Apatisme Mahasiswa dalam Unit Kegiatan

0
36
Sumber foto: essaydune.com

Mahasiswa seringkali merasa bingung, akan aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan di kampus atau tidak, misalnya dalam  UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Mahasiswa takut tidak dapat membagi waktu antara kegiatan perkuliahan dengan kegiatan UKM. Juga takut prestasi akademiknya menurun karena memiliki banyak kesibukan. Akan tetapi, ada juga mahasiswa yang memang malas atau tidak memiliki minat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan UKM atau kegiatan di luar pendidikan akademik.

Dunia perkuliahan tidak hanya teori-teori atau hardskill yang  diberikan kepada para mahasiswa, namun juga  softskill. Ini adalah ketrampilan yang dapat dikembangkan para mahasiswa melalui kemampuan akademis yang telah diperoleh dalam perkuliahan. Undang-Undang RI No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan, bab 2 pasal 13 dan 14  menyatakan, mahasiswa berkewajiban  mengembangkan bakat, minat, serta kemampuan dirinya melalui kegiatan ekstrakurikuler di universitas sebagai bagian proses pembelajaran.

Mengikuti UKM sebenarnya merupakan cara  mahasiswa  memperoleh gambaran dan pengalaman kehidupan berorganisasi yang dapat berguna untuk kehidupan kerja  di kemudian hari. Setiap lembaga universitas saat ini sudah menyediakan berbagai macam UKM, seperti  UKM olahraga dan kesenian  yang antara lain meliputi sepakbola, bulutangkis, renang, tari, paduan suara.  Ada pula bidang menulis (jurnalistik),  fotografi, dan masih banyak lagi.

Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) contohnya, salah satu universitas yang telah menyediakan  program kegiatan yang berfokus pada pengembangan  softskill para mahasiswa. Di berbagai fakultas dan program studi tersedia kelompok profesi seperti di program studi  Ilmu Komunikasi.

Kelompok juga membantu mahasiswa mendalami konsentrasi studi dalam perkuliahan. Kegiatan  ini  bernama KPKS (Kelompok Profesi Konsentrasi Studi) yang terdapat di   Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP UAJY). HMPS KOM (Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi) misalnya membentuk KPKS pada tahun 2003. KPKS terdiri ABN, PR.comm, Teras Pers, Focuso, dan Bohlam Advertising.  ABN (Atma Jaya Broadcasting Network) merupakan KPKS di bidang jurnalistik yang melakukan kegiatan peliputan berita. PR.comm, berkegiatan di bidang public relations  mengembangkan kemampuan hardskill dan softskill mahasiswa di bidang humas. Teras Pers adalah KPKS di bidang jurnalistik,  melakukan kegiatan menulis di media cetak, yaitu majalah. Focuso berfokus pada kajian media, mewadahi aspirasi atau opini mahasiswa dalam suatu isu atau kasus dan berusaha menemukan solusinya melalui diskusi terbuka. Sedangkan Bohlam Advertising adalah KPKS di bidang periklanan berfokus pada pembelajaran  periklanan atau agensi iklan.

Masing-masing KPKS menjadi jalan bagi para mahasiswa FISIP UAJY dalam menyalurkan minat, menentukan konsentrasi studi yang ingin dipilih atau mereka yang ingin mencoba memperoleh ilmu dan kegiatan di bidang yang belum pernah digeluti. Meskipun demikian, keikutsertaan mahasiswa dalam KPKS  terbilang rendah.

Misalnya jumlah pendaftar di  Bohlam Advertising tahun 2015 sebanyak 45 orang dan menurun pada tahun 2016, hanya 35 orang. Di Teras Pers  tahun 2015 sebanyak 25 mahasiswa  dan menurun jauh pada tahun 2016,  hanya  6 orang.  Di Focuso juga sangat terlihat apatisme mahasiswa. Tahun 2014 hanya 11 anggota yang aktif dari 20 mahasiswa Kajian Media, sedangkan  tahun 2015 tidak ada satupun anggota yang aktif dari 15 mahasiswa. Anggota  Focuso bersifat internal yaitu hanya berasal mahasiswa konsentrasi Kajian Media. Usaha terakhir yang ingin dilakukan oleh Lisa sebagai Ketua Focuso adalah membuka open recruitment bagi angkatan 2018 dengan jiwa  yang baru (Wawancara, 9 Mei 2018). Namun hingga saat ini nama KPKS Focusso tak terlihat atau terdengar kembali keberadaannya.

Melalui fakta tersebut  terlihat perilaku apatis mahasiswa FISIP UAJY sangat besar hingga membuat sebuah KPKS hilang.  Apatisme  sebenarnya merupakan bentuk sikap yang sangat mempengaruhi kehidupan mahasiswa di masa depan. Apatisme bukan sekadar sikap acuh tak acuh atau tidak peduli, namun juga sikap yang terpaku pada nilai-nilai sosial yang ada, pasif, tidak ingin keluar dari zona nyaman (Althof & Rush, 2001:145).  Padahal ketika berhadapan dengan dunia pekerjaan di masa yang datang, mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan satu skill atau kemampuan yang ia miliki. Ia juga harus bersaing dengan banyak calon pekerja lainnya yang memiliki kelebihan dan kemampuan yang beragam. Pikiran  bahwa  sudah mengetahui kelebihan yang dimiliki, ketrampilan atau skill yang dikuasai,  merasa bangga akan hal itu, sebenarnya salah. Memiliki kelebihan, kemampuan atau  skill namun bila tidak dikembangkan juga tidak berarti apa-apa.

Cyntia William
Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atm Jaya Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here