Ngayogjazz 2018 dibuka meriah

0
41
Foto: Swarakampus.com/BAS

Ngayogjazz 2018 telah dibuka dengan meriah pada Sabtu sore (17/10) di Desa Gilangharjo, Pandak Kabupaten Bantul Yogyakarta. Di tengah-tengah ratusan penonton yang menyambut antusias, pembukaan dihantar oleh atraksi budaya masyarakat Gilangharjo dengan penampilan marching blek (kaleng bekas), serta aneka kostum wayang yang dikenakan oleh anak-anak dan remaja desa setempat.

Komedian Susilo Nugraha tampak membuka acara didampingi beberapa artis komedian yang populer di masyarakat Jogja. Sebelumnya, panggung dimeriahkan oleh penampilan kelompok Jazz Mben Senen All Star yang membawakan komposisi orisinil album mereka.

Memasuki tahun ke 12, Ngayogjazz tetap saja mengusung tema yang dirumuskan dengan tagline khas yang unik. “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara“, demikian hal ini menjawab fenomena yang terjadi dan berkembang di masyarakat saat ini.

Tema yang merupakan plesetan dari ‘Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata‘ merupakan kearifan lokal yang kurang lebih bermakna Negara memang memiliki hukum atau pranata, namun tiap wilayah juga memiliki adat dan budaya yang khas menurut kearifan masing-masing.

Dalam setiap penyelenggaraan, Ngayogjazz selalu berkolaborasi dengan warga masyarakat dimana gelaran festival musik ini diselenggarakan. “Pemilik Ngayogjazz sejatinya adalah masyarakat desa dimana festival ini diselenggarakan,” demikian Djadug Ferianto, pengarah artistik Ngayogjazz ini menyampaikan.

Demikianlah, Ngayogjazz tidak hanya melulu menampilkan pertunjukan musik jazz, tapi juga meriah dengan aneka atraksi kesenian dan kebudayaan masyrakat desa setempat. Bahkan banyak pula komunitas yang dilibatkan sejak dari persiapan hingga penyelenggaraan.

Partisipan pengisi acara melibatkan berbagai komunitas jazz dari kota-kota di seantero Nusantara bahkan dari mancanegara, komunitas seni rupa, fotografi, hingga komunitas otomotif juga memeriahkan acara ini. Inilah jamming session ala Ngayogjazz, yakni ketika pelbagai kalangan dan pihak, gotong-royong dalam sebuah orkestrasi kolaborasi karya yang indah serta migunani.

Pada Ngayogjazz 2018 ini diselenggarakan acara lumbung buku dimana segenap hadirin yang ingin hadir dan merasakan suasana, diharapkan membawa buku bisa buku cerita, buku anak-anak, yang akan dikumpulkan serta didonasikan untuk anak-anak Nusantara yang memerlukannya.

Workshop artistik juga diselanggarakan dalam Ngayogjazz 2018 ini yang dimotori oleh Froghouse dalam kolaborasi dengan karang taruna Desa Gilangharjo yang menghasilkan aneka karya instalasi artistik dari bahan bambu serta aneka instalasi artistik lain yang menghiasi aneka sudul lokasi penyelenggaraan.

Selain itu, hadir pula kolaborator seni dari Situ(s)eni yang terdiri dari tiga seniman dengan latar belakang berbeda yakni Prihatmoko Moki (muralis), Annisa P. Cinderakasih (arsitektur), dan Wilujeng (penari) yang telah ambil bagian dengan menghadirkan karya-karya seni dalam nuansa yang terinspirasi situs seni yang ada di desa ini.

Barangkali suasana gotong-royong yang khas, unik serta lekat dalam suasana lokal ini yang membuat Ngayogjazz selalu diminati tak hanya oleh warga Yogyakarta, namun juga warga dari luar kota, bahkan warga luar negri. Tercatat lebih dari 30.000 pengunjung setiap tahunnya hadir dan selalu hadir lagi.

Ngayogjazz 2018 tetap saja dikangeni begitu banyak pihak, sebagai mana teriakan penyanyi Syaharani ketika tampil sesudah acara pembukaan di panggung Jagabaya sore itu “Aku kangen!”.

Selamat berkangenan kembali di arena Ngayogjazz 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here