Lunturnya Bahasa Daerah di Kalangan Milenial

0
305
Sumber foto: dailygenius.com

Kelahiran era digital menjadi titik awal perubahan besar dalam sejarah berkomunikasi. Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat,  upaya melestarikan warisan nenek moyang kita mulai ditinggalkan oleh kaum muda.  Salah satunya adalah bahasa daerah. Bahasa  bagaikan kendaraan ekspresi atau pertukaran pikiran-pikiran, konsep, pengetahuan, dan informasi, juga sebagai penyesuaian pengalihan pengalaman.

Dengan definisi ini didasari proses-proses pengertian, dan menjadi subyek faktor-faktor bermasyarakat dan juga menjadi subyek perubahan historis dan perkembangan, bahasa menunjukkan bentuk ekspresi tertentu yang dikhususkan untuk manusia, ia berbeda dengan bahasa-bahasa yang lain seperti bentuk komunikasi antara binatang-binatang, bahasa-bahasa buatan dan bahkan bahasa alay (Hundumod Bussmann:627)

Selain itu, perubahan dunia menuntut kita untuk bisa bertahan dalam setiap persaingan yang mengharuskan memiliki kemampuan beradaptasi dan bisa mengikuti disrupsi yang terjadi saat ini. Dewasa ini kita terjabak pada budaya gaya life style western yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Mulai dari makanan, bahasa, etika, dan lain sebagainya. Apabila tidak ada yang sadar untuk mencintai dan mempertahankan bahasa daerah, maka besar kemungkinan bahasa daerah perlahan-lahan akan punah dengan sendirinya.

Tidak sedikit dari kalangan milenial perkotaanbahakan disudut-sudut pedesaan  belum mengenal seutuhnya bahasa Daerah. Para orangtua juga juga mengalamai kesulitan dalam mengajarkan bahasa krama/bahkan bahasa daerahpun juga mengalami kesulitan dalam mengajarkan bahasa daerah kepada putra-putrinya. tidak dipungkiri di perdesaan saat ini para orangtua mengajarlkan kepada anak-anaknya dengan berbangga hati bukan dengan bahasa daerah.

Dalam rangka menyikapi hal tersebut, upaya untuk mempertahankan bahasa daerah harus digalakkan dengan melibatkan peran para guru dan orangtua sebaiknya saling berkolaborasi dan mencari strategi agar  bahasa daerah tetap bisa dipertahankan dan terjaga.

Kepunahan bahasa daerah  itu bukanlah fenomena remeh temeh, bukanlah sekedar cerminan bahwa sekelompok orang dalam  masyarakat berganti cara komunikasi. Tidak hanya itu,  Bahasa juga terkait dengan sistem pengetahuan sebuah masyarakat. Dengan bahasa, sebuah masyarakat merumuskan, mewariskan dan mengembangkan pengetahuan. Oleh karena itu bahasa selalu terkait dengan sejarah kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa. Hal ini berimplikasi bahwa mempertahankan bahasa daerah berarti mempertahankan jati diri bangsa Indonesia itu sendiri.

Naimatus Tsaniyah

Mhs Pendidikan Bahasa Arab
Universitas Islam Negeri Yogyakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here