Komunitas Infertilitas Berlatih Menulis Sebagai Media Kampanye

0
34
Foto: Istimewa

Adakah yang mengenal istilah infertilitas atau infertility? Belum banyak masyarakat yang mengetahuinya. Masyarakat terkadang memberi label sadis sebagai “mandul”. Ya, kaum infertility adalah mereka atau pasangan usia subur yang belum mendapat momongan (anak).

Kehidupan mereka kadang jauh dari rasa nyaman, karena kerap dianggap “bermasalah” dan menjadi bahan pergunjingan masyarakat di lingkungan mereka tinggal. Mereka hanya bisa bercerita kepada sesama penyandang infertilitas. Berbagi support dan berbagi pengetahuan.

Dari hasil sharing antar mereka maka terbentuklah support group yang disebut dengan Pejuang Tangguh Permata Hati, merupakan grup bagi mereka penyandang fertilitas. Anggota dari PTPH adalah pasien yang sedang menjalani program memiliki anak maupun yang sudah berhasil memiliki anak di Klinik Permata hati, dr. Sardjito.

Jumlah anggota dalam grup ini sudah mencapai lebih dari 500 orang. Anggota dalam grup ini tidak hanya peserta dari wilayah Yogyakarta saja, tetapi juga dari berbagai wilayah di Indonesia misalnya Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bahkan Papua.

Dibentuknya grup ini berawal dari inisiatif beberapa pasien yang merasa perlu adanya forum untuk bisa berkumpul dan saling bertukar pikiran juga pengalaman dengan pasien (perempuan) lainnya. Informasi yang dibagikan di dalam grup ini antara lain isu-isu medis, dukungan emosional satu sama lain dan informasi praktis (misal tempat menginap selama pengobatan, dll).

“Proyek ini sudah dimulai sejak bulan juli 2018 dan kami sudah melakukan workshop pertama pada bulan Agustus 2018.  Dari hasil workshop pertama tersebut ada beberapa masalah yang dihadapi oleh kawan-kawan Pejuang Tangguh,’ terang Titing Martini selaku Kordinator Acara.

Menurut Titing lagi, masalah  itu antara lain soal psikologis yang terkait dengan diri sendiri dan keluarga, terbatasnya akses akan informasi dan pelayanan, tingginya biaya melakukan treatment, keengganan suami untuk ikut terlibat dalam treatment dan sebagainya.

Salah satu materi yang dibutuhkan dalam workshop II yang diselenggarakan di Hotel Grage, Yogyakarta, 10-11 Nopember 2018 ini sebagai support group adalah “Pemanfaatan dan Penggunaan Sosial Media’. Masalah utama dalam penggunaan medsos bagi mereka terutama bukan soal tidak mampu menulis melainkan lebih pada soal psikologis.

“Ada rasa ragu dan bahkan takut salah atau takut dibully. Hal-hal pribadi terkait reproduksi bagi masyarakat awam masih terbilang sensitif, dianggap aneh atau up-normal. Tidak sedikit dari testimoni mereka yang mencoba menulis di medsos malah justru dibully,” ungkap Agung Wibawanto.

Latihan dasar menulis yang disampaikan oleh Agung Wibawanto (wapemred SwaraKampus.com) lebih kepada bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan dapat diterima oleh pembaca. Hal kedua, bagaimana cara merespon netizen yang berlaku nyinyir ataupun menyakitkan bagi mereka.

“Hal ini yang perlu dijaga agar komunikasi yang dimaksud bisa lebih komunikatif, bukannya destruktif,” pungkas Agung. (Relisa)

Relisa Wahyu

Mhs Psikologi UP45

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here