“Aku Bangkit demi Negaraku”

0
66
Sumber foto: genmuda.com

Negara Indonesia merupakan negara yang sangat menjunjung tinggi nilai kebebasan berekspresi warganya. Ibarat seorang ibu yang memberikan kebebasan bermain kepada anaknya demi pertumbuhan yang optimal seorang anak. Begitu pula dengan negara Indonesia yang memberikan kebebasan berpendapat kepada warga negaranya dalam rangka hak berpartisipasi  pembuatan kebijakan publik serta memastikan adanya transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan negara.

Hal ini semakin jelas dengan  penguatan yang tertuang dalam Pasal 28 E ayat 3 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menyatakan “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat”. Sejak adanya dasar hukum ini, seyogyanya pemerintah telah memberikan seluas-luasnya kesempatan menuju perubahan positif bagi masyarakat.

Pembicaraan mengenai kebebasan berpendapat semakin mendapat tempat dan terbuka luas seiring dengan pesatnya inovasi dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Kini kita sudah hidup dalam era kebebasan yang diiringi dengan masuknya  internet. Internet merupakan penyedia media sosial, sebagai wadah berkomunikasi dan menyampaikan informasi. Pertanyaan yang menjadi perdebatan, apakah media sosial yang dijadikan wadah kebebasan berpendapat telah berfungsi sebagaimana mestinya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita ketahui kasus-kasus yang dikutip dari liputan6.com (17/02/2018). Pertama, kasus mengenai penyerangan ulama yang dilakukan oleh orang gila. Munculnya berita tersebut membuat banyak berita yang beredar di masyarakat. Menurut Kepala Satgas Nusantara, Irjen Gatot Pramono Eddy  ada 45 berita penyerangan terhadap ulama selama kurun waktu 2018, namun dari semuanya itu hanya ada tiga berita yang benar-benar terjadi.

Kasus kedua adalah garam yang dicampur dengan kaca. Kasus ini membuat masyarakat mencurigai pedagang-pedagang di pasar yang kemudian karena merasa tidak terima dengan perlakuan tersebut terjadi perkelahian antara pedagang pasar dengan pembeli. Kemudian kasus FPI bakar Ormas GMBI, Ojek Online versus Angkot dan masih banyak lagi kasus yang bermunculan dengan fakta yang tidak benar atau yang biasa dikenal dengan sebutan “hoaks” yang  menelan korban jiwa.

Tidak hanya itu, berita yang belum diketahui kebenarannya  malah menjadi pusat perhatian para  netizen yang berujung saling mengujar kebencian lewat komentar-komentar di media sosial. Hanya karena berita hoaks  masyarakat berlarut dalam opininya masing-masing tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenaran berita yang mereka lihat maupun  baca. Kebebasan yang diberikan kini menjadi bumerang bagi negara kita. Kemudahan dan kebebasan  menjadikan masyarakat sebagai kaum yang mudah diprovokasi.

Sungguh menyayat hati ketika melihat kepintaran manusia kini dijadikan alat memecahbelah bangsa. Seakan tiada guna tetesan darah dan air mata pahlawan kita. Kemunculan media yang pada dasarnya demi mempermudah manusia malah berubah menjadi alat pemerdaya sesama. Kerusuhan terjadi, juga konflik antar agama dan suku.

Negara kita yang mempunyai semboyan “Bhineka Tunggal Ika” namun “musnah” dengan kemunculan berita-berita hoaks. Bukankah ini memprihatinkan? Di mana letak positifnya  media sosial dan kebebasan berekspresi dalam wujud kebebasan berpendapat. Berangkat dari fakta tersebut, penulis memberikan judul artikel ini “ Aku Bangkit demi Negaraku”.

Sebagai kaum milenial kita mempunyai tugas  menjadi pahlawan di tengah banjir hoaks saat ini. Bukan tentang bagaimana kita menunjukkan kemampuan diri agar dianggap sebagai pahlawan yang berjasa, melainkan  diajak menjadi pemuda cerdas dan kreatif untuk Indonesia. Mari sejenak kita merefleksikan diri, akankah kita berlarut dalam kekelaman kondisi hiruk-pikuk ujaran kebencian di media sosial?

Kini bukan lagi waktunya saling menyalahkan. Bukan lagi waktunya saling menuding satu sama lain. Tetapi, inilah waktunya kita memberikan kontribusi nyata yang sejatinya  harus dimulai dari diri kita sendiri. Jangan lagi kita dikuasai  teknologi, melainkan kitalah yang harus mampu menguasi teknologi dan memanfaatkannya dengan cerdas.

Mari, sebagai kaum muda penerus bangsa, kita bangkit demi negara tercinta, mari kita semakin cerdas dalam memberikan informasi  keadaan di sekitar kita dan semakin peka dengan  masalah bangsa. Kebebasan bukan sebagai alat untuk menebar ujaran kebencian dan perpecahan. Kebebasan bukan untuk menjadi alasan melakukan kejahatan, melainkan dengan kebebasan kita bisa menebar kebaikan demi kemajuan bangsa.

Oktavani Yenny
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Tanjung Pura, Pontianak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here