Fungsi Orangtua Sebagai Teman, Bukan Penjaga Anak

0
133
Foto ilustrasi: pelajar Yogyakarta/istimewa

Ada sebuah fenomena anak milenium yang sepertinya jauh berbeda dengan kids zaman old, yakni sikap berani kepada orangtuanya sendiri. Hal ini memang tidak terjadi di semua kasus hubungan anak dengan orangtua. Mungkin hanya beberapa, tapi kecenderungannya juga besar.

Mulai dari membantah ucapan orangtuanya, melawan hingga menghardik, itu kerap ditemui katakan saja di tempat perbelanjaan, di kendaraan umum, dan sebagainya. Artinya di ruang terbuka atau di depan publik saja anak berani bersikap demikian, bagaimana jika di rumah?

Pada umumnya, anak seperti itu justru tidak terlihat “melawan” jika di sekolah. Memang kadang suka menjawab saat dinasehati guru sambil sesekali bergurau (gaya anak sekarang). Orangtua pun mengatakan bahwa putera-puterinya lebih menurut kepada guru ketimbang orangtuanya.

Anak usia 16-18 tahun memang masa-masa kritis. Mereka mulai tumbuh (peralihan) mencari identitas diri. Mereka suka mengeksplor pengalaman-pengalaman yang belum pernah mereka lakukan. Mereka juga seperti tidak pernah kehabisan energi. Hal  ini yang harus dipahami betul oleh orangtua.

Pendekatan zaman dulu sudah tidak lagi mempan karena perkembangan zaman  terutama dalam teknologi. Orangtua sudah dianggap tidak lagi sebagai “kebenaran” tunggal di rumah. Anak semakin banyak memiliki referensi sumber untuk “berdebat” dengan orangtuanya. Sementara orangtua tertinggal banyak informasi.

Berbeda dengan dulu, jika orangtua sudah melirik saja, maka anak akan tertunduk tidak berani apa-apa. Didikan orangtua dulu memang dipandang lebih tegas bahkan kadang bisa sangat keras, namun itu dimaklumi oleh masyarakat pada umumnya. Sekarang bagaimana?

Kini, anak akan semakin marah jika dikerasi, begitu pun banyak masyarakat yang juga tidak setuju dengan tindakan keras orangtua kepada anaknya. Pendekatan dengan cara persuasif dari hati ke hati lebih didahulukan, dan anak cenderung lebih bisa menerima ketimbang menggunakan kekerasan.

Selain metode pendekatan, bisa juga karena si anak trauma terhadap tindak kekerasan entah di lingkungan masyarakat ataupun keluarga dimana pelakunya adalah orangtuanya sendiri atau saudara lebih tua. Anak akan merekam dengan cepat kemudian meniru.

Terakhir, pendidikan akhlak dan karakter pada anak usia dini menjadi penting. Jika mereka sudah dikenalkan kepada nilai atau norma sopan santun serta agama, maka insha allah ketika besar mereka sudah terbiasa menerapkannya. Pendidikan karakter yang utama ada di rumah.

Jadi marilah saling introspeksi diri masing-masing. Orangtua jangan terlalu cepat menyalahkan anak apalagi menyalahkan sekolah. Sebaliknya anak sendiri perlu untuk disadarkan dengan cara diajak dialog  ada apa dengannya? Apa yang membuatnya mudah gusar dan bersikap berani kepada orangtua.

Dengan komunikasi dua arah tersebut dan dimediasi oleh guru ataupun sekolah, semoga persoalan sepeeti itu dapat terselesaikan dengan baik. Dengan catatan, di rumah dilanjutkan komunikasi yang baik dan terbuka antara anak dengan orangtua. Jadilah orangtua yang bisa menemani anaknya  bukan hanya menjaganya saja.

Supri Lestari Utami
SMA Muhammadiyah 1 Sleman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here