Pemilih Pemula Melukis Media

0
81
Foto: scimexico.com

Melihat pemberitaan media akhir-akhir ini, membuat sebagian besar warga masyarakat semakin gemas terhadap aktor politik Indonesia. Pasalnya waktu kampanye bagi kedua calon presiden tahun 2019 telah dimulai. Banyak usaha dilakukan oleh keduanya untuk mendapatkan dukungan suara tahun depan melalui media. Sebagaimana telah kita dengar, salah satu kasus yang masih hangat yaitu penganiayaan yang menimpa Ratna Sarumpaet. Meskipun aa telah ditindaklanjuti pihak berwenang, namun masih menyisakan pertarungan di antara kedua kubu tim sukses calon presiden 2019.

Banyak penafsiran yang muncul atas masalah tersebut, seperti ajang saling merebut bola dengan cara sliding tackle dalam aksi bintang Tsubatsa terhadap lawannya. Jika Tsubatsa berusaha merebut bola di lapangan rumput, politik Indonesia adalah merebutkan citra di lapangan media massa. Penciptaan citra baik saja belum cukup, oleh karena itu perlu menciptakan alternatif lain semacam membuat citra buruk kubu lawan hingga kepercayaan masyarakat sulit didapat lagi. Sejumlah aktor politik yang memiliki kapasitas pun telah terlibat pembuatan hoaks baik secara langsung maupun tidak langsung. Di sini masyarakat semakin sulit menemukan sosok yang bisa dipercaya.

Mendesain Lapangan Perang Media

Apa yang terjadi saat ini semakin membenarkan bahwa politik dan media tidak bisa terlepas satu dengan yang lain. Media sangat dibutuhkan untuk mendukung berlangsungnya  kehidupan politik. Politikus akan menyampaikan pesan atau informasi dari berbagai bidang kepada warga negara melalui media atas kepentingan bersama. Sebagaimana dikatakan oleh Jovito R. Salonga, ‘Media and politics can be the best of friends or the worst of enemies’ (Cangara, 2018).

Agar dapat bersikap bijak dan antisipasi terhadap hoaks, maka sebagai warga negara ‘keren’ perlu mengetahui bagaimana sifat media. Perlu kita ketahui bahwa media tidak selamanya berjalan secara alamiah. Sebagaimana dalam permainan catur, media telah menjadi lahan bermain politik. Maksudnya, lapangan berita media telah didesain sedemikian untuk memenuhi tujuan dan kepentingan tertentu. Kebetulan saya sedang mempelajari ilmu komunikasi politik. Oleh karena itu saya ingin mengungkapkan bagaimana lapangan media didesain oleh aktor tinggi dan bagaimana posisi masyarakat di dalamnya.

Apabila menyimak Cangara (2018), aktor politik setidaknya dapat memanfaatkan tiga teori media. Pertama, Hypodermic Needle Theory atau bisa disebut dengan Teori Jarum Suntik atau Teori Peluru. Penerapan teori ini dapat kita lihat pada Perang Dunia I. Media cetak dan Radio digunakan sebagai alat propaganda. Jika informasi telah ditembakkan secara luas dan besar-besaran maka masyarakat tidak bisa melihat sisi lain dari apa yang sebenarnya terjadi, sehingga mau tidak mau mereka membenarkan informasi tersebut.

Kedua, Cultivation Theory atau Teori Penanaman. Teori ini menunjukkan kehebatan media dalam menanamkan suatu nilai atau ideologi tertentu ke dalam jiwa penonton yang selanjutnya akan membentuk suatu perilaku di kehidupan nyata. Ada stasiun televisi yang menampilkan beberapa acara. Secara tidak langsung acara-acara tersebut saling berkaitan dalam rangka menyebarkan ideologi tertentu. Ketiga, Agenda Setting Theory atau Teori Agenda Setting. Teori ini sangat bermanfaat untuk aktor politik. Jika media secara khusus menampilkan isu-isu tertentu secara terus menerus maka akan mempengaruhi pilihan penonton. Dalam hal ini, jika media menampilkan citra-citra baik calon pemimpin maka hasil pemilihan penonton pun akan menunjukkan korelasi antara keduanya.

Sedangkan bagi masyarakat atau penonton terdapat dua teori yang memihak, Obsinate Audience dan Spiral of Silence Theory. Dalam Obsinate Audience, psikologi audiens sangat berperan penting. Mereka dapat menyaring informasi yang beredar. Dengan teori ini audiens dapat melawan teori peluru tadi. Audiens berhak untuk memilah informasi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Sedangkan Spiral of Silence Theory semacam opini publik yang tersembunyi, tidak nampak di permukaan. Teori ini cukup sukses untuk menghasilkan bom waktu sebagai perlawanan terhadap pihak tertentu. Di Indonesia teori ini telah dipraktikkan untuk menjatuhkan Orde Baru.

Di antara keduanya ada teori yang oposisi yaitu Uses and Gratifiction Theory atau Teori Kegunaan dan Kepuasan. Teori ini bergantung kepada siapa yang memanfaatkannya. Pihak aktor maupun audiens dapat menggunakan media untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Misalnya calon pemimpin ingin melihat informasi mengenai keadaan masyarakart yang akan menjadi sasarannya. Begitu juga audiens dapat memilih informasi apa yang hendak mereka pelajari. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa media sangat dekat dengan kehidupan politik. Sayangnya masyarakat secara umum banyak yang tidak melihat proses pembentukan desain ini. Akibatnya mereka tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dibalik penampilan dan tayangan media.

Pemilih Pemula dan Pilpres 2019

Saat ini, pihak yang paling dekat dengan media adalah kaum muda, terutama mereka yang tahun depan terdaftar sebagai pemilih pemula. Sebagai pemilih pemula perlu mengetahui banyak informasi mengenai calon yang akan dipilih dan apa yang sebenarnya terjadi di balik berita media. Pemilih pemula juga sangat mungkin untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses menuju hajatan negara tahun depan. Namun sangat disayangkan apabila mereka hanya sebatas kritis nyinyir atau tidak memiliki dasar kebenaran data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Media memiliki agenda tertentu dan tujuan pasti. Oleh karena itu media tidak dapat dilawan hanya dengan mengunggah komentar di media sosial, apalagi hanya dengan like dan share. Untuk menjadi kritis memang tidak bisa instan, seperti Indomie. Kaum muda perlu bangun dari tidur panjangnya di atas buku. Buku tidak memerlukan impian masa depan, justru kita sebagai kaum muda dan terpelajar yang seharusnya merasa perlu mengatahui berbagai informasi dari berbagai background keilmuwan sebelum mengkritisi isu di media. Mulai dari sekarang pemilih pemula perlu membangun citra diri sebagai kaum terpelajar dengan menampilkan data dan informasi dari sumber-sumber terpercaya. Sebelum melayangkan komentar, berpikirlah seratus kali dan baca kembali lima puluh kali. Jangan sampai komentar tersebut  justru balik menjadi senjata untuk mencemooh diri. Menjadi kritis tidak sebercanda itu kawan!

 

Oleh Kirana Nur Lyansari

Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here