Perdebatan “Make Great Again vs Kolaborasi” di Era Auto-Koneksi

0
71
Sumber foto: scififantasynetwork.com

“Sendiri kita tidak bisa melakukan hal besar, tapi bersama kita bisa melakukan hal-hal yang kecil”, (Bunda Theresia)

Dalam merespon dunia ekonomi yang tengah mengalami turbulance (mengutip istilahnya Sandiaga) ini, Prabowo mengritik cara pengelolaan negara yang dianggapnya ugal-ugalan terutama dengan menerapkan konsep “ekonomi kebodohan”. Untuk itu ia menyitir kalimat Donald Trump saat kampanye calon presiden yang lalu, Make America Great Again menjadi Make Indonesia Great Again.

Kritik dan keinginan Prabowo agar mengembalikan masa kejayaan Indonesia, dijawab presiden Jokowi melalui ilustrasi Games of Throne (saat pidato di hadapan IMF dan World Bank di Bali 12/10 lalu), “Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar di tengah dunia yang tenggelam”.

Perang dagang memang tengah terjadi. Tidak saja antara Amerika Serikat dengan China, namun berimbas kepada negara berkembang lainnya. Saling sandera, embargo sebagai langkah balas dendam dan demi kemakmuran sendiri. Semua saling mengatasnamakan bangsanya masing-masing, atas nama rakyatnya masing-masing. AS dan China bisa saja menjadi negara adi daya di bidang ekonomi bagi bangsanya. Tapi untuk apa?

Membangun kejayaan bangsa sendiri dengan cara tidak peduli ataupun mengabaikan negara-negara lain, bahkan menganggapnya sebagai musuh (baca: kompetitor). Hanya mengagungkan bangsa sendiri, sementara bangsa lain dianggap lemah dan rendah, adalah cara pandang nasionalisme dari kacamata sempit atau sama dengan Chauvisme.

Italia dan Jerman telah rontok dengan ajaran atau paham seperti itu. Kini Amerika dan China dan mungkin akan diikuti oleh Inggris dan Arab Saudi, ingin kembali pada romantisme kejayaan zaman Romawi dan Nazi di Jerman, meski arena dan tool-nya betbeda. Dulu perang fisik dan penguasaan fisik wilayah, namun kini perang dagang dengan penguasaan pasar.

Ibarat beberapa gelintir keluarga kaya yang saling bersaing memupuk kekayaan untuk keluarga besarnya. Mereka hampir tidak peduli dengan keluarga kelas menengah apalagi kaum miskin. Menganggap tidak perlu berhubungan karena mereka bisa hidup sendiri secara berkecukupan. Jadi buat apa memikirkan orang lain, terpenting keluargaku tercukupi atau tidak merasa kekurangan.

Tanpa disadari oleh mereka yang kaya juga keluarga lainnya yang saling sibuk sendiri, alam lingkungan di sekitar yang selama ini mereka eksploitasi tambang emas maupun hutannya, mulai mengalami kerusakan dan menunjukkan efeknya buruk yakni menimbulkan bencana banjir dan longsor. Mereka saling berteriak “tolong” dan berharap dibantu, tapi sudah terlambat.

Tidak ada uluran tangan siapapun untuk bertahan hidup karena masing-masing sibuk mengamankan harta mereka, atau menyelamatkan diri sendiri. “Make Great Again” adalah romantisme masa perang dunia. Hal ini yang diingatkan Jokowi bahwa di tengah kesibukan antar negara bersaing dalam perang dagang, sesungguhnya ada hal lain yang mengancam yang selama ini tidak diperhatikan, yakni kerusakan alam dan kehancuran bumi akibat perubahan iklim global (bencana dimana-mana).

Di era revolusi industri 4.0 ini, kita sudah tidak mungkin menghindari dari saling keterikatan, keterhubungan, secara otomatis. Diri kita, kehidupan kita sudah terkoneksi satu sama lain. Tidak hanya di dalam negeri tapi dunia. Kita sudah tidak bisa memainkan peran seorang diri lagi. Kita sebagai individu ataupun kita sebagai sebuah bangsa dan negara. Kita tidak mungkin mengabaikan begitu saja bencana yang terjadi di belahan dunia lain.

“Make Great Again” pun ditanya dengan pertanyaan sederhana, “Apakah sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Atau saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kerjasama dan kolaborasi?” Musuh kita bukan lagi bangsa lain atau bangsa luar. Musuh kita adalah rasa serakah dan ingin menguasai segalanya tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, yakni bumi yang kita pijak bersama dan bahkan mungkin warisan untuk anak cucu kita kelak. (Awib)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here