‘Politik’ di Kampus: Sebuah Refleksi Pengalaman

0
43
Foto: scimexico.com

Bagaimana politik datang ke kampus?

Pertanyaan tersebut sempat saya miliki beberapa lama. Pasalnya kaum muda hampir tidak dapat diam menahan diri untuk tidak terlibat menanggapi isu politik terkini. Saya sendiri juga tidak dapat menahan pendapat saya untuk menuangkan ke dalam tulisan singkat ini. Politik bisa datang ke kampus melalui beberapa cara, salah satunya melalui organisasi kampus.

Saya ingin mengingat kembali bagaimana saya menjadi anggota sebuah organisasi keislaman kampus. Organisasi tersebut sering disebut dengan organisasi dakwah. Awalnya saya tidak tahu apa itu politik beserta gerakannya. Saya hanya mengetahui bahwa politik merupakan suatu pemikiran yang cukup serius menguras tenaga seseorang karena perlu menyusun strategi untuk mencapai suatu tujuan (kekuasaan). Keikutsertaan dalam organisasi tersebut membuat saya berkenalan dengan pandangan-pandangan politik.

Di organisasi Islam tersebut anggota didokrin secara halus dan tidak sadar bahwa gerakan politik A benar karena menyelamatkan umat. Sedangkan gerakan politik B salah karena ‘membahayakan’ Islam. Doktrin lebih jauh lagi, adanya pernyataan bahwa nilai Islam akan dihilangkan sedikit demi sedikit jika politik B berkuasa. Berawal dari argumen kepanikan moral tersebut saya mulai mengamini dan menyetujui. Ya, gerakan politik A lebih baik dari pada gerakan politik B.  Politik B cenderung menggunakan cara-cara yang sekuler, orang-orangnya menakutkan, umat Muslim bisa terancam keselamatannya.

Anehnya, saya tidak menyadari posisi diri sedang berada di dalam gerakan politik dan juga sedang dipengaruhi oleh doktrin politik. Waktu itu, saya masih menganut mahzab positivistik, hanya ada benar dan salah, hitam dan putih. Hanya ada dua pilihan, jika satu pilihan benar maka pilihan yang lain salah.

Semakin ke sini, saya berpindah haluan dari ‘membaca status’ ke membaca buku. Dari sinilah saya merasa telah menyingkap tabir. Pendapat tokoh yang dulu saya anggap benar tidak sepenuhnya benar dan selalu benar. Sebaliknya, pendapat yang dulu saya anggap salah tidak sepenuhnya salah dan selalu salah. Buktinya, yang dulu saya yakini benar juga terlibat korupsi. Ya, saya mulai beralih menganut paham kritisisme. Ada konteks situasi dan agenda yang disengaja dan tidak disengaja. Oleh karena itu, sekarang saya merasa perlu mencari tahu dan mengklarifikasi sendiri terhadap suatu argumen atau pandangan supaya tidak terburu-buru menilai benar dan menyalahkan yang lain.

Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada Presiden Jokowi yang memberikan sambutan pada acara Rakernas Tim Kampanye Nasional Jokowi-Mar’uf hari Minggu  28 Oktober 2018 di Hotel Empire Palace Surabaya, Jawa Timur. Saat itu Jokowi menggunakan kata hijrah.

Saya mengajak kita semua untuk hijrah.

Hijrah dari pesimisme ke optimisme.

Hijrah dari konsumtif ke produktif.

Yang marah-marah lalu hijrah ke sabar-sabar. Sabar tapi tetap kerja keras.

Apa hubungan pengalaman saya dengan sambutan Jokowi tersebut?

Kata hijrah identik digunakan dalam organisasi yang pernah saya ikuti tadi. Sebagaimana kita ketahui bahwa organisasi tersebut cenderung mendorong massa untuk memilih kubu lawan Jokowi, yaitu Prabowo. Di sini  Jokowi berusaha memasukkan istilah khas kubu sebelah ke dalam kubunya. Menjadikan hijrah dari bahasa agama menjadi bahasa universal. Penggunaan kata hijrah oleh  Jokowi cukup untuk menarik perhatian para pegiat hijrah kubu sebelah dan masyarakat secara umum. Mengikuti pendapat Doris Graber (dalam Cangara, 2018), apa yang dilakukan  Jokowi disebut sebagai Political Language. Komunikasi politik tidak hanya retorika tetapi juga simbol-simbol bahasa untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku khalayak.

Kalimat hijrah dari konsumtif ke produktif menunjukkan bahwa hijrah tidak hanya dalam urusan agama  tetapi juga dalam hal menjadi pribadi yang profesional. Jika  Jokowi menjunjung sikap profesional, maka sudah seharusnya teman-teman organisasi dakwah dan organisasi keislaman lainnya menjunjung sikap profesional secara lebih. Muslim yang baik adalah Muslim yang profesional.

Refleksi dari pengalaman di atas, menjadi mahasiswa hendaknya tidak mudah mengamini apa yang dikatakan oleh senior. Mahasiswa sudah semestinya memiliki sikap kritis terhadap apapun. Bagi anggota organisasi dakwah, saya ingin menghimbau teman-teman supaya hijrah dari ‘gerakan ikut-ikutan’ ke gerakan kritis. Hindarkan diri dari sikap men-generalisasi. Maksud saya, teman-teman perlu mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pihak lain harus dikatakan salah? Di mana letak kesalahannya? Yang terpenting, apa buktinya?

Kirana Nur Lyansari

Mahasiswi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here