Pelatihan Jurnalistik Digital di Hari Sumpah Pemuda

0
66
Foto: Istimewa

90 tahun sudah peristiwa Sumpah Pemuda yang dihasilkan dari sebuah Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta) tanggal 27-28 Oktober 1928. 17 tahun kemudian “sumpah” yang merupakan simbol kesatuan dan persatuan pemuda dari berbagai daerah tersebut menghasilkan kemerdekaan Indonesia.

Kini, kaum muda era milineal menghadapi tantangan baru untuk mengisi kemerdekaan yang sudah dilaksanakan secara tunai oleh generasi pendahulunya. Kaum muda milenial itu adalah mahasiswa BPPM FEB UGM membekali diri dengan meningkatkan keterampilan mengelola media digital.

Dunia memang tengah mengalami perubahan drastis akibat revolusi industri 4.0 atau kerap diistilahkan era disrupsi. Perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan, kaum muda dituntut untuk segera beradaptasi menghadapi tantangan mengelola teknologi menjadi sesuatu yang produktif, positif dan bermanfaat.

Pelatihan dengan tajuk “Diklat Bersama: Menjadi Jurnalis Melek Digital” ini digelar di Meeting Room, Uniq Hotel, Minggu (28/10) menghadirkan dua pemateri yakni: Bambang Arianto (dosen UNU) dan Agung Wibawanto (praktisi media, wapemred SwaraKampus.com).

Bambang dalam materinya yang berkait dengan teknik membuat dan mengelola infografis mengingatkan bahwa media digital dapat berperan negatif maupun positif, “Sangat bergantung dari niat dan tujuan kita sebagai user. Untuk itu agar lebih berhati-hati dalam mengelolanya,” pesan Bambang.

Zaman kini, menurut Bambang, media digital dijadikan alat paling efektif untuk “berperang”, “Perangnya sekarang lewat perangkat digital. Jadi siapa yang bisa menguasai teknologi digital dialah yang akan menguasai dunia,” timpalnya. Ia pun memberi contoh “perang” pilpres di medsos dan sebagainya.

Sementara itu, Agung Wibawanto menyampaikan materi kepada peserta mahasiswa berkait teknik penulisan hard news. Agung menekankan betapa pentingnya mahasiswa untuk menjaga keintelektualannya dengan menulis yang sesuai dengan kaedah jurnalistik.

“Tugas utama jurnalis adalah merekonstruksi fakta oada sebuah peristiwa untuk ditulis dan disajikan kepada masyarakat pembaca,” tutur Awib, demikian ia sering disapa. Menurutnya lagi, esensi menulis hard news adalah memberikan informasi.

Foto: istimewa

“Namun demikian, sebuah informasi yang akan disampaikan jangan sampai bersumber dari media abal-abal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya,” terangnya. Pesertapun diminta untuk melakukan simulasi menulis hard news dari isu yang diusulkan sendiri oleh peserta.

“Mengerti banyak teori dan teknik menulis namun tidak dipraktikkan ya sama juga bohong. Ini bukan soal baik atau buruk tulisanmu, tapi seberapa berani kamu mulai menulis,” pungkas Awib yang sudah kerap memberi pelatihan penulisan kepada mahasiswa itu. (Adel)

Adel
Mhs Ekonomi UGM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here