Berita Hoax Memecah Belah Masyarakat

0
98
Sumber foto: fortune.com

Di tengah maraknya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan permasalahan baru, berkembangnya penyebaran informasi dan pesan-pesan bohong (hoax). Berbagai masalah hoax tidak hanya masuk dalam ruang lingkup politik, seperti pertarungan dalam pemilu, demokrasi, ekonomi dan lain-lain. Namun, informasi dan pesan-pesan bohong (hoax) juga telah masuk dalam ranah agama. Mungkin di antara kita pernah mendapatkan berita maupun informasi dari berbagai media sosial dengan content kebohongan, yang menyuruh untuk membagikan pesan dengan imbalan surga. Namun, apabila kita mengabaikan pesan tersebut maka akan mendapatkan kesulitan. Peran agama yang sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta dan menjunjung tinggi nilai kebenaran (Waid, 2017).

Pesan- pesan dan berita hoax telah menjadi konsumsi publik dan dipertukarkan oleh masyarakat melalui dunia maya. Pertukaran informasi hoax ini telah sampai pada situasi yang mengkhawatirkan, bahkan berpotensi menurunkan nilai-nilai kemanusiaan serta memecah belah masyarakat. Korban dari berita hoax ini ada pada bermacam-macam kalangan, mulai dari rakyat biasa hingga pesohor tanah air, para artis, aktor politik dan bahkan pemimpin negeri sekalipun.

Di era generasi milenial ini, media sosial menjadi alat dan sarana penebar kebohongan dan informasi hoax. Sehingga masyarakat menjadi sasaran empuk untuk pertukaran informasi hoax. Tanpa mencari dengan teliti kebenaran suatu informasi. Hal inilah yang menjadi penyebab menyebarnya informasi hoax dengan cepat melalui media sosial. Kebenaran suatu informasi tidak lagi menjadi hal penting bagi pelaku hoax demi memenuhi kepuasaan dan hasrat duniawi tanpa memikirkan effect buruk yang ditimbulkan.

Pada hakikatnya fungsi dari media sosial bukan untuk memecah belah masyarakat, akan tetapi menjadi sarana untuk menjalin hubungan dengan masyarakat luas dengan saling bertukar informasi. Di satu sisi media dapat mempersatukan masyarakat, di sisi lain media memecah belah masyarakat dengan informasi dan isu-isu hoax. Bahkan dapat memicu perpecahan masyarakat di dunia nyata.

Ada beberapa teori yang dapat menjadi acuan untuk melihat keperkasaan media maupun kelemahannya dalam mempersuasi masyarakan serta korelasi dengan aktivitas politik yaitu, teori jarum suntik. Teori jarum suntik berpendapat bahwa khalayak maupun masyarakat sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak suatu informasi setelah ditembakkan melalui media komunikasi. Masyarakat terlena seperti kemasukan obat bius melalui jarum suntik, sehingga tanpa sadar akan pentingnya kebenaran suatu informasi (Cangara, 2016).

Media ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi media sosial mempersatukan masyarakat, di satu sisi lagi media sosial dapat memecah belah masyarakat. Media sosial sangat mampu mempengaruhi dengan cepat opini masyarakat terhadap suatu informasi. Tanpa mencari tahu kebenaran suatu informasi, pengakses justru dengan mudah membagikan (sharing) berbagai informasi yang mereka dapatkan tanpa perlu pusing mencari tahu kebenaran suatu informasi. Majunya teknologi dan perkembangan knowledge tidak membuat manusia semakin bijaksana dan menjunjung tinggi nilai kebenaran. Sebaliknya, kemajuan teknologi berkorelasi dengan kemunduran nilai-nilai humanisme seperti kemunduran moral dan etika. Sehingga kebenaran menjadi barang langka dalam kehidupan manusia.

Krisis kebenaran juga lebih banyak terjadi dalam relasinya dengan politik. Sebagai makhluk politik (zoon politicon) manusia cenderung memercayai informasi yang sesuai kepentingan mereka. Dalam dunia demokrasi, perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat merupakan fitrah yang tidak mungkin untuk dihindari.

Informasi hoax telah menjadi musuh bersama (public enemy) bagi masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, moral dan etika. Sehingga, dibutuhkan tindakan serius antar masyarakat dan pemerintah untuk melawan penyebaran berbagai informasi hoax di media sosial. Akan tetapi, peran tindakan dan pencegahan hoax ini tidak sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Karena mengingat akses pengguna media sosial bersifat personal.

Hal yang penting adalah peran serta masyarakat. Akses media sosial bersifat sangat personal. Media sosial dimiliki oleh setiap individu masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat mempunyai tanggung jawab dan peran penting dalam membantu pemerintah menanggulangi peredaran informasi hoax. Untuk itu, masyarakat harus bijak dalam mengakses dan menerima informasi dari berbagai media dengan mementingkan kebenaran sumber suatu informasi.

Oleh Siti Mupida

Konsentrasi Kajian Komunikasi Masyarakat Islam
Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here