Kasus Ratna Sarumpaet, Perlukah Dikaitkan dengan Isu Politik?

0
97
Sumber foto: Kompas.com

Penggunaan teknologi dan media sosial boleh dikatakan menjadi kebutuhan primer untuk saat ini. Apapun informasi dan berita yang hendak dicari, akan dapat mudah ditemukan dengan adanya teknologi dan media sosial. Apalagi hanya untuk menyebarkan informasi yang sudah ada di tangan masing-masing orang, hanya dengan modal jari jempol informasi yang kita inginkan sudah tersebar luas di dunia maya. Banyak masyarakat yang kurang memahami tata cara menyaring berita untuk kemudian disebarkan, nyatanya di era sekarang sulit untuk membedakan antara berita-berita benar dan berita-berita hoax. Hanya dengan asumsi bahwa berita tersebut perlu disebarkan, maka tersebarlah berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya.

Belakangan ini masyarakat tengah asyik membicarakan kasus yang sudah diduga sebagai berita hoax,  yakni berita tentang penyerangan dan penganiayaan oleh oknum yang tidak dikenal terhadap Ratna Sarumpaet. Seorang aktivis gender dan HAM. Ratna Sarumpaet seringkali membela masyarakat yang kesusahan, juga kerap memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi dalam kasus yang telah terjadi ini, ia kehilangan citra baiknya sebagai pahlawan pembela kebenaran, sekalipun ia telah mengakui kebohongannya. Kasus tersebut ternyata tidak berhenti pada pengakuan berita bohongnya saja, melainkan menyeret banyak masalah, mulai dari beberapa tokoh politisi yang tertuduh ikut serta dalam penyebaran berita hoax, serta tuduhan adanya konspirasi dari Tim Sukses (Timses) Jokowi-Ma’ruf bahwa Jokowi memiliki preman-preman untuk menyerang pihak lawan, hingga merambat pada rencana pembatalan calon presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto.

Kejadian tersebut memanggil Farhat Abbas, seorang pengacara yang kerap mengatasi masalah-masalah para selebriti, untuk membuat laporan pidana terhadap 17 orang tokoh politisi yang menurutnya ikut serta menyebarkan berita hoax. Di antaranya ada Prabowo Subianto dan Amien Rais. Laporan Farhat Abbas beralasan ada pihak yang dirugikan, yaitu Timses Jokowi-Ma’ruf, bahkan Jokowi pribadi mendapat kerugian. Sudah tidak heran dengan perbuatan Farhat Abbas yang demikian, karena memang terkenal dengan pernyataan-pernyataannya yang kontroversial.

Lain halnya dengan Fahri Hamzah, wakil ketua DPR RI II, menyatakan dengan lantang bahwa kasus Ratna Sarumpaet seharusnya berhenti pada dirinya sendiri setelah pengakuan kebohongannya, bukannya malah merambat ke ranah politik. Karena adanya kecurigaan akan memunculkan masalah-masalah baru, yang seharusnya tidak perlu dibahas sama sekali. Ketika kebaikan-kebaikan yang terlintas dalam pikiran, maka pemikiran yang dihasilkan akan baik juga. Tidak ada kecurigaan yang akan muncul, seperti yang penulis paparkan sebelum ini.

Penulis membenarkan apa yang dikatakan oleh Fahri Hamzah terkait tidak pentingnya kasus yang berbuntut panjang, karena hal tersebut hanya akan menghabiskan tenaga dan pikiran. Padahal pemilihan presiden hanya tinggal sebentar lagi, yang lebih memerlukan perhatian ketimbang kasus Ratna Sarumpaet yang sudah menjadi kasus publik. Secara manusiawi, dapat dipahami bahwa yang menjadi korban atas kasus ini adalah Ratna Sarumpaet sendiri, ia sudah cukup menanggung malu untuk kebohongannya. Tidak perlu ada korban-korban lain yang ikut terseret, karena kasus tersebut pasti akan semakin rumit. Maka alangkah baiknya apabila kasus ini tidak dibawa ke ranah politik.

Konsep politik dasar yang dikemukakan oleh Aristoteles yaitu konsep klasik, bahwa politik adalah kendaraan yang digunakan masyarakat untuk kepentingan mayoritas, dengan segala kebenaran-kebenaran yang harus dibenarkan bagaimanapun caranya. Dari kasus Ratna Sarumpaet, bahkan dari kasus-kasus sebelumnya dapat dilihat bahwa apapun yang dilakukan oleh pihak lawan, akan selalu salah dalam pandangan lawan lainnya. Pasti akan ada argumen yang dapat mematahkan fakta-fakta yang diberitakan, untuk justifikasi terhadap apa yang hendak mereka benarkan. Berita-berita yang ada akan menjadi perdebatan yang panjang, karena berita tersebut akan dilihat dari banyak sisi.

Salwa Sofia Wirdiyana

Mahasiswi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here