Media dan Budaya Anak Muda

0
229
Sumber foto: imore.com

 Teknologi menjadi salah satu faktor besar dalam perkembangan media saat ini. Teknologi memungkinkan media  memperluas daya jangkau ke masyarakat dan mempercepat arus informasi. Perubahan besar media yang difasilitasi  teknologi adalah melalui internet. Perkembangan internet dan ketergantungan manusia memanfaatkan dan mengakses teknologi internet “memaksa” media konvensional  beralih dari bentuk konvensional atau manual menjadi digital. Berbagai situs dan aplikasi digital memfasilitasi dan memudahkan masyarakat  memeroleh informasi.

Ketika seseorang ingin menyaksikan siaran yang ia lewatkan, ia cukup mengunjungi website atau akun Youtube stasiun televisi yang diinginkan dan deretan video yang ingin ditonton  sudah tersedia. Siaran atau acara televisi dari berbagai belahan dunia juga sudah mudah diakses melalui gawai masing-masing. Dahulu, stasiun televisi harus membayar mahal untuk konten televisi dari negara Barat, tapi sekarang, berbagai media online sudah banyak tersedia dan mampu mengakomodasi kebutuhan hiburan. Masyarakat penggemar serial Asia dapat mengakses Viu.com atau bagi penggemar serial Barat dapat berlangganan Netflix.

Kemudahan dalam mengakses informasi tidak hanya didapat dari media yang bersifat visual. Media konvensional seperti koran, tabloid, dan buku dapat juga diakses melalui gawai. Berbagai portal berita daring menyuguhkan informasi dengan cepat, bahkan melalui aplikasi, pengguna mendapatkan fasilitas khusus yang disebut dengan push notifications, notifikasi yang diberikan oleh aplikasi untuk senantiasa memberikan kabar terbaru yang penting bagi pengguna bila  mengaktifkan fasilitas tersebut. Dengan demikian, tidak ada lagi istilah ketinggalan berita.

Teknologi memanjakan manusia dengan akses tanpa batas pada berbagai sarana media baru tanpa harus bergerak banyak. Namun, benarkah fasilitas memabukkan dari teknologi sepenuhnya berdampak baik untuk kita? Benarkah memudahkan manusia dalam mengakses segala model media mendorong terjadinya kemajuan untuk generasi bangsa selanjutnya?

Pemanfaatan media yang terkesan baik dan dipenuhi dengan euforia akan akses media dengan teknologi  canggih ternyata bersinggungan dengan aspek budaya masyarakat. Budaya kolektivitas masyarakat  terkikis dengan adanya penggunaan media dan teknologi yang berlebihan. Seringkali kita temukan satu keluarga makan bersama di pujasera atau pusat perbelanjaan, tapi tiap-tiap orang dari mereka justru fokus pada ponselnya masing-masing. Hal serupa juga sering terjadi pada kelompok anak muda yang berkumpul.

Kecenderungan anak muda untuk fokus pada ponsel masing-masing membuat mereka tidak awas dengan kejadian di sekitarnya.  Bahkan pada hal tertentu  dapat mengancam nyawanya, seperti penggunaan telepon saat menyebrang jalan atau memakai headphone saat berkendara. Aliran informasi media dengan berbagai teknologinya membuat individu merasa sudah memahami segalanya dan tidak merasa perlu  berinteraksi dengan orang lain, sehingga menghambat komunikasi, mengurangi rasa empati, dan menginginkan kepraktisan.

Interaksi berlebihan dengan media yang hingga kini masih menganut budaya Barat berperan besar pada perkembangan budaya tertentu dan pelunturan budaya lain. Tanpa sadar, semakin banyak budaya Barat yang dikonsumsi, semakin banyak pula paham dan ideologi dari budaya Barat yang dianut, salah satunya adalah bahasa. Anak muda zaman sekarang merasa lebih keren menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-harinya. Hingga muncullah fenomena gaya bahasa anak Jakarta Selatan yang menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ke dalam bahasa sehari-hari, terutama kata-kata seperti which is, literally, so far, dan basically.

Fenomena ini juga semakin diperbesar dengan penyiaran di sosial media. Gaya berbicara seperti ini banyak ditiru  kalangan muda untuk terlihat lebih keren. Apakah berbicara dan mahir berbahasa Inggris adalah sesuatu yang tidak baik? Tentu tidak. Namun, perlu dilihat juga arti kata yang digunakan dan penggunaannya dalam kalimat agar kita juga bijak dalam menggunakannya. Banyak masyarakat yang masih salah kaprah dalam penggunaan kata-kata bahasa Inggris tersebut ke dalam kalimat, dan orang lain pun seakan memaklumi fenomena itu dan bahkan mengikutinya, seakan melegitimasi bahwa hal tersebut lumrah dan memang keren bisa berbicara dua bahasa sekaligus.

Apakah berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak menjadi sesuatu yang keren? Mengapa masyarakat kita masih mengagung-agungkan bahasa Inggris dan mencap orang yang lancar berbahasa Inggris adalah orang-orang keren? Karena orang-orang bule juga kita anggap keren dan semua atributnya, termasuk bahasanya juga kita anggap keren?

Bagi saya, tidak ada salahnya kita mempelajari bahasa asing, salah satunya bahasa Inggris untuk memperluas wawasan hingga berkomunikasi dengan orang di bagian dunia mana pun. Namun, kita perlu mengubah cara pandang kita. Konsep berbicara keren tidak melulu harus bisa berbahasa Inggris. Sebagai orang Indonesia, kita harus memiliki kebanggaan karena dapat berbahasa Indonesia. Banyak generasi penerus bangsa saat ini lebih bangga dapat berbahasa Inggris dan tidak dapat berbahasa Indonesia, bahasa ibunya sendiri, sehingga bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa yang diketahuinya.

Banggalah kita yang memiliki pengetahuan dan sangat lancar dalam berbahasa Inggris, Indonesia, dan bahkan bahasa daerah masing-masing.

Maria Puspasari Perdana
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here