidak heran jika saat ini sudah terasa hawa panas antara dua kubu Calon Presiden (Capres), yaitu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Ada pemilu tentu saja ada kampanye,  yang mulai ramai dilakukan sejak sebulan lalu oleh dua pasangan Capres dan tentu saja Tim Kampanye Nasional. Berbagai macam bentuk kampanye yang telah diupayakan, mulai dari mengadakan acara-acara terbatas dengan orang-orang tertentu hingga kampanye di media sosial. Ternyata dari kampanye ini, ada satu cara yang dinilai tidak mematuhi aturan dan tata tertib kampanye, yaitu terkait kunjungan pasangan Capres ke pondok pesantren. Terdapat undang-undang yang mengatur tata tertib kampanye, dikatakan bahwa  Undang-Undang Pemilu pasal 280 ayat (1) huruf h, telah mengatur larangan kampanye dengan menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan lembaga pendidikan.

Polemik tersebut diusut karena pasangan Capres baik Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi melakukan kunjungan ke beberapa pesantren. Salah satu yang dikunjungi oleh Jokowi-Ma’ruf adalah Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur pada tanggal 10 Oktober 2018. Sementara pasangan Prabowo-Sandi melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Tebuireng pada tanggal 22 Oktober 2018, yang mendapatkan sambutan hangat dari pimpinan pondok, K.H. Salahuddin Wahid, atau biasa disebut Gus Solah, dan tentu saja ramai disambut oleh santri-santrinya.

Diketahui bahwa pada awal musim kampanye ini, dua pasangan tengah melakukan kunjungan ke pondok pesantren. Ini adalah lembaga pendidikan yang menjadi salah satu tempat terlarang untuk  kampanye, jika melihat aturan yang tertera pada undang-undang pemilu. Akan tetapi kedua pasangan Capres menyangkal bahwa mereka tidak melanggar aturan, dengan dalih bersilaturahmi dan meminta doa kepada kiai, tanpa membawa visi dan misi kampanye. Namun tetap saja kunjungannya menjadi sorotan, khususnya oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Kedua pasangan memperbolehkan Bawaslu  memantau kegiatan kunjungannya ke pesantren-pesantren untuk memastikan bahwa tidak ada visi dan misi kampanye yang mereka bawa. Kedatangannya benar-benar murni  bersilaturahmi kepada para kiai, dan memberikan motivasi kepada santri-santrinya terkait apa saja yang perlu mereka persiapkan kelak ketika mereka hidup di luar pesantren.

Dari  kunjungan yang dilakukan, langsung atau tidak langsung, memberikan dampak kepada pesantren yang dikunjunginya. Dengan misi kampanye atau tidak tetap saja sedikit banyak memberikan pengaruh bagi kiai termasuk santrinya. Sedangkan bagi pasangan Capres yang melakukan kunjungan, meskipun tidak ada niat berkampanye sama sekali, kemungkinan besar mereka berharap mendapatkan suara dari sasaran empuk yaitu santri-santri yang notabene  pemilih pemula. Dan, itu diawali dengan  mendekati kiainya.

Salwa Sofia Wirdiyana

Mahasiswi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam,  UIN Sunan Kalijaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here