Jamasan Pusaka Negara oleh Gerakan Rakyat Cinta Pancasila

0
57
Foto: SwaraKampus.com/BAS

Bertempat di pendapa Tamansiswa, sekelompok warga yang menyebut diri sebagai Gerakan Rakyat Cinta Pancasila (GRCP) selenggarakan Jamasan Pusaka Negara, Senin (01/10). Dalam upacara ritual yang digelar secara khidmat ini terlihat hadir perwakilan dari Forkopimda DI Yogyakarta beserta segenap warga masyarakat.

Foto: SwaraKampus.com/BAS

Ketua Presidium GRCP Drs Katin Subyantoro menyampaikan bahwa, “Gerakan yang lahir 1 Juni 2017 ini guna menjawab kebutuhan “perekat sosial” atas kondisi Bangsa Indonesia yang terus menerus diuji kesatuannya sebagai modal mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang terumuskan dalam pembukaan UUD 1945.”

GRCP telah selalu mengambil bagian dalam proses pembaharuan tata kehidupan berbangsa-bernegara, antara lain, pada 1 Juni 2017 memberi dukungan sosiologis pada Presiden dan Kapolri saat akan membubarkan HTI sebagai perongrong ideologi bangsa dengan menakar kecintaan rakyat terhadap Pancasila, dihadiri sekitar 26.000 warga Bangsa Indonesia yang berkumpul di Kagungan Dalem Pagilaran Kraton Yogyakarta dengan mendengarkan orasi budaya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Memberi dukungan landasan moral kepada FORKOPIMDA Bantul dan jajaran TNI POLRI untuk bertindak tegas  saat Yogyakarta dibombardir tindakan intoleran. Menghadirkan suasana sejuk di titik nol km Yogyakarta saat 1 Juni 2018 akan dijadikan ajang untuk memuncaki ujaran dan tindakan kebencian serta membenturkan antar warga masyarakat melalui unjuk kekuatan, GRCP menyelenggarakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Demikian Katin Subyantoro menambahkan.

Diawali dengan lantunan kidung Jatimulyo, prosesi Jamasan Pusaka Negara dihantar dengan tarian meditatif Beksan Santi Mulya yang dibawakan oleh Sekar Kinanthi, S.Sn. Selanjutnya dengan dinarasikan maksud dan tujuan acara dan dilaksanakan proses jamasan berupa jamas simbolik dengan cairan air kelapa hijau yang telah dicampur dengan abu sekam beras hitam yang didatangkan secara khusus dari Pati Jawa Tengah untuk upacara tersebut. Jamasan yang dihadiri lebih dari seratus hadirin ini diakhiri dengan bujana nasi tumpeng secara bersama-sama.

Sedangkan koordinator pelaksana kegiatan Sukabiwata menyampaikan, “pada tahun politik ini GRCP, untuk disatu sisi memberi penguatan kepada KPU sebagai penyelenggara pesta demokrasi 17 April 2019 yang merupakan penyangga kehidupan berbangsa-bernegara, dan disisi lain mengajak seluruh warga bangsa untuk menjadi pemilih yang berdaulat agar Negara Kesaturan Republik Indonesia yang kita cintai menjadi kuat.”

GRCP menyelenggarakan Jamasan Pusaka Negara dimaksudkan untuk mengawal Pancasila agar tetap menjadi dasar dan ideologi negara Kesatuan Republik Indonesia. Khususnya untuk menghadapi tantangan tahun politik yang rawan dengan disorientasi sosial, budaya, politik, dan agama. Selain juga serbuan pandangan serta gaya hidup dalam aspek-aspek kehidupan yang mengalami globalisasi sehingga mengalami kian tergerusnya nilai-nilai positif yang terkandung dalam Pancasila.

Foto: SwaraKampus.com/BAS

Pendapa Agung Tamansiswa dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Jamasan Pusaka Negara untuk mengangkat kembali semangat dari ajaran Ki Hajar Dewantara mengenai karakter manusia Indonesia yang memiliki Cipta, Rasa, Budi, Karsa. Kredo kemuliaan Manusia Indonesia ini dirumuskan dengan indah dalam Gending Santi Mulya oleh Ki Nartosabda. Pendarasan syair Santi Mulya yang telah divisualkan dalam tarian meditatif, sebagai harapan supaya segala sesuatu yang menjadi problematika bangsa terlebih dalam tahun politik ini bisa diselesaikan dalam bingkai budaya Indonesia.

Wulan

alumni sekolah vokasi UGM

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here