LPM Keadilan FH UII Lakukan Kaderisasi di Kaliurang

0
42
Foto: LPM Keadilan

Udara dingin Kaliurang yang menusuk di musim penghujan ini sepertinya tidak mampu meredupkan semangat sekitar 30 mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia untuk lebih mendalami materi terkait penulisan.

Selama tiga hari 8-10 Nopember 2018, mereka dikarantina dan digembleng secara khusus karena sekaligus dilantik sebagai punggawa LPM Keadilan, “Memang sengaja dikarantina agar mereka bisa fokus menerima materi pelatihan. Di akhir nanti mereka dilantik menjadi persma Keadilan,” ujar Rahdian selaku PU Keadilan, Sabtu (10/11).

Beragam materi jurnalistik diberikan sebagai bekal kepada calon-calon reporter majalah Keadilan yang baru.  Terutama juga soal kode etik jurnalistik yang menurut Rio, banyak terjadi pelanggaran.

“Sebagai media kampus, pers mahasiswa harus tetap mengindahkan kode etik jurnalistik secara profesional. Sekarang ini banyak media kampus yang sepertinya tertular oleh medsos, bebas tanpa aturan,” jelas Rio sebagai pemred Keadilan.

Hal serupa disampaikan Agung Wibawanto dari SwaraKampus.com yang menjadi salah satu pemateri. Agung yang menyampaikan topik soal penulisan berita mengatakan bahwa sebuah berita tidak boleh dimasuki unsur opini penulis.

Selain itu menurut Agung, berita harus berimbang atau cover both side, “Tidak bisa hanya mencari info dari salah satu pihak yang tengah berkonflik saja, tapi harus dari kedua belah pihak. Selain itu, berita yang baik adalah berita yang tidak menyimpulkan. Biar pembaca yang menyimpulkan sendiri,” tambah Agung.

Kode etik dan teknik penulisan menjadi penting karena banyak mahasiswa yang kebablasan dalam menulis. Tapi sebaliknya juga ada mahasiswa menjadi ragu menulis atau takut dibully dan dikriminalisasikan. Agung menjelaskan dalam menulis berita ada standarnya, jika dipenuhi maka akan aman saja.

“Sebuah tulisan tidak bisa dikriminalisasi. Jika memang ada pihak yang tidak setuju, maka disediakan hak jawab untuk mengklarifikasi di media yang sama. Jikapun terdapat kesalahan fatal, dewan pers yang berwenang menggelar sidang etik,” terang Agung.

Dalam kesempatan itu, peserta juga dilatih bagaimana melakukan perencanaan berita terutama dalam memilih isu untuk diberitakan. Mahasiswa harus mampu menangkap isu-isu yang aktual dan faktual serta berdampak kepada orang banyak, bukan isu-isu yang hanya bersumber dari gosip serta sifatnya tidak penting.

Foto: LPM Keadilan

Peserta mahasiswa diminta menuliskan sebuah isu, kemudian akan dikategorikan isu-isu yang dianggap sama. Usulan terhadap isu tersebut harus dipertanggung-jawabkan tidak sekadar mengusulkan. Apa yang menarik (sudut pandang), mengapa penting, dan sebagainya.

Terakhir, Agung juga tidak lupa mengingatkan mahasiswa agar selalu menulis dengan aman, sehat dan menyenangkan, yakni menghindari hoax, provokatif dan menyebar kebencian (hate speech), “Dari sekian puluh ribu, hanya 100 portal berita yang terverifikasi. Untuk itu hati-hati mencari sumber dari media online,” pesannya. (Dewi)

Dewi Pangesti
Mhs Akuntansi STIE Nusa Megarkencana, Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here