Literasi Cerdas dalam Bermedia Sosial

0
114
Sumber foto: kartun Jatimnet

Dewasan ini, isu hoax ramai diperbincangkan di sejumlah media massa dan sosial. Media berperan penting dalam menggiring opini publik, bagaikan seorang wasit memimpin pertandingan sepak bola di rumput hijau. Tidak heran sekarang ini, berbagai media telah melakukan serangan fajar, saling berabalas pantun. Seolah-olah hoax menjadi budaya populer zaman sekarang. Hoax tidak lagi dimaknai sebagi tindakan kejam dan mengerikan, melainkan sebagai perbuatan yang biasa saja, dengan mengalir begitu saja tanpa henti.

Berbicara soal media pasti tidak bisa terlepas dengan komunikasi. Seolah-olah media dan komunikasi sebagai pasangan yang serasi dan romantis, sebagaimana Romeo dan Juliet. Dalam komunikasi, teori jarum suntik (hypodermic needle theory) digunakan oleh media sebagai alat propaganda. Propaganda media untuk mengelabui massa. Tanpa pilihan, publik tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi, karena media telah menembakkan jarum suntiknya ke publik. Sehingga publik tidak memiliki pilihan alternatif untuk menolak pesan yang disampaikan media selain menerimanya (Cangara, 2018: 97). Begitu juga dengan xoax, ujar kebencian, dan cyberbullying suatu fenomena yang tidak bisa di hindarkan. Mau tidak mau harus terbujuk dengan rayuan manisnya. Bagaikan roti yang berisi selai busuk. Begitulah perumpanaan konotasi hoax itu, manis di mulut tapi basi di hati.

Akhir-akhir ini banyak media disalahgunakan sebagai permainan kampanye hitam. Permainan yang tidak sehat oleh para politikus. Sebagai seorang intelektual, mahasiswa dituntut untuk berfikir, berperan aktif dan berkontribusi dalam perlawanan hoax. Para mahasiswa khususnya Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN-SUKA) tidak semestinya  menjadi korban dan produksi hoax. Menurut Cangara (2018: 97), teori kepala batu (obstinate audience) sangat diperlukan bagi para mahasiswa untuk memilah informasi mana yang diperlukan dan mana yang tidak diperlukan.

Menurut Margaret, yang akrab disapa Maggie dalam sebuah diskusi bertajuk “Fake News: How to Know What to Belive,” mengatakan “senjata terbaik untuk melawan hoax ada dalam diri kita sendiri, yaitu otak kita”. Masing-masing individu pasti memiliki naluri yang seringkali memberikan sinyal apabila suatu berita dibuat berdasarkan fakta atau memang sengaja dibuat untuk menimbulkan sensasi. Dia pun menyoroti pentingnya berfikir kritis ketika membaca informasi yang beredar, terutama di media sosial karena di era modern ini, siapapun bisa menjadi produsen informasi tanpa memiliki credibility dan akurasi. Tak hanya itu, kita harus mengetahui  tujuan informasi diberikan, apakah untuk menjual, menghibur atau memecah belah (antaranews.com,  27/10/2018).

Kata hoax dapat dianalogikan sebagai bakteri dan virus yang selalu menyerang manusia. Oleh karena itu, manusia harus sering mengonsumsi vitamin agar tidak terserang bakteri dan virus hoax. Maraknya hoax yang ‘menjamur’ di kampus-kampus  menimbulkan keresahan dan kekhawatiran bagi kalangan mahasiswa. Seringkali informasi yang didapatkan terasa abu-abu dan tabu, sehingga mahasiswa mengalami keambiguan. Seolah-olah mahasiswa sulit membedakan mana hoax atau tidak.

Sering kita mendengan mahasiswa adalah “agent of change,” penggerak perubahan. Maka dari itu peranan mahasiswa sangat dibutuhkan untuk melawan hoax. Tidak sedikit mahasiswa yang geram dengan maraknya penyebaran hoax di media sosial dan internet, seperti Twitter, Facebook, Instagram, whatsApp dan Line dengan membuat ide-de kratif sebagai perlawanan terhadap hoax. Misalnya membuat karya lewat puisi, poster, buletin, blog, workshop atau talkshow seperti  dilakukan seorang mahasiswa UIN dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM UIN-SUKA).

Anisa Eka Nugroho adalah salah satu dari  mahasiswa di lingkungan UIN-SUKA yang melakukan perlawanan hoax dengan menempelkan poster-poster di mading-mading kampus dan juga membagikan lembaran-lembaran poster kepada mahasiswa UIN-SUKA. Dia memperjuangkan kepeduliannya melalui tulisan dalam poster yang berjudul “Black Campaign: Mahasiswa Bersuara.”

Dalam tulisannya Anisa mengatakan,  kampanye hitam merupakan tindakan yang sangat merugikan orang lain. Jika berita tersebut tidak benar maka orang yang merasa dirugikan akan balik melakukan tuduhan   kepada penyebar hoax. Hal ini akan menimbulkan konflik  sehingga dapat terjadinya tindakan yang tidak diinginkan.

Seharusnya informasi yang diperoleh terlebih dahulu diperiksaulang agar berita yang diterima benar-benar fakta, bukan hoax. Apalagi  menjelang Pemilihan Presiden dan Anggota  Legistaltif 2019, rentan terjadi tindakan-tindakan yang provokatif di masyarakat. Kita melihat berbagai informasi saling bertebaran di media masa, internet maupun sosial media tidak memiliki keakuratan data. Jika mahasiswa tidak selektif dalam menerima informasi maka ia akan termakan oleh berita bohong. Oleh karena itu, Anisa melihat fenomena hoax ini sebagai kajian yang kritis untuk disikapi oleh mahasiswa agar terhindar dari hoax, dengan cara menempelkan poster-poster di majalah dinding. (Wawancara dengan Anisa Eka Nugroho, 27 Oktober 2018).

Selain Anisa, para mahasiswa FISHUM UIN-SUKA melaksanakan acara workshop yang berjudul “Ala Resep: Agar Terhindar dari Hoax. Para narasumber mengajak kepada seluruh Civitas Akademik dan Mahasiswa FISHUM UIN-SUKA melawan hoax. Adapun tips-tips yang diberikan  narasumber dalam workshop tersebut ialah bagaimana cara terhindar dari hoax. Di antaranya: pertama, hindari judul yang mengandung unsur provokatif, kedua, periksan fakta, ketiga cek keaslian foto atau video, keempat cermati alamat situs dan asal sumber informasi, kelima: ikuti diskusi grup anti hoax, keenam bijak dalam memposting informasi,

Dari contoh di atas, kita melihat bahwa peranan mahasiswa “Lawan Hoax” sangat nyata, sebagai bentuk kepedulian pada kampus dan generasi milenial tentang bahayanya hoax. Jangan sampai kampus dijadikan sebagai bibit dan sarang hoax. Bila kita ingin terhindar dari hoax maka bijaklah dalam menggunakan media, baik media massa, internet maupun sosial media.

Eko Saputra
Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here