Wanita Bukan Disability Tapi Ability

0
28
Foto: Pexels.com

Wanita kerap menjadi “korban” di tengah struktur masyarakat yang patriakhi. Korban dari penetapan “kasta” hingga stigma. Sesungguhnya yang menjadikan wanita itu lemah, lebih karena struktur sosial dan budaya tersebut.

Wanita menjadi korban karena ada yang menganggap bahwa wanita memang tidak mampu atau lemah dibanding pria. Kondisi seperti itu dibangun dan dipertahankan karena dalam struktur sosial semacam itu memang harus ada yang “dikorbankan”.

“Sudahlah, kamu seorang wanita tidak perlu memiliki pendidikan tinggi. Wanita cukup di rumah mengurus anak”. Percakapan sejenis sudah menjadi hal biasa di masyarakat. Menempatkan wanita di bawah pria. Memaksa untuk mengalah.

Ada konteks lain yang menyebutkan, “Seorang wanita tidak bisa menjadi pemimpin karena tidak tegas”. Hal ini sangat sulit diterima logika, dari mana ukurannya? Bagaimana sebuah ketegasan diukur dari jenis kelamin?

Apakah pria akan selalu kuat, tegas, berani, pintar dan lebih segalanya ketimbang wanita? Tentu hal ini harus melalui kajian yang lebih mendalam untuk mengukur apakah wanita lebih tidak mampu ketimbang pria?

Dalam sebuah peristiwa hukum pun, wanita sering ditempatkan pada posisi yang salah, meski aparat belum melakukan proses penyelidikan. Kasus perkosaan, pelecehan sex dan pencabulan, kadang masyarakat melihat wanita yang salah.

Belum lama di kampus UGM Yogyakarta terjadi dugaan pelecehan seksual terhadap “Agni”, seorang mahasiswa KKN oleh rekannya sendiri. Tentu yang membuat pedih korban ketika dosen pembimbing lapangannya sendiri mengumpamakan dirinya sebagai “gereh” (ikan asin, bhs Jawa).

Sementara Si Pelaku adalah seekor kucing, “Ibarat kucing disodorkan gereh, pastilah dicium-cium dan kemudian dimakan,” (kurang lebih) ucap sang dosen. Sebegitu rendah dan murahnya seorang wanita diumpamakan sebagai ikan asin?

Hal ini yang layaknya harus segera dirubah di kalangan masyarakat, bahwa “kemampuan” bukan dilihat atau diukur dari jenis kelamin. Sama juga dengan penyandang disabilitas, mereka ingin dianggap normal, bukan cacat, sehingga bisa melakukan semua pekerjaan orang-orang “normal”.

Penghargaan dan pengakuan tersebut bahkan sudah dikampanyekan oleh presiden melalui perhelatan para asian games beberapa waktu lalu. Kata DISABILITY dirubah menjadi ABILITY. Mereka jyga mampu berprestasi dan melakukan lomba dari masing-masing cabang olah raga.

Penghargaan dan pengakuan yang sama juga harusnya sama digaungkan terhadap posisi kaum petempuan. Harusnya tidak ada lagi stigma dan bias gender bahwa wanita itu lemah sementara pria itu kuat. Tidak ada lagi diskriminasi atas jenis kelamin.

Hal ini sekaligus menjadi cermin bagi kaum perempuan untuk tidak menganggap diri tidak mampu lagi (disability). Harus ditanamkan pada diri setiap wanita bahwa “saya mampu” (ability), sama dengan manusia lainnya siapapun dan dimanapun.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11). Allah SWT telah berfirman seperti itu menunjukkan bahwa tidak ada yang salah jika wanita itu sendiri mau berubah agar menjadi mampu dan tidak terus dilecehkan.

Puji Hastuti
Guru SMPN 1 LIRIK INHU RIAU..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here